Hasrat Cinta Adrian (Balas Dendam Pria Patah Hati)

Hasrat Cinta Adrian (Balas Dendam Pria Patah Hati)
Gagal atau Lanjut?


__ADS_3

Membutuhkan waktu setengah jam Aldi melakukan kesepakatan pada keluarga yang ingin mendonorkan mata.


Ternyata keluarga yang ingin mendonorkan mata itu memberikan penawaran yang sangat fantastis, hingga akhirnya Aldi menyerah bila tak setuju dengan harga yang Aldi buat.


Awalnya keluarga pendonor meminta dengan harga 2 milyar, tetapi menurut Aldi itu sangatlah mahal. Dia hanya menyetujui bila diturunkan menjadi seperempatnya.


Karena keluarga itu tak setuju, akhirnya Aldi yang didampingi dengan pengacaranya menaikkan harga menjadi 700 juta dan keputusan itu sudah final. Bila keluarga pendonor tak setuju, Aldi akan mencari pendonor lain. Akhirnya keluarga pendonor menyetujuinya.


Hah, akhirnya Aldi bisa menghembuskan nafas lega. Tak disangka, ternyata keluarga yang mendonorkan mata terlampau materialistis. Padahal yang menjadi pendonor adalah orang yang sudah meninggal di rumah sakit yang sama tempat kak Raka di rawat.


Setelah menyodorkan surat kesepakatan dan membubuhkan tinta di sana, Aldi langsung menuju ke rumah sakit tempat kakak iparnya di rawat.


Saat memasuki ruangan, ternyata kakaknya sedang tidur di dampingi oleh seorang gadis remaja yang mendampinginya beberapa hari ini.


"Tuan." Gadis itu tampak berdiri dari tempat duduk lalu membungkuk memberi hormat pada majikannya.


"Sssttt ... Sudah tidak perlu berdiri. Tolong sampaikan pada kak Raka, besok jika kakinya sudah membaik akan segera dilakukan operasi mata. Aku sudah menghubungi dokter, dan nanti akan ada dokter yang memeriksanya." Aldi menyampaikan pada gadis itu karena tak ingin kak Raka terbangun.


Setelah gadis itu mengangguk, Aldi kembali keluar dari sana. Ia ingin segera pulang sesuai janjinya pada sang istri yang tak ingin berlama-lama di luar, karena ada yang sedang merindukan nya.


Ah ... manisnya istriku. Gumam Aldi pelan mengingat istrinya tak ingin berlama-lama berpisah darinya. Sepanjang langkahnya Aldi tak henti-hentinya tersenyum.


Dia tidak sabar untuk kembali ke apartemen dan memberikan ciuman pada istrinya bertubi-tubi.


.


.


.


Tak sampai setengah jam perjalanan, Aldi telah sampai di gedung apartemen. Dia menyegerakan langkahnya menuju apartemennya.


Setelah menekan nomor password, Aldi segera masuk ke dalam. Yang dilihat pertama adalah, istrinya sedang meringkuk di sofa dengan mata sembab.


"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Aldi cemas. Masalahnya dia tidak pernah melihat istrinya menangis sampai seperti ini.


"Hubby...!" Rania berlari menghampiri suaminya dan menghambur ke pelukannya.


"Kenapa lama sekali pulangnya..? Sudah ku bilang jangan lama-lama, aku kangen." Cecar Rania.


Istrinya ini kembali menangis dalam pelukannya, sedang tangannya terus memukuli dada suaminya.


"Ssh ... Sakit, sayang. Jangan kencang-kencang mukulnya." Kata Aldi meringis sakit sembari menangkap tangan mungil istrinya.

__ADS_1


"Maaf." Rania menghentikan pukulannya. Dia merasa bersalah karena membuat suaminya sakit. "apa masih sakit?" Tanyanya sembari mengelus dada bidang suaminya.


"Sshh ... sedikit." Kata Aldi dusta. Padahal dia mendesis karena merasakan geli saat tangan mungil istrinya menari-nari di bagian dadanya.


"Apa aku harus mengobatinya?" Tanya Rania dengan nada khawatir. Seakan-akan kemarahan yang tadi ditunjukkan pada Aldi menguap begitu saja.


"Tentu sayang, kau harus bertanggung jawab untuk mengobati apa yang kurasakan saat ini." Kata-kata Aldi benar-benar menjerumus ke arah ranjang, karena yang saat ini Aldi rasakan tubuhnya memanas karena bergai rah, tapi istrinya ini tidak mengetahuinya sama sekali.


"Baiklah ayo, ku obati. Hubby duduk saja di sini aku ambilkan obatnya." Kata Rania bersiap berlalu dari sana.


Dengan cepat Aldi mencekal pergelangan tangan istrinya. "Disini saja, sayang." Perintah Aldi.


"Katanya mau ku obati? Aku harus ambil obat sama air hangat buat kompresi-"


"Sstt ... Aku memang menyuruhmu mengobati ku. Tapi tidak menggunakan obat. Kau harus mengobatinya menggunakan tubuh mu." Kata Aldi berbisik di telinga istrinya.


