Haruskah Aku Berbagi Suami

Haruskah Aku Berbagi Suami
Perdebatan Antara Retno dan Fiona


__ADS_3

Hasna mendatangi ruko yang sekarang sudah milik Ajeng. Ia pun segera masuk dan langkahnya menuju ruangan pribadi Ajeng yang berada di lantai atas.


Lantas ia pun membuka pintu, lalu masuk ke ruangan itu.


Ajeng menoleh melihat kedatangan sahabatnya. "Hasna." sapanya.


Hasna duduk dengan kasar diatas sofa, dengan raut wajah cemberut.


"Kenapa itu muka? Kok ditekuk gitu?" tanya Ajeng mendekat lalu duduk di sisi Hasna.


"Tau ah, bete aku." ucap Hasna dengan kesal.


"Ada apa? Ceritakan sama aku. Kita sahabatan bukan?" tanya Ajeng membuat Hasna menoleh. "Aku ... Sedang cemburu." jawab Hasna.


"Ohhh jadi karena masalah cinta." kekeh Ajeng.


"Jadi tuh, semalam aku lihat dia jalan sama cewek lain." ujar Hasna.


"Terus?"


"Aku gak tau siapa cewek itu. Tapi kok kayak gak asing."


"Kenapa kamu pengen tau soal cewek itu? Dendam, gitu?" tanya Ajeng heran.


"Iiihhh bukan itu. Aku ingin tau cewek itu siapa, ya karena penasaran aja, siapa sih cewek yang telah memenangkan hati dia." timpal Hasna.


Ajeng tersenyum melihat tingkah laku sahabatnya. "Hasna Diannova, percayalah. Kalau jodoh gak bakal kemana." kata Ajeng membesarkan hati sahabatnya sambil mengusap bahunya.


"Tapi, tetap saja aku cemburu."


"Wajar kok cemburu. Asal gak membenci cewek itu."


"Ya nggak lah, untuk apa aku benci. Kenal juga kagak. Lagian kan cowok itu bukan siapa-siapanya aku. Aku hanya penasaran saja, dan bukan untuk membenci cewek itu."


"Nahh itu sadar, cowok itu kan bukan siapa-siapanya kamu."


"Iya sih." kekeh Hasna. "Terus kamu sama Luthfan gimana?" tanyanya.


"Gimana apanya?" Ajeng malah balik bertanya.


"Kalian sering bertemu kan? Apa ... Kamu gak ada rasa sama dia?"


"Itu lagi." timpal Ajeng.


"Memangnya sampai sekarang gak ada rasa sama dia?" tanya Hasna.

__ADS_1


"Kamu itu kenapa sih Na? Suka banget memberi pertanyaan seperti itu, apa jangan-jangan ... " kata Ajeng menjeda.


"Jangan-jangan apa?" tanya Hasna menoleh sambil menautkan kedua alisnya.


"Kamu berniat menjodohkan aku sama dia." timpal Ajeng membuat Hasna sedikit terkejut.


"Iya kan?" tanya Ajeng. "Lagian ... Aku sampai sekarang gak memikirkan ke arah sana, aku hanya ingin fokus pada karir dan anakku." kata Ajeng.


"Jujur, awalnya memang aku ingin kamu dekat dengan dia. Tapi kembali lagi sama kamu, karena aku pun tak mau memaksa. Tapi ... Masa iya kamu gak mau nikah lagi. Kamu tuh masih sangat muda Ajeng. Pasti banyak kok yang mau sama kamu." papar Hasna.


"Entahlah, mungkin sampai sekarang karena aku belum menemukan yang cocok saja. Bahkan ... Aku pun belum menerimanya saat ada satu laki-laki yang blak-blakan melamarku." balas Ajeng.


"Serius kamu?"tanya Hasna menoleh dengan sedikit terkejut.


"Untuk apa aku bohong." balas Ajeng.


"Kok baru cerita sih?"


"Ini aku cerita, karena kejadiannya emang baru semalam." jawab Ajeng.


"Semalam?" tanya Hasna dan Ajeng menganggukkan kepalanya.


'Apa cewek yang bersama Abian itu, Ajeng? Tapi masa iya sih! Tapi ... Dari postur tubuhnya cewek itu memang seperti Ajeng.' gumam Hasna dalam hati.


"Terus. kamu terima gak?"


"Kenapa?"


"Di sisi lain, putriku sangat menyukai dia. Tapi di sisi lain juga .... Aku belum ada perasaan sama dia."


"Qeera menyukai laki-laki itu? Kalian memang sudah saling kenal?" tanya Hasna yang lagi-lagi sangat penasaran. Dan Ajeng menganggukkan kepalanya. "Aku memang sudah kenal lama sama dia. Tapi putriku baru kemarin-kemarin bertemu dan langsung suka." jawab Ajeng.


"Boleh aku tau? Siapa laki-laki itu?" kembali Hasna bertanya.


