
Ajeng dan Retno keluar dari rumah itu. Lalu melangkah menuju gerbang rumah. Keduanya pun keluar.
Lantas Qeera membuka kaca mobilnya dan memanggil sang Nenek.
Sengaja Ajeng tak mengajak putrinya untuk masuk. Karena ia tak ingin, putrinya bertemu dengan Fiona. Maka Qeera suruh tetap menunggunya didalam mobil.
"Nenek." panggil anak itu sambil melambaikan tangannya, Retno pun menoleh. "Qeera." kata Retno tersenyum melihat cucunya.
"Jadi, kamu kesini sama cucu ibu?" tanya Retno menoleh pada Ajeng sambil keduanya berjalan beriringan menuju mobil yang ditumpangi anak itu.
"Iya, aku kesini ingin mengajak ibu untuk menjenguk Mas Yudha." jawab Ajeng membuat Retno menaikkan kedua alisnya.
"Kamu serius? Ingin menjenguk Yudha?" tanya Retno dengan mengulum senyum.
"Sebenarnya Qeera yang merengek ingin bertemu ayahnya, dia sendiri tidak tau jika ayahnya tengah di penjara. Karena aku sengaja gak kasih tau." papar Ajeng.
Retno menganggukkan kepalanya lalu tersenyum. Kemudian mereka berdua masuk kedalam mobil milik Ajeng.
Ajeng pun mengemudikan mobilnya menuju kantor polisi.
Selama perjalanan. Retno dan Qeera saling bercengkrama yang sesekali bercanda. Hingga tak terasa akhirnya tiba di kantor polisi. Membuat Qeera kebingungan.
"Bunda, kita kok kesini? Aku kan mau ketemu ayah." tanyanya sambil menatap sang ibunda.
"Kita turun aja dulu ya? Lalu kita masuk." titah Ajeng yang dibalas anggukkan oleh putrinya.
Ketiganya pun turun. Lalu masuk dan langsung meminta ijin pada polisi yang berjaga, bahwa kedatangan mereka ingin menjenguk orang yang bernama Yudha Mahardika.
Polisi itu pun langsung melangkah ke arah ruangan yang dimana ada nama Yudha Mahardika disana.
Yudha pun keluar dari balik jeruji besi dan melangkah mendekati ruangan.
Pintu pun di buka. Yudha melangkah masuk dan matanya menangkap sosok anak kecil yang sangat ia rindukan.
Yudha mengembangkan senyumannya, Namun ia baru mengingat dimana ia sekarang berada. Segera senyum itu melebur dan berubah menjadi tangis, Yudha menundukkan kepalanya sambil menyeka sudut matanya.
__ADS_1
Begitu juga Qeera, ia yang dulunya benci pada sang ayah, tapi hatinya juga tidak bisa di bohongi, bahwa ada sedikit rindu padanya. Apalagi Ajeng sang ibunda selalu mengajarkannya untuk tidak membenci Yudha. Karena sejahat apapun yang dilakukannya. Yudha tetaplah ayah kandung yang harus selalu di hormati.
Yudha mendekat sambil terus menundukkan kepalanya.
"Ayah. Kenapa ayah ada disini?" tanya Qeera.
"Maafin ayah Nak, ayah memang pantas ada disini. Karena ayah sudah jahat sama kalian berdua." jawabnya yang tak berani mengangkat wajah.
Memori Qeera tiba-tiba tertuju dimana kelakuan ayahnya saat dulu. Namun segera ia menepisnya.
"Sudah, kita duduk dulu." titah Retno pada semuanya.
Mereka pun duduk saling berhadapan.
Yudha melirik sekilas pada Ajeng, banyak sekali perubahan dalam diri perempuan yang ia lirik setelah sekian lama tak bertemu dengannya. Tentu semakin cantik dan terawat, sampai tak terasa Yudha menelan paksa salivanya melihat pesona sang mantan istri.
Hal itu tak luput dari pandangan Retno yang tersenyum dalam kesedihan karena mereka tak lagi bersama.
"Ayah, maafkan aku, aku sempat membenci ayah." kata anak itu dengan lirih membuat Yudha menoleh.
Ayah dan anak itu berpelukan dalam rindu yang menggunung karena sudah lama tak bertemu.
Sementara Ajeng tak menunjukkan ekspresi apapun saat melihatnya. Tapi Retno ikut menyeka sudut matanya menyaksikan mereka berdua berpelukan yang mungkin sebentar lagi akan terkikis jarak antara Yudha dan juga Qeera karena ia berpikir Ajeng tak akan mungkin mau kembali lagi pada Yudha. Apalagi ... Ada dua lelaki yang berharap ada dipelukan Ajeng.
