
Masih dirumah sakit. Sore hari, Hasna dipanggil dokter untuk memberitahukan bagaimana hasil CT scan tersebut bahwa luka yang dialami Luthfan tidak begitu dalam. Mungkin keberuntungan masih di pihaknya. Karena sedikit saja jika kepalanya kena benturan lagi. Maka risiko gagar otak pun mengancamnya.
Namun, Luthfan belum dibolehkan untuk pulang, dan baru boleh pulang jika kepalanya sudah tidak pusing lagi.
Hasna mengucapkan terimakasih pada dokter tersebut, dan meminta ijin untuk menjenguk Luthfan.
Setelah dibolehkan. Hasna pamit keluar dan segera masuk kedalam kamar rawat yang dimana ada Luthfan disana.
Langkahnya pelan. Lalu mendekat. Saat itu juga Luthfan baru tersadar.
"Ajeng." gumamnya pelan sambil menatap Hasna yang ia pikir adalah Ajeng. Karena penglihatan masih samar.
"Luthfan, ini aku. Hasna." ujarnya.
Luthfan terus mengamati wajah itu. Dan benar, dia adalah Hasna, bukan Ajeng.
"Maaf." lirih Luthfan.
"Kamu sebenarnya kenapa? Kenapa bisa pingsan dijalanan? Dan kepala kamu juga kenapa sampai mengeluarkan darah." tanya Hasna.
"Ceritanya panjang. Mungkin ini juga balasan untukku yang sudah sangat keterlaluan." jawab Luthfan dengan tatapan kosong.
"Maksud kamu? Apa ini ada kaitannya dengan rencana kita?" tanya Hasna serius. Dan Luthfan menganggukkan kepalanya.
"Luthfan. Bukan kah ini semua rencana kamu? Tapi kenapa bisa sampai seperti ini? Kamu habis dipukul orang kan? Jujur. Dan orang itu adalah ... Abian?" tanya Hasna menduga-duga.
Luthfan menggelengkan kepalanya.
"Lalu, siapa jika bukan Abian? Karena dia sendiri datang kerumahku malam-malam, ia marah-marah sama aku. bertanya dimana Ajeng berada. Aku bingung harus jawab apa. Sedangkan Ajeng tidak ada dirumahku, karena dia sendiri gak datang! Sementara Abian sedang mencarinya. Lalu, kemana Ajeng semalam?" tanya Hasna dengan penuh rasa penasaran.
"Dia ... Bersamaku." ungkap Luthfan.
"Apa?" Hasna terkejut.
"Ya, aku yang membawanya pergi saat mobilnya berhenti ditengah jalan karena mogok. Dan itu juga bagian dari rencanaku." papar Luthfan sambil mengingat kejadian semalam.
"Apa tujuan kamu melakukan itu? Karena itu sama sekali bukan dari rencana kita Luthfan." kata Hasna meninggikan suaranya.
"Aku ... Ingin lebih dulu menodai dia. Agar mau tak mau. Ajeng pasti akan jatuh ke pelukanku." jawab Luthfan tanpa menoleh pada Hasna. "Tapi ... Saat aku akan melakukan aksiku. Dia membalasnya dengan memukulku yang entah menggunakan apa. Sehingga kepalaku terasa sangat sakit." jawab Luthfan.
"Apa? Jadi Ajeng sendiri yang telah melukai kamu?Tapi kenapa kamu sampai hati melakukan itu sama dia? Apa kamu sudah memikirkan akibat perbuatanmu itu?" kata Hasna menggelengkan kepalanya. Yang tak habis pikir dengan pemikiran lelaki yang masih terbaring diatas ranjang rumah sakit.
"Bukankah jika berhasil, itu akan menguntungkanmu juga? Karena kamu pun bisa mendapatkan Abian." jawab Luthfan menoleh.
"Tapi nyatanya tidak! Karena mereka berdua ternyata sudah menikah." balas Hasna serius.
"Itu yang aku sesali. Kita kalah cepat dengan mereka, tapi ... Aku sadar, apa yang aku lakukan memang salah. Dan ... Aku pantas mendapatkan semua ini." papar Luthfan menundukkan kepalanya. "Dan mungkin Ajeng sudah tidak mau berteman denganku lagi."
"Itulah, kenapa kamu gak pikirkan dulu dampaknya apa. Ajeng pasti akan sangat membencimu. Dan juga Abian pasti akan semakin membenciku karena ia tau rencana kita setelah membaca pesan dari aku, bahwa Ajeng harus datang sendirian kerumahku. Karena aku pikir Ajeng akan datang dan membawa ponselnya, lalu aku akan mengambil ponselnya diam-diam untuk menghapus pesan itu. Aku percaya, rencana kita yang itu pasti akan berhasil. Tapi kamu ... Malah menggagalkannya." kata Hasna menyalahkan sikap Luthfan.
__ADS_1
"Dan semua masalah, kita yang mulai. Dan kita harus hadapi bersama-sama jika suatu saat mereka berdua meminta pertanggungjawaban pada kita." balas Luthfan.
"Tapi aku gak mau masuk penjara." kata Hasna sedikit cemas.
"Dan itu tidak akan terjadi. Jika kamu mau baikan lagi dengan Ajeng seperti dulu lagi. Aku yakin. Ajeng tak akan setega itu sama kamu. Kamu sendiri kan yang bilang? Dia banyak berhutang budi sama kamu?"
Hasna pun diam. Ia memikirkan setiap kalimat yang Luthfan ucapkan.
Mereka berdua akhirnya saling diam dengan pikiran masing-masing.
***
Dilain tempat. Abian datang dan langsung membuka pintu. Pandangannya langsung tertuju pada perempuan yang sedang berdiri di hadapannya menatap kedatangannya.