"Nanti aku akan perkenalkan dia sama kamu." balas Ajeng.


Mereka pun saling mencurahkan isi hati mereka.


***


Sementara itu. Lagi Fiona mencari sertifikat itu. Dengan penuh kesal ia terus mencarinya karena belum juga ditemukannya.


Lalu Retno melintas dihadapannya.


Lantas Fiona mengejar Retno. "Ibu mau kemana?" tanyanya membuat Retno menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Apa perlu kamu tau? Saya mau kemana?"


"Perlu, karena aku menantu ibu." jawab Fiona.


"Kata siapa kamu menantuku?" tanya Retno.


"Aku kan istrinya Mas Yudha, anak ibu." balas Fiona.


"Yudha memang anakku. Tapi aku gak pernah menganggap kamu sebagai menantuku." timpal Retno.


"Kenapa ibu sepertinya sangat benci sama aku. Apa salahku?" tanya Fiona dengan lirih.


"Masih bertanya salah kamu apa?" tanya Retno menatap tajam pada Fiona lalu sedikit mendekat. "Karena aku sangat membenci perempuan yang telah merusak rumahtangga orang lain. Kamu itu PE LA KOR." tekan Retno di akhir kalimat.


Fiona yang tak suka jika disebut pelakor. Ia pun merasa kesal pada wanita paruh baya yang berada dihadapannya.


"Ibu, tadinya aku sangat menghormati ibu karena ibu itu mertuaku, juga menahan rasa kesalku pada ibu. Tapi, saat ibu menyebut aku pelakor, aku sangat marah mendengarnya karena aku paling tidak suka mendapat sebutan ibu, karena aku bukan pelakor." tekan Fiona sedikit emosi.


"Lalu, apa sebutan yang pantas untukmu, jika bukan pelakor?" Retno menantang.


"Sekali lagi ibu bilang aku pelakor, ibu akan tau sendiri akibatnya." Fiona tak kalah menantang. "Dengar, ibu tak tau masalah awal gimana sehingga aku bisa bersama Mas Yudha. Jika saja ibu tau dari awal, ibu pasti tak akan menyebut aku pelakor." papar Fiona sambil menahan amarah yang memuncak.


"Asal ibu tau, aku menikah dengan Mas Yudha. Karena aku pun tak tau jika Mas Yudha sudah menikah, karena dia berbohong sama aku bahwa dia belum menikah, makanya aku mau saja menikah dengannya. Dan saat aku dibawa kesini. Aku kira disini pun tidak ada siapa-siapa. Tapi nyatanya ada istri dan anaknya. Dari situ aku baru tau kalau Mas Yudha sudah menikah. Dan Mas Yudha juga mengakuinya bahwa telah membohongi aku, jadi ... Siapa disini yang harus disalahkan? Tentu Mas Yudha, anak ibu sendiri." papar Fiona menjelaskan dengan serius.


"Tapi kamu senang kan? Karena berhasil menikah dengan Yudha, karena cerita yang ku dengar kalian memang mantan dulunya." ujar Retno.


"Itu benar, aku sangat senang saat menikah dengannya, tapi ... Saat aku tau Mas Yudha sudah punya istri. Aku pun merasa kesal padanya karena telah di bohongi. Dan juga sangat iba pada Mbak Ajeng."


"Lalu, kenapa bukan kamu saja yang mundur, jangan Ajeng? Dia itu menantu kesayanganku, dan sudah aku anggap sebagai anakku sendiri." kata Retno sambil menahan dadanya yang tiba-tiba merasa sesak.


"Soal itu, Mbak Ajeng sendiri yang memilih mundur." balas Fiona.


"Ya, karena wanita manapun pasti tak akan mau jika dimadu." tekan Retno. " Aku bukannya tak tau antara masalah kalian bertiga. Aku tau Fiona, aku tau! Seharusnya kamu itu tau diri. Seharusnya kamu yang mundur, bukan Ajeng." lirih Retno.


"Itu gak mungkin." ujar Fiona.


"Ya, sudah aku duga, kamu tak akan melakukan itu, karena kamu memang perempuan licik." umpat Retno.


"Ibu." bentak Fiona. "Habis sudah kesabaranku dari tadi." hardiknya.


"Lalu, apa mau mu, perempuan pelakor."


Fiona benar-benar sudah habis kesabarannya. Ia pun sontak mendorong bahu Retno hingga limbung ke belakang. Sampai tas yang Retno pegang ikut terlepas dari tangannya.


Saat tas itu jatuh ke lantai, Fiona menatap pada isi tas itu. Karena terlihat map berwarna tosca keluar sedikit dari tas itu. Karena Retno tadi belum sempat menutup resletingnya karena buru-buru ingin pergi membawa sertifikat itu.

__ADS_1


"Map apa itu?" tanya Fiona menatap tajam pada map itu


__ADS_2