
Hari kedua dirumah sakit, Qeera sudah semakin membaik.
Dokter pun masuk untuk kembali memeriksa kondisinya. "Pagi anak manis." sapanya tersenyum. "Kita periksa dulu ya."
Sang dokter pun melakukan pemeriksaan ulang. "Alhamdulillaahh sejauh ini, kondisinya semakin membaik. Karena memang gejalanya tidak terlalu parah. Hanya saja ... Anak ibu harus selalu dalam keadaan tenang. Tidak boleh ada yang membuatnya tertekan." papar dokter, menjelaskan.
"Kalau ada yang membuatnya kepikiran dan sedikit tertekan. memangnya apa efeknya, Dok?" tanya Ajeng sedikit cemas.
"Bisa jadi, anak ibu akan terkena gangguan mental, atau cemas berlebihan. Tapi ... Untungnya sejauh ini ... Tidak mengarah kesana. Hanya sedikit shock saja." jawab dokter.
Ajeng merasakan penderitaan pada putrinya yang harus terpisah dengan sang ayah. Dan itu membuat teman-teman Qeera mengoloknya di sekolah. Tidak semua, namun ada beberapa.
Sehingga mungkin putrinya mengalami tekanan. 'Maafkan bunda Nak, semua salah bunda, yang memilih pisah dengan ayahmu.' ucap Ajeng dalam hati.
"Kalau begitu, saya permisi. Dan ini resep obat yang harus ibu ambil. Nanti sore boleh pulang kok." kata dokter itu.
"Alhamdulillaahh. Terimakasih banyak, Dok." balas Ajeng sopan.
"Sama-sama, semoga ananda Qeera sehat terus." balas dokter.
Suara notifikasi pesan pun berbunyi, dengan segera Ajeng membukanya.
"[Hallo sayang. Assalaamu'alaikum, maaf, aku gak bisa nginep, ada urusan dikantor. Jangan lupa makan ya? Qeera juga, tadi katanya mau makan sama chicken aja. Nanti aku kirim lewat grab food.]" sebuah pesan dari Abian. Lalu terlihat sedang mengetik lagi.
"[Oh iya, kamu tau kan? Pemilik nomor ini? pasti tau dong. Yasudah sampai ketemu lagi. Assalamu'alaikum.]" tutup Abian dengan disertai emot love.
Ajeng yang membacanya sedikit menyunggingkan senyumannya. Namun ia tak sengaja memencet tombol panggilan video call. Membuat Ajeng sedikit panik.
tapi justru yang disana tersenyum kegirangan karena bukan balasan tulisan yang didapat, melainkan sebuah panggilan video call. Tak menunggu apapun lagi, Abian segera mengangkatnya.
"Duuhh gimana ini, sudah keburu diangkat." gumam Ajeng tiba-tiba gugup.
"Hallo sayang. Kenapa wajah kamu?" tanya Abian heran.
"Ng... Nggak papa kok." jawab Ajeng sekenanya, ia sangat malu, sampai tak berani menatap Abian.
"Itu kok kayak panik gitu." Abian seperti tak puas dengan jawaban Ajeng. "Tatap aku coba." godanya.
"Beneran gak papa." Ajeng malah memalingkan pandangannya.
"Ajeng." lirih Abian.
Perlahan Ajeng pun mau menatap lelaki itu.
"Cantik." puji Abian tersenyum.
"Bunda. Bunda bicara sama siapa di telepon?" tanya Qeera. Ajeng tidak tahu kalau putrinya sudah bangun.
"Qeera." panggil Abian dan terdengar oleh anak itu.
"Om Abian? Bunda, sini-in, aku mau bicara sama Om baikku." pinta putrinya.
Ajeng memberikan ponselnya. "Hallo Om? Om dimana sekarang? Kenapa gak ada disini?" kata Qeera dengan beberapa pertanyaan.
"Maaf cantik. Om ada urusan dikantor. Jadi gak bisa nungguin Qeera terus. Tapi Om janji, besok ketemu Qeera lagi ya?"
"Beneran ya Om?" kata Qeera sambil memberikan jari kelingkingnya meskipun lewat panggilan video call.
"Iya. Om janji." balas Abian sambil memberikan jari kelingkingnya juga. Tanda sudah janji.
