
Sementara itu, Ajeng dan Abian sudah memegang rekaman CCTV yang mereka dapatkan dari seorang satpam yang berada tak jauh dari lokasi kejadian.
Ya mereka bertanya terlebih dahulu apakah disana dipasang CCTV atau tidak dan satpam itu pun bilang ada. Lantas keduanya memohon untuk diperlihatkan, sekaligus alasan kenapa ingin melihatnya.
Meski tidak begitu terang karena hari sudah malam, tapi masih dilihat disana Hasna bersama sang sopir membantu Abian yang tengah pingsan untuk dibawa kedalam mobil miliknya sendiri. Meski setelah itu tidak tau apa yang Hasna lakukan didalam mobil.
Malam harinya. Mereka pun kini sudah berada di kediaman mendiang sang ayah. Menunggu kedatangan Hasna. Sambil duduk di ruang keluarga.
"Mas, apa ini akan berhasil?" tanya Ajeng sedikit cemas.
"Berdo'a saja sayang, semoga semuanya sesuai keinginan kita." jawab Abian sambil memeluknya erat.
"Tapi aku cemas, aku takut ... Kalau kamu yang akan menikah dengan dia." keluh Ajeng.
"Itu tak akan mungkin terjadi, percayalah sama suamimu ini." kata Abian mengecup puncak kepalanya.
Kemudian pintu depan pun terdengar di ketuk. Keduanya melerai pelukannya dan saling menoleh lalu menganggukkan kepalanya. Setelah itu mereka bangkit dari duduk dan melangkah ke ruang tamu lalu Ajeng lah yang membukakan pintu sementara Abian memilih duduk.
Terlihat Hasna sedang berdiri membelakanginya lalu Hasna pun memutar badannya.
Seketika Hasna terisak lalu menghambur memeluk perempuan yang kata dia sendiri sudah bukan sahabatnya lagi. Ia lakukan itu, semua demi misinya.
"Hasna, kamu kenapa?" tanya Ajeng panik. Padahal ia pun pura-pura.
Sementara Abian yang sedang menatap mereka pun menahan tawa. Karena tau keduanya tengah sama-sama berakting.
Abian bangkit dari duduknya lalu melangkah mendekati mereka kemudian melepaskan tangan Hasna pada tubuh istrinya.
"Lepasin! Jangan sekali-kali kamu menyentuh istriku." sentak Abian. Membuat Hasna menatapnya.
"Aku dilarang menyentuhnya, sementara kamu pun sudah menyentuhku?" bentak Hasna menatap tajam.
"Ap... Apa? Mas Abian sudah menyentuh kamu?" Ajeng sangat terkejut. Dan lagi ia pun harus kembali berpura-pura.
"Ya, suami kamu telah menyentuhku Ajeng." kata Hasna. Lalu tangisan pun kembali terdengar, tubuhnya berguncang. Benar-benar Hasna pintar dalam berakting.
"Bohong! Itu bohong." teriak Abian menatap nyalang.
"Bohong kamu bilang? Untuk apa aku datang kesini kalau hanya untuk berbicara kebohongan?" teriak Hasna dengan suara yang tak kalah tinggi sambil mendorong dada Abian hingga membuat Abian sedikit limbung.
"Mas, ada apa ini sebenarnya?" tanya Ajeng meminta penjelasan suaminya.
"Malam itu ... Kamu sangat menikmatinya Abian. Kamu telah merenggutnya secara paksa." kembali Hasna berteriak.
"Mas." lirih Ajeng menatap nanar pada suaminya.
"Ini semua tidak benar sayang, dia bohong." kata Abian.
"Lagi-lagi kamu bilang aku bohong? Lalu apa ini?" kata Hasna sambil memperlihatkan foto ditangannya. Membuat Ajeng menoleh.
"Foto apa itu?" tanya Ajeng.
"Ini adalah foto kita berdua Ajeng." kata Hasna sambil memejamkan mata. Kemudian Ajeng merebut foto itu dan menatapnya.
"Apa kamu kurang bukti?" kemudian Hasna mengambil lagi foto yang lainnya. "Ini." katanya sambil menyerahkan foto yang lainnya pada Ajeng.
Diraihnya foto itu oleh Ajeng. Seketika ia pun terisak sambil menatap foto tersebut.
