Hasrat Cinta Adrian (Balas Dendam Pria Patah Hati)

Hasrat Cinta Adrian (Balas Dendam Pria Patah Hati)
Panggilan Hubby


__ADS_3

Tak lama kemudian, Dokter dan beberapa tim medis lainnya keluar ruangan dengan wajah kelelahan.


Rania segera berdiri untuk mendekati Dokter. "Bagaimana operasi kakak saya, Dok?" Tanya Rania dengan tidak sabaran.


Sang dokter tersenyum sembari menghembuskan nafas lega. "Alhamdulillah, operasi nya berjalan lancar." Kata dokter itu setelah melepaskan masker.


"Alhamdulillah..." Rania dan Aldi pun tak lupa ikut mengucapkan syukur karena kakak nya berhasil selamat.


"Pasien boleh di jenguk setelah dipindahkan ke ruang perawatan ya, mbak." Kata dokter itu mendahului sebelum Rania mengutarakan kemauannya.


Seperti nya Dokter itu sudah tahu pertanyaan yang ingin diajukan Rania, hingga lebih memilih mengatakan sebelum ditanya.


"Hehehe... baik, Dok. Terimakasih." Kata Rania sedikit cekikikan karena sang dokter lebih dulu bisa menebak apa yang ingin dikatakan nya.


Dokter itu mengangguk diiringi dengan senyum manis nya. "Kalau begitu, saya permisi." Katanya pamit pada Rania dan Aldi.


Mereka kompak mempersilahkan dokter itu untuk berlalu dari sana. Tak berapa lama kemudian, mereka melihat para perawat sedang memindahkan brangkar kakaknya.


Dengan tidak sabaran Rania mengikuti kakak nya yang dibawa beberapa perawat menuju ruang perawatan sembari menyeret Aldi untuk berjalan lebih cepat.


"Sabar, sayang... Hati-hati." Tegur Aldi saat Rania berjalan cepat. Dia tidak ingin istri tercinta nya terjatuh karena terlalu cepat berjalan.


Sesampainya di depan ruangan, Rania ikut menerobos masuk ke sana. Untung nya dia tidak dicegah oleh para suster. Akhirnya Rania bisa melihat kondisi kakak nya saat ini yang masih belum membuka mata.


Seperti nya Rania bisa menebak, kalau saat ini kakak nya masih terpengaruh obat bius sehingga kesadaran nya belum pulih.


Dan tebakan nya benar, saat suster sendiri yang mengatakan kakak nya masih terpengaruh obat bius tanpa ditanya Rania.

__ADS_1


"Kalau begitu, kami permisi." Pamit perawat itu.


Rania dan Aldi serempak mempersilahkan untuk pergi.


"Sayang, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kak Raka baik-baik saja." Kata Aldi menenangkan.


"Iya, aku tahu kak Raka baik-baik saja. Tapi aku tidak sabar ingin segera melihat kak Aldi sembuh dan bisa berjalan kembali." Kata Rania sembari mengembangkan senyum membayangkan sebentar lagi kakak nya akan segera melepaskan kursi roda.


Aldi ikut mengembangkan senyum mendengar lontaran kata istri nya. "Semoga aku segera menemukan donor mata yang cocok untuk kak Raka, sayang." Kata Aldi seraya merengkuh tubuh istri nya.


Rania ikut membalas pelukan suaminya. Tidak tahu kenapa, dia merasa sangat nyaman dan damai saat dalam pelukan sang suami.


"Benarkah??" Tanya Rania sedikit tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "benarkah kau sedang mencari pendonor mata untuk kak Raka?" Tanya nya lagi.


Bukan Rania tidak percaya, tapi sebelumnya Aldi belum pernah membicarakan tentang hal ini.


Rania sangat bahagia sekaligus bangga pada suami nya. Tidak disangka, laki-laki yang awalnya sangat ingin ia hindari dan dibenci ternyata memberikan perubahan yang begitu besar terhadap kehidupan keluarga nya.


"Terimakasih hubby ... " Kata Rania manja. Kepalanya ia telusup kan di dada bidang sang suami karena malu memanggil suaminya dengan sebutan itu.