"Oke deh aku tunggu. Sekarang Om bicaranya sama bunda lagi ya?" katanya, lalu menyerahkan ponselnya kepada ibundanya.
"Ajeng, sudah dulu ya. Aku ada rapat. Assalaamu'alaikum." ucap Abian sambil melambaikan tangannya.
"Iya, wa'alaikumsalam." tutup Ajeng.
__ADS_1
Merasa lega, karena telepon itu akhirnya berakhir. Lantas Ajeng memanggil pengasuh yang menunggu diluar, untuk menemani Qeera didalam, karena ia akan ke bagian kasir untuk pembayaran administrasi, dilanjut dengan mengambil obat dibagian farmasi.
Namun, pada saat bertanya nominal yang harus ia bayar, Ajeng sedikit terkejut karena ia tak perlu membayar sepeserpun, karena pembayaran sudah ditanggung semua oleh Abian.
Langkah berikutnya ke bagian farmasi untuk pengambilan obat dan mengantri disana.
***
Fiona sedang berada diluar negri, ia pergi ke singapore dengan membawa uang hasil menjual rumah milik suaminya sendiri.
Ia sendirian hidup disana. Sampai akhirnya bertemu dengan lelaki yang berasal dari indonesia juga, yang kebetulan sedang ada disana.
Laki-laki itu mendekat dan menawarkan minuman, membuat Fiona yang sedang duduk mengangkat wajahnya.
"Haus?" tanya laki-laki itu.
Tapi tak ada jawaban dari Fiona, yang ada ia hanya menyipitkan matanya menatap lelaki itu yang masih berdiri dihadapannya.
Tanpa ragu, lelaki itu duduk disisinya. "Kenalkan, namaku Alvino." katanya sambil mengulurkan tangan.
Lagi, Fiona hanya melihat tangan itu, tak sedikitpun berbicara.
Alvino menarik tangannya kembali karena tak ada balasan dari Fiona.
"Kulihat, kamu sendirian terus dari tadi. Kemana yang lainnya?" tanya Alvino yang menatap Fiona tanpa berkedip.
"Maaf, aku harus pergi." jawab Fiona segera bangkit. Namun tangannya dicekal oleh Alvino.
"Ternyata benar, kamu berasal dari indonesia juga." balas Alvino tersenyum.
"Apa mau kamu? Lepasin." cetus Fiona.
"Santai, aku kesini nanya baik-baik kok." katanya sambil melepaskan tangan Fiona.
"Santai saja." balas Alvino tersenyum.
Sejak pertemuan itu, mereka selalu pergi berdua kemanapun, dari mulai makan, nonton, hingga ke salon untuk perawatan. Meski kadang Fiona yang mentraktir Alvino, dengan beralasan, laki-laki itu tak membawa uang, ATM pun ketinggalan. Dengan terpaksa Fiona yang membayarnya.
Tapi semakin lama, hubungan mereka semakin intens. Hingga tak malu melakukan hubungan yang tak selayaknya dilakukan, karena belum terikat di depan penghulu.
"Kamu sudah gak perawan?" tanya Alvino saat sudah selesai melakukan itu dengan Fiona.
"Kenapa kamu tau? Aku sudah gak perawan? berarti kamu pun sudah pernah melakukannya dengan perempuan lain?" tanya Fiona sedikit kecewa.
"Tentu saja, untuk apa berhubungan jika tidak melakukannya, seperti denganmu ini." kekeh Alvino.
Fiona memalingkan pandangannya, ia tak menyangka akan bertemu dengan laki-laki seperti Alvino. Tadinya ia berharap Alvino lah yang akan menjadi yang terakhir dan segera menggugat cerai Yudha. Tapi nyatanya tidak seperti yang diharapkan.
"Sudahlah ... Untuk apa disesali. Kamu pun sangat menikmatinya." kekeh Alvino menyentuh pundak Fiona namun ditepis.
"Jangan sentuh aku." bentak Fiona.
"Dasar munafik. Buktinya kamu sudah tidak perawan saat aku sentuh." cetus Alvino.
"Setidaknya aku hanya melakukannya dengan suamiku, bukan dengan lelaki lain." Fiona sedikit emosi.
"Jadi, kamu sudah bersuami? Lalu, kemana suami kamu? Masa membiarkan istrinya yang cantik ini sendirian sih?" kata Alvino sambil membelai rambut Fiona yang kembali ditepis.