"Apa ini Mas? Kamu selingkuh dibelakang aku?" teriak Ajeng menatap suaminya. Dengan meremas kuat foto-foto yang ada ditangannya.
__ADS_1
"Tidak sayang. Tolong kamu percaya sama aku. Itu pasti hanya editan. Kamu tau kan? Jaman sekarang elektronik semakin canggih." elak Abian.
"Kalau itu editan? Lalu apa ini?" tanya Hasna sambil memperlihatkan kancing kemeja milik Abian yang ia ambil paksa saat malam itu.
"Mas, kamu tega." teriak Ajeng dengan isak tangis yang memilukan.
"Kamu pintar sekali berakting sayang! Sungguh aku yang melihatnya pun seperti tengah menangis sungguhan."
"Sekarang aku tanya? Darimana kamu dapatkan foto- foto itu? Itu kamu sendiri kan, yang mengambilnya?" tantang Abian. Dan benar! Pertanyaan tersebut membuat Hasna sedikit gelagapan, tapi ia masih berusaha kalau dirinya memang korban.
Ajeng yang melihatnya pun semakin percaya kalau Hasna telah melakukan kebohongan besar.
"Ya, itu aku sendiri yang mengambilnya. Bukankah kamu yang suruh?" kata Hasna.
"Mas." lirih Ajeng sambil menggelengkan kepalanya.
"Sayang! Tolong kamu percaya sama aku." kata Abian.
Ajeng terus menangis tersedu dihadapan keduanya. Abian mendekat dan hendak merangkulnya, namun ditepis. Hal itu membuat Hasna menarik satu sudut bibirnya kesamping.
"Jangan sentuh aku lagi." teriak Ajeng menatap tajam.
"Maafin aku Mas, memang ini kan? Yang harus kita lakukan."
"Sekarang, pilihan ada ditangan kamu Abian. Mau bertanggungjawab atau ... Mencampakkan aku? Sementara akupun takut mengandung anak kamu." tekan Hasna.
"Diam kamu! Keluar kamu dari sini perempuan licik." teriak Abian.
"Kamu tega Mas, kamu tega." teriak Ajeng kemudian berlari ke belakang dan Abian pun menyusulnya, sementara Hasna masih diam mematung.
Suami istri itu kini berpindah ke ruang keluarga. Kemudian tertawa tanpa bersuara. Tapi itu belum usai, keduanya harus kembali berakting.
"Tidak sayang. Itu tidak benar! Tolong kamu percaya sama aku." kembali Abian mengelak.
"Foto-foto itu sudah jelas Mas, mau mengelak bagaimana lagi." isak Ajeng.
Kemudian pertengkaranpun terjadi diantara pasangan suami istri itu. Ajeng yang masih tidak terima diselingkuhi dan Abian yang terus menyangkal kalau semua itu hanyalah rekayasa.
"Baiklah, kalau kamu tetap tak mau percaya sama aku, aku akan bertanggungjawab untuk menikahi Hasna. Itu kan, yang kamu mau? Hah?" tantang Abian. Sambil menangkup kedua pipi Ajeng lalu mngecup sekilas bibir itu. Beruntung Hasna tidak mendekati mereka.
Lalu Abian kembali melangkah ke ruang tamu, dan ...
Plakk
Satu tamparan cukup keras ia layangkan pada Hasna.
"Keluar kamu dari sini, ini semua gara-gara kamu." teriak Abian dengan napas menggebu.
"Tapi, apa yang kamu katakan tadi itu benar kan? Kalau kamu mau bertanggungjawab?" tanya Hasna sambil memegangi pipinya yang terasa sakit akibat tamparan tadi.
Abian menoleh ke belakang menatap sang istri yang melihat mereka dari kejauhan. "Ya, dan katakan pada orangtua kamu, aku akan menikahimu." ujar Abian namun pandangannya tak beralih dan terus menatap sang istri.
Hati Hasna sangatlah bahagia mendengar hal itu.
"Sekarang kamu pulanglah." titah Abian menoleh pada Hasna dan sudah tidak semarah tadi.
"Baiklah! Dan aku ucapkan terimakasih banyak. Permisi" pamit Hasna. Kemudian ia pun keluar dari rumah dan langsung naik kedalam mobil.