"Issh ... dasar! Hubby su-aaaaa...!" Belum sempat meneruskan perkataannya, Rania lebih dulu menjerit saat tiba-tiba tubuhnya melayang yang ternyata di bawa suaminya ke dalam gendongan.


"Jangan banyak bicara, sebaiknya kau lakukan tugasmu untuk menyembuhkan ku." Bisik Aldi sembari mengulum telinga istrinya sembari menaiki satu persatu tangga menuju ka lantai dua.


Rania sudah tak bisa berkata-kata karena tubuhnya sudah beraksi dengan baik. Suaminya ini memang sangat pandai membuatnya terpancing gai rah.


Bibir Aldi sudah bertaut pada bibir mungil istrinya. Aldi mencium istrinya dengan begitu rakus, tangan memindahkan posisi tubuh istrinya menjadi seperti anak koala.


Saat sedang panas-panasnya mereka berciuman, tiba-tiba langkah Aldi tak seimbang setelah sampai di ujung tangga namun dia masih menaikkan kaki seperti ingin menaiki tangga lagi karena tidak melihat ke depan.


Brukk


Alhasil, dua tubuh itu terjerambat ke lantai.


"Ssshh... Saakkiiiittt...!" Teriak Rania karena tubuhnya tertindih suaminya. "Hubby....! Kamu tega sekali menjatuhkan ku di lantai!" Sungut Rania menggebu-gebu.


Sedangkan wajah Aldi sudah berubah pias, alamat tidak bisa melanjutkan percintaan bila sudah seperti ini.


Padahal sedang enak-enaknya melakukan ciuman, tetapi malah digagalkan oleh kecerobohan Aldi sendiri.


"Maafkan aku, sayang. Aku tak sengaja jatuh. Apa tubuhmu sangat sakit?" Tanya Aldi khawatir. Bukan hanya khawatir dengan tubuh istrinya yang terjatuh, tetapi juga khawatir dengan kemarahan istrinya yang pasti akan berpengaruh pada nasib buruk yang menimpa rudal saktinya.


Aldi segera membantu istrinya bangkit dari lantai.


"Ya, sakit sekali. Dan ini karena ulah mu!" Sahut Rania dengan marah.


"Maafkan aku, sayang. Apa aku harus mengobatinya?" Tanya Aldi.

__ADS_1


"Ya, tentu saja kau harus mengobati punggung ku!" Sahutnya cepat dengan nada marah.


Kemudian Rania berlalu lebih dulu menuju kamar sembari menghentak-hentakkan kakinya.


Aldi sendiri bingung apa yang harus dilakukannya. Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Lalu pandangannya ia alihkan ke bawah menatap sangkar rudal sakti yang sudah mengembung besar. "Bersabarlah sebentar, kamu harus bisa mengubah nenek sihir itu menjadi bidadari lagi." Gumamnya pelan sembari mengelus rudal saktinya yang mengenaskan di dalam.


Aldi melanjutkan langkahnya ke kamar mengejar istrinya. Saat membuka pintu, Aldi dikejutkan dengan istrinya yang sudah tak menggunakan pakaiannya.


Seluruh bagian tubuhnya terpampang nyata, hanya gubuk reyot nya yang masih tertutup oleh kain berbentuk segitiga.


Sedangkan dua buah semangka nya sudah terombang-ambing saat wanitanya berjalan menuju kasur.


"Cepat obati punggung ku!" Perintah Rania pada Aldi.


Aldi yang tadinya mematung sembari memandang tubuh sintal istrinya langsung tersadar dari pikiran-pikiran kotornya.


Aldi mendekati istrinya, lalu mera ba-raba punggung mulus wanitanya.


"Apa yang harus ku lakukan?" Tanya Aldi dengan suara serak. Entahlah, dia akan tahan atau tidak setelah ini. Yang jelas, sekali pun istrinya menolak maka Aldi terpaksa akan memperkosaa nya.


"Urut punggung ku menggunakan minyak ini." Rania menyodorkan satu botol minyak.


Dengan segera Aldi meraihnya lalu membubuhkan seluruh minyak di botol itu ke punggung istrinya.


Aldi mulai mengurut dengan lembut sesekali mengecupnya.


Tangannya mulai tak bisa dikondisikan, urutan yang diberikan Aldi mulai menjalar ke depan, meraih dua buah semangka yang terasa kenyal dalam remaasan nya.


Memainkannya puncaknya terkadang sedikit memberi cubitan di sana, membuat Rania mendesis tak karuan.


**Aku up dua kali, boleh malak kalian nggak?😁


Kalau bisa kasih aku poin, koin, atau vote nya.


Nanti kalo aku khilaf, tak tambahin lagi up-nya.


Adegan anu-nya mau dilanjut atau skip?🤣


Makasih...Aku sayang kalian, tapi aku malak.😆


Jangan lupa juga masukkin ke favorit dulu karya baruku yang satu ini, nanti kalau sudah banyak bisa baca maraton sambil minum es teh biar nggak kepanasan.🤣**

__ADS_1



__ADS_2