"Fiona, aku sangat suka permainanmu barusan. Aku akan memintanya lagi dilain waktu." kekeh Alvino dengan senyuman terbaiknya.
"Jangan mimpi." bentak Fiona.
"Lihat video ini." Alvino memperlihatkan video berdurasi lima menit yang dimana di video itu ia dan Fiona sedang asiknya bercumbu.
"Kamu lihat kan? Jadi ... Turuti saja mau ku. Jika tidak! Video ini sudah pasti ada dimana-mana, dan aku pun tak yakin, suamimu akan tetap mempertahankanmu setelah melihat ini." papar Alvino tersenyum puas, karena ia memang suka merekamnya saat melakukan itu dengan perempuan yang pernah ia tiduri.
__ADS_1
Fiona menatap tajam pada Alvino, ia benar-benar sangat marah pada lelaki itu, tatapannya kini berubah nyalang dan hendak melayangkan tamparan, namun berhasil Alvino tepis.
"Sekali saja tangan ini menyentuhku, maka kamu akan tau sendiri akibatnya." teriak Alvino diakhir kalimat dengan tatapan tajam.
Fiona yang melihatnya sampai meringis ketakutan. Dengan sangat terpaksa ia pun menuruti semua permintaan Alvino sambil memikirkan cara agar bisa menghindar darinya dan kembali ke indonesia.
***
Hasna sedang berada diperjalanan, ia akan berangkat ke salon miliknya. Namun saat lampu merah, ia pun berhenti lalu melihat Abian yang berada disamping.
Karena kaca mobil Abian tidak sepenuhnya ditutup sehingga Hasna bisa melihatnya dan tanpa diketahui oleh Abian, karena kaca mobil Hasna tertutup penuh.
"Aku ingin sekali bertanya sama kamu, apa perempuan yang kamu suka itu adalah Ajeng?" gumamnya pelan.
Sementara, lampu sudah kembali hijau, semua kendaraan kembali meneruskan perjalanannya.
***
Luthfan kembali menghubungi Ajeng, karena acara akan diadakan nanti malam.
"Hallo. Gimana acara nanti malam?" tanya Luthfan saat telepon sudah tersambung.
"Aku sudah mempersiapkan rancanganku. Begitu juga rancangan yang kita buat bersama, sudah aku siapkan. Iya sih, aku meminta Yumna dan Zia karyawanku untuk mempersiapkan semuanya karena aku masih berada dirumah sakit." papar Ajeng.
"Gimana keadaan Qeera? Apa sudah boleh pulang?"
"Kata dokter, sore ini boleh pulang, jadi mungkin nanti sore kita pulang."
"Oke, semoga Qeera lekas sehat selalu. Sampai ketemu nanti malam."
"Aamiin. Makasih atas do'anya."
Telepon pun ditutup. Namun pada saat Ajeng akan menaruh ponselnya, ponsel itu pun kembali berdering, terlihat nama Abian disana.
Ajeng memejamkan matanya dan menghela napas, setelah itu ia mengangkatnya.
"Hallo." ucap Ajeng.
"Hallo sayang, lagi ngapain?" tanya Abian.
"Aku sedang bersiap untuk pulang nanti sore." jawab Ajeng.
"Qeera sudah boleh pulang? Syukurlah, aku senang dengernya. Aku jemput ya?"
"Ehh gak usah, udah ada ibu juga kok nanti yang jemput." balas Ajeng.
"Ohh yasudah, maaf aku bisanya kesana nanti malam. Sekalian aku mau bicara serius sama kamu."
"Nanti malam? Aku gak bisa." tolak Ajeng.
"Kenapa?" tanya Abian Heran.
"Aku ada acara fashion show nanti malam." jawab Ajeng.
"Sama laki-laki itu?" tanya Abian cemburu.
"Laki-laki itu?" tanya Ajeng tak mengerti siapa.
"Luthfan." balas Abian dengan suara malas.
"Ohh, iya karena kita partner kerja, jadi ya pergi bersama." papar Ajeng tak tau kalau laki-laki disana sedang merasakan api cemburu.
"Aku ikut." kata Abian serius.
"Hah? Ikut?"
__ADS_1