"Ahhh akhirnya perjuanganku gak sia-sia." gumam Hasna tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
"Dan Ajeng. Sebentar lagi aku akan menjadi adik madumu." katanya terkekeh.
Lalu Hasna pun pulang dengan terus menyunggingkan senyuman.
Sementara didalam rumah. Ajeng dan Abian berpelukan.
"Aktingmu sangat bagus sayang. Sampai-sampai aku tak bisa membedakannya, apalagi saat melihatmu menangis." puji sang suami.
"Aktingmu juga bagus Mas, aku bahkan sempat takut tadi saat kita bertengkar." kekeh Ajeng.
"Ayo kita ke kamar. " ajak sang suami.
"Ngapain?" tanya Ajeng menyipitkan mata.
"Aku mau ngeluarin hormon setres, aku stres lihat dia." kata Abian membuat Ajeng terkekeh.
"Gak pulang dulu?" tawar Ajeng.
"Nggak! Nanti beda lagi kalau sudah pulang takut balik ke off. Dan bilang sama sus Rini, malam ini kita nginep disini." titah Abian.
"Baiklah." kekeh Ajeng sambil menggelengkan kepala.
Lalu mereka pun masuk kedalam kamar, untuk menuntaskan apa yang suaminya inginkan, meski Ajeng juga tak mau munafik karena ia pun menginginkannya juga.
***
Hasna pun tiba dikediamannya.
"Darimana saja kamu Na?" tanya Luthfan yang dari tadi menunggunya di teras.
"Kamu lagi! Bukan urusanmu." timpal Hasna melangkah masuk dan di ikuit oleh Luthfan.
"Na, aku khawatir sama kandungan kamu. Tolong mulai sekarang untuk jangan keluar malam-malam." titah Luthfan.
"Kamu gak usah khawatirkan aku lagi Luthfan, apalagi ingin menikahiku. Karena sebentar lagi aku akan menikah dengan orang yang aku tunggu-tunggu dari dulu." kata Hasna mengulas senyum.
"Maksud kamu? Abian?" tanya Luthfan yang sudah menduganya kalau Hasna habis dari rumah mereka.
"Tepat sekali! Ternyata perjuanganku gak sia-sia." kekeh Hasna.
"Aku yakin, kamu pasti melakukan sesuatu sehingga Abian mau saja menikahimu." ujar Luthfan pura-pura tak tau.
"Itu tidak penting lagi! Yang terpenting keinginanku tercapai, aku bisa menikah dengannya." Hasna terus menyunggingkan senyuman.
"Terimakasih banyak, Ajeng, Abian. Berkat kalian berdua, akhirnya aku bisa menikahi Hasna nantinya. Karena aku gak mau anak itu lahir tanpa seorang ayah kandung. Semoga nantinya cinta pun hadir diantara kami. Seperti rasa cinta kalian berdua yang begitu kuat dan kokoh meski cobaan datang menghampiri."
Dan kata-kata tersebut, Luthfan kirimkan juga pada Abian melalui chat pribadi.
"Eh, ada chat dari Luthfan nih! Dia mengucapkan banyak terimakasih untuk kita. Pasti dia sekarang ada dirumah Hasna." ucap Abian ketika selesai melakukan ritual hubungan suami istri.
"Syukurlah, setidaknya kita bisa menolongnya." ucap Ajeng sekenanya karena ngantuk berat.
"Kamu bahagia sekali kelihatannya karena bisa menolongnya. Kamu kasihan sama Luthfan?" kata Abian.
"Ehh, kok tanya gitu sih? Kamu cemburu? Perasaan aku biasa aja deh Mas ngomongnya, lagian sudah buat aku lemas begini masih saja dicemburuin. Lihat! Tubuhku juga banyak bercak merah karena ulah kamu." keluh Ajeng membuat suaminya terkekeh.
"Iya maaf sayang. Aku kan memang pencemburu seperti yang kamu bilang waktu itu sama Haris."
"Tuuhh kan mulai lagi." Ajeng terus merapatkan matanya, lalu tertidur.
__ADS_1
"Maafkan aku sayang. Aku memang sempat cemburu tadi. Jangan pernah tinggalin aku, aku bisa gila tanpamu." bisik Abian menatap wajah sang istri sambil membelai pipinya.