"You're welcome, sayang. By the way aku suka panggilan mu." Bisik Aldi di telinga istrinya sembari tersenyum menggoda.


Rania pun diam-diam ikut mengembangkan senyum tetapi tidak terlihat karena wajah nya masih ia telusup kan seperti semula.


"Maaf, dulu aku jahat sama kamu." Kata Rania lagi. Kepala nya mendongak menatap wajah Aldi dengan penuh cinta. Ada rasa sesal di hati karena dulu sering menolak suaminya.


Kedua tangan nya menangkup wajah suami nya. Jari-jari Rania tak berhenti bergerak mengelus rahang serta pipi suaminya.

__ADS_1


"Maaf untuk apa, sayang?" Tanya Aldi tidak mengerti. Terlihat beberapa kerutan di dahi Aldi seraya menatap intens wajah cantik wanita nya.


"Maaf karena dulu sering kasar pada mu. Maaf, dulu aku membenci mu, dan maaf karena sudah berpikiran buruk tentang mu." Kata Rania sedikit merasa bersalah.


Rania menatap lekat wajah suami nya mulai dari dahi, alis tebal nya, lalu turun ke mata yang memiliki bola mata indah berwarna coklat dengan hidungnya yang mancung seperti perosotan. Bibirnya tidak terlalu tebal dan tidak terlalu tipis namun terlihat sangat sensual.


Aaaaahhhhh... melihat bagian itu pikiran Rania jadi melanglang buana. Membayangkan saat bibir seksi suami nya menelusuri tiap lekuk tubuh nya.


Membayangkan bagaimana bibir sensual itu mengecup tiap titik bagian sensitif nya, apalagi saat bibir nya bekerja di dua pucuk buah pir nya yang membuat nya hilang kesadaran serta seperti melayang.


Aaahh... seperti nya otak Rania mulai tertular virus me sum suami nya.


Padahal dulu, dia sangat membenci laki-laki itu karena telah menja-mah tubuhnya. Tetapi sekarang Rania ikut kecanduan, bahkan dia juga sangat menikmati setiap suami me sum nya meminta jatah meski tubuhnya sudah tak berbentuk.


Mungkin karena saat ini hatinya sudah berlabuh pada laki-laki itu, sehingga Rania ikut merasakan betapa nikmatnya merengkuh surga dunia.


Entah sejak kapan dia memiliki rasa ini dalam hati nya pada sang suami. Tapi saat ini seakan-akan Aldi adalah sosok laki-laki yang begitu sempurna menurut nya.


Jika dilihat-lihat suami nya ini begitu tampan wajahnya campuran antara bule dan lokal dengan tubuh yang sangat kekar. Pantas saja suami nya mampu bertahan di ranjang hingga berjam-jam lamanya. Dan Rania baru menyadari nya kali ini.


"Aku akan menerima maaf mu tetapi, ..." Aldi sengaja mengehentikan sembari tersenyum menyeringai membuat Rania kembali tertunduk. "Kau harus kembali menaklukkan rudal sakti ku, sayang." Bisik Aldi dengan tangan nya semakin menekan tubuh istri nya agar semakin menempel padanya. Sehingga perut bawah Rania merasakan ada tonjolan yang mulai mengeras di bawah sana.


Rania membulatkan matanya saat merasakan rudal sakti suami nya kembali berfungsi. Padahal dia baru saja selesai menjinakkan beberapa menit lalu. "Dasar me sum!" Tangan Rania yang semula berada di wajah suami nya langsung di lepaskan lalu berganti memukul dada serta bahu suaminya.


Namun bukan nya menengadah kesakitan justru dia semakin tertawa terbahak-bahak seraya menggesek-gesekkan bagian bawah nya.


Memang dasarnya me sum, mau bersikap romantis pun pada akhirnya tetap ke arah me sum.

__ADS_1


"ALDIII...!" Teriak Rania keras akibat kelakuan suami nya.


"Sssttt... Jangan keras-keras ... Nanti kak Raka nggak nyaman. " Aldi memberi peringatan.


__ADS_2