"Ajeng, sayang." pekiknya, lalu keduanya berpelukan dengan tangis bahagia karena yang dicinta akhirnya bertemu di muara juga .
"Kamu gak papa? Gak luka? Mana yang sakit sayang?" beberapa pertanyaan dari Abian sambil melerai pelukannya lalu mengecek bagian tubuh sang istri.
"Aku gak papa Mas. aku hanya akan sakit jika berjauhan lagi sama kamu. Maafkan aku! Gara-gara aku, kamu harus kerepotan mencariku." ucap Ajeng menunduk sambil menahan tangis.
"Jangan nangis! Lihat aku." ucap Abian sambil mengangkat dagu sang istri menggunakan jari telunjuknya.
"Aku meridhoi setiap langkah kamu. Maafin aku juga, jika terkesan mengatur. Karena aku gak mau istriku yang cantik ini terluka." ucapnya tersenyum.
Lalu Abian menoleh pada lelaki yang dari tadi diam menatap mereka berdua.
"Dia Alvino. Dia yang telah menolong aku." kata Ajeng.
"Sama-sama." jawab Alvino tersenyum. "Aku hanya kebetulan saja sedang lewat. Sudah seharusnya juga kan, kita menolong siapapun itu jika dalam kesusahan?"
"Kamu benar anak muda. Siapa namamu tadi?" tanya Abian.
"Alvino."
"Aku Abian."
Lalu mereka berdua berjabat tangan. Setelah itu, Alvino pamit untuk pergi.
"Tunggu." ucap Abian ketika Alvino sudah di dekat pintu. Dan menoleh.
"Ini kartu nama aku, jika butuh apapun itu, jangan sungkan untuk menghubungiku." kata Abian sambil menyerahkan kartu namanya. Dan Alvino menerima kartu nama tersebut.
"Terimakasih." ucap Alvino. Ia pun keluar dan naik kedalam mobil. Lalu meninggalkan tempat itu.
Abian kembali masuk dan semua orang tengah merasakan kebahagiaan didalam rumahnya.
"Papa, papa kemana aja? Kenapa gak pulang semalam?" tanya Qeera mendekati papanya.
"Maafin papa Nak, papa gak pulang karena mencari bunda." jawab Abian tersenyum sambil mengusap puncak kepalanya.
__ADS_1
"Yasudah, sekarang sudah kumpul kan? Qeera, cucu Nenek yang paling cantik. Bantu Nenek di dapur yuk! Masak untuk makan malam nanti." ujar Retno. Padahal tujuannya agar Ajeng dan Abian ada kesempatan untuk berdua.
"Yeeaayyy." pekiknya. "Bunda aku bantu Nenek masak dulu ya?" pamit sang anak. Karena Qeera memang suka memasak. Terbukti karena ia suka membantu Sus Rini didapur.
Qeera, Retno, Sus Rini dan juga Ezhar pun meninggalkan ruang tamu, kecuali sepasang suami istri.
"Kita ke kamar." ajak Abian sambil menggandeng sang istri. Lalu masuk kedalam kamar dan menutup pintu dengan rapat.
"Mas, mau ngapain kita ke kamar?" tanya Ajeng.
"Menurutmu?" goda sang suami sambil tersenyum.
"Ohh iya aku lupa." jawab Ajeng.
"Apaan emang?"
"Main boneka. Kemarin kan kamu bilang kita akan main boneka. Tapi ... Disini kan gak ada boneka. Sebentar ya aku ambil dulu dikamar sebelah, untung Qeera bawa boneka kesini." ucap Ajeng yang hendak pergi. Tapi justru dipeluk oleh Abian.
"Bonekanya itu kamu. Karena aku hanya ingin bermain sama kamu." ucap sang suami sambil menjatuhkan dirinya bersama sang istri diatas kasur. Dan kini Ajeng tengah duduk dipangkuan Abian sambil terus dipeluk.
"Jangan pergi lagi, aku gak akan sanggup jika harus kehilangan kamu." bisiknya tepat ditelinga sang istri. Membuat Ajeng sedikit geli karena hembusan napas itu yang terasa menusuk telinga.
"Mas." lirih Ajeng.
"Apa sayang? Aku kangen banget sama kamu."
"Aku juga kangen banget sama kamu Mas." ucap Ajeng menoleh. Dan kini mereka berdua saling bertatapan dalam.
Abian mendekatkan wajah. Hingga detik berikutnya napas keduanya saling tertaut satu sama lain.
Tak puas jika diam saja. Tangan itupun menelusuri ke setiap inci bagian tubuh istrinya. Membuat Ajeng pun tak kuasa menahan gejolak hasratnya.
Tapi kemudian. Ajeng menahan tangan itu untuk berhenti menjelajah dan melepaskan pagutannya.
"Jangan sekarang. Sebentar lagi maghrib." kata Ajeng sambil mengatur napasnya.
"Tapi sayang..."rengek Abian.
"Mas, kita gak akan tenang juga jika melakukan itu sekarang."
"Memang mau melakukan apa?" goda Abian lagi. Karena ia memang senang menggoda istrinya.
"Ishh kebiasaan, nyebelin." omel Ajeng sambil memanyunkan bibirnya.
"Makin cantik deh kalau lagi cemberut." kekeh Abian.
"Mas, kamu tuh ya seneng banget sih godain aku."
"Karena makin gemesin." ucap Abian sambil mencubit hidung sang istri.
__ADS_1
"Awww sakit tau iihh."
Kemudian, mereka berdua pun saling bercanda dan saling menumpahkan rasa kerinduan satu sama lain. Dengan tidak harus berakhir mengeluarkan hormon testosteron. Tapi cukup dengan peluk dan cium. Hanya sebatas itu. Karena waktunya memang sebentar. Yang memang tak cukup untuk pengantin baru.