Setelah beberapa menit, mereka berdua melerai pelukannya.
Lalu Yudha menoleh pada Retno. "Tolong ijinkan aku sebentar saja. Aku ingin bicara berdua dengan Ajeng." katanya.
Retno menoleh pada Ajeng yang menganggukkan kepalanya. Lantas Retno mengajak cucunya untuk keluar dari ruangan itu.
Dan kini hanya tinggal tiga orang, karena yang satunya yaitu polisi yang berjaga disana. Tapi duduk agak jauh. Sehingga obrolan pun tidak begitu kedengaran.
Lalu Yudha menoleh pada Ajeng. "Makasih, sudah mendidik anakku dengan sangat baik." katanya dengan tersenyum menatap Ajeng. "Maafkan aku yang selama ini selalu menyakiti kamu, selalu menghina kamu dan sudah menuduh kamu bahwa putriku sempat membenciku karena hasutan olehmu. Tapi... Ternyata aku salah. Kamu tidak pernah melakukan hal itu. Aku saja yang memang pantas untuk di benci." paparnya dengan lirih sambil menghela napas perlahan.
Ajeng sama sekali tak menatap mantan suaminya. Meski hidupnya sudah semakin membaik. Tapi nyatanya masih ada goresan luka didalam hatinya.
__ADS_1
"Ajeng, tataplah aku. Kamu mau kan memaafkan aku?" tanya Yudha.
Ajeng mengedipkan mata perlahan. Lalu menoleh pada Yudha "Aku memaafkan kamu, dan aku juga mau minta maaf sama kamu, karena mungkin aku bukan istri yang baik selama ini, yang tak pandai bersolek dan menghias diri didepan kamu. Sehingga kamu melirik perempuan lain diluaran sana." katanya dan Yudha menggelengkan kepalanya.
"Untuk apa kamu minta maaf sama aku? Kamu tidak ada salah sama sekali. Kamu sudah sangat baik selama ini. Kamu pandai menghias diri di depanku. Mungkin aku saja yang jahat dan bodoh, yang mau saja selingkuh. Sekali lagi maafkan aku." katanya lalu menunduk sambil menyeka sudut matanya.
"Ajeng, aku ... Sangat menyesal sudah melepaskan kamu. Aku-"
"Sudah lah Mas, untuk apa di bahas lagi, aku gak mau luka yang sudah mengering ini kembali basah lagi. Aku gak mau." potong Ajeng.
"Iya, sekali lagi aku minta maaf." lirih Yudha lalu menunduk.
"Aku kesini juga ingin memberitahukan kamu. Bahwa... Sertifikat itu sudah di tanganku. Tapi-"
Yudha mengangkat wajah lalu menoleh. "Tapi apa?" tanya-nya.
"Fiona hendak merebutnya, lalu terjadi saling rebutan. Membuat sertifikat itu sobek sebagian." papar Ajeng.
"Sudah aku duga sebelumnya bahwa dia pasti menginginkannya. Dasar perempuan licik." umpat Yudha pada Fiona.
"Ada satu hal lagi yang membuat kamu pun pasti akan marah jika mengetahuinya."
"Apa itu?" tanya Yudha penasaran.
"Fiona telah melukai tangan ibu kamu, dia menginjaknya dan menarik rambutnya karena ibu kamu berusaha mempertahankan sertifikat itu, membuat Fiona marah padanya. Aku tau, karena aku sendiri menyaksikan bagaimana Fiona melakukan hal itu terhadap ibu kamu." jelas Ajeng.
"Sialan." umpat Yudha yang berdiri tak tenang. "Dia sudah sangat keterlaluan, dia harus di hukum." katanya dengan penuh emosi.
"Kamu tenang saja. Karena aku pun kesini juga akan melaporkan atas tindakan kekerasan yang dilakukan Fiona terhadap ibu kamu." jawab Ajeng.
"Lagi, kamu memang sangat baik Ajeng. Abian sangat beruntung mendapatkan kamu." kata Yudha menoleh dan Ajeng sedikit terkejut.
"Aku tau, Abian sangat mencintai kamu. Terimalah dia. Meski... Aku pun pasti cemburu jika kalian bersama." ujar Yudha sambil mengambil napas berat.
"Aku-"
__ADS_1
"Aku pun tidak mau munafik, bahwa... Aku masih berharap bisa kembali lagi sama kamu." potong Yudha membuat Ajeng menoleh dan menggelengkan kepalanya.