
Mobil Aldi sudah berada di depan gedung apartemen, tempat tinggal Aldi dan Rania yang baru.
Ayah Rudi yang duduk di kursi belakang terlihat memandangi gedung di sebelahnya dengan sorot mata kagum.
"Masya Allah, nak. Apa kita akan tinggal di gedung itu?" Tanya ayah Rudi sembari menunjuk bangunan di sebelahnya.
Baik Aldi maupun Rania saling berpandangan sembari mengulas senyum. "Iya, Ayah ... Kita akan tinggal di sana." Jawab Rania.
"Apa ini yang dinamakan rumah susun ya, nak?" Tanya ayah Rudi lagi dengan tatapan masih tertuju pada gedung itu. "Ayah tidak menyangka, kita bisa tinggal di gedung mewah ini. Ternyata rumah susun seperti hotel ya ..., " Lanjutnya dengan senyum mengembang.
Aldi yang mendengar perkataan sang mertua hanya bisa tertawa dalam hati, andai saja yang mengatakan hal itu bukan mertuanya pasti sudah menjadi bahan tertawaan Aldi.
"Ya ampun, ayah. Ini namanya bukan rumah susun, tapi apartemen." Sahut Rania menjelaskan, kepalanya sedikit menoleh ke belakang agar bisa melihat wajah ayahnya. Dia sedikit meringis karena malu pada Aldi dengan perkataan ayahnya yang teramat polos.
"Oh ... Ini bukan rumah susun ya, nduk. Ayah kira ini rumah susun seperti yang Bu Teri bilang mau pindah ke rumah susun. Katanya rumahnya tinggi sekali karena rumahnya ditumpuk-tumpuk." Jelas Ayah Rudi.
"Pokoknya beda, ayah. Kalau rumah susun itu untuk orang-orang seperti kita, kalau apartemen itu untuk orang kaya." Sahut Rania sedikit kesal, karena ayahnya ini terlampau polos. Tidak mengetahui apapun.
"Iya, hampir sama. Anggap saja ayah sedang tinggal di rumah susun." Aldi ikut menyahuti percakapan antara ayah dan anak ketika melihat istrinya sudah dalam mood tidak baik-baik saja. Dia tak ingin pembicaraan tentang rumah susun dan apartemen semakin melebar apalagi semakin memanjang, nanti tidak nyaman untuk Rania.😁
Entah mengapa sedari kemarin istrinya ini memang sering marah-marah. So, sebagai suami yang baik dan penyayang, Aldi harus bisa mengerti keadaan mood istrinya.
"Oke, nak Aldi. Ayah sedikit susah kalau mau menyebut nama a-parat-teman itu pokoknya. Maklum, ayah tidak pernah tahu bahasa gaul hehehe..."
Aldi meringis mendengar ayah Rudi menyebut apartemen menjadi aparateman.
Sedangkan Rania sudah mendengus kesal pada ayahnya. "APARTEMEN ayah, bukan APARATTEMAN." Kata Rania sembari menekankan kata apartemen.
__ADS_1
"Sudah-sudah, sebaiknya kita keluar dan langsung ke apartemen." Sahut Aldi cepat.
Dia memang sengaja menghentikan mobilnya di depan apartemen, tidak langsung masuk basement karena setelah ini Aldi akan pergi lagi untuk menemui keluarga yang ingin mendonorkan mata untuk kak Raka.
Beruntung sekali, tidak membutuhkan waktu lama Aldi bisa menemukan pendonor mata untuk kakak iparnya. Aldi sendiri belum memberi tahu pada Rania maupun ayahnya karena ini akan menjadi kejutan untuk semua orang. Terkecuali kak Raka yang sudah diberi tahu sejak awal supaya kakaknya bisa semangat menjalani hidup.
"Sini, ayah. Aldi bantu masuk." Aldi menuntun ayahnya setelah membukakan pintu.
Luka sayatan operasi jantung ayah Rudi memang sudah membaik, tetapi bukan berarti sudah tentram sepenuhnya. Masih harus beberapa kali check up agar lukanya bisa cepat sembuh secara total.
"Terimakasih, nak. Ayah sangat beruntung mendapatkan menantu kamu. Sudah baik, kaya, dan sayang sama ayah." Kata ayah Rudi merasa terharu dengan perlakuan Aldi. Dai merasa sangat beruntung karena ternyata menantunya ini bukan hanya mencintai anaknya, tetapi juga mencintai ayah serta kakak iparnya. Dan ayah Rudi sangat bangga pada Aldi.
Aldi menanggapi perkataan ayahnya dengan seulas senyum lalu berkata. "Sudah, tidak perlu berkata seperti itu, ayah. Karena Aldi juga sangat bahagia bisa memperistri Rania, dialah sumber kebahagiaan Aldi. Jadi sudah menjadi keharusan Aldi juga menyayangi semua yang menjadi kebahagiaan istri Aldi." Jelasnya.
Ayah Rudi pun mengangguk, lalu mereka berjalan hingga memasuki lobby. Saat di lobby, Aldi sedikit menjelaskan pada petugas di sana, entah apa yang dikatakan Aldi. Setelah itu mereka melanjutkan langkahnya menuju lift.
Apartemen Aldi ada di lantai 4 gedung itu, setelah sampai di lantai 4 mereka bergegas keluar dengan Aldi yang masih setia membantu ayah mertuanya memapah jalan karena tidak menggunakan kursi roda.
Mereka telah sampai di ruang tamu aparateman. Ayah Rudi terlihat sedang mengamati seluruh sisi ruangan yang terjangkau oleh pandangannya.
"Wahh ternyata besar sekali rumahnya, nak. Bukan hanya besar, tapi juga sangat bagus. Ayah jadi tidak sabar ingin segera menunjukan rumah kita kepada para tetangga yang suka menghina ayah." Kata ayah Rudi tersenyum gembira melihat aparateman mewah yang saat ini menjadi tempat tinggalnya.
"Jangan pamer, ayah." Sahut Rania mengingatkan dengan wajah kesal.
"Bukan pamer, nak. Tapi ayah ingin menunjukkan biar mereka tahu, kalau keluarga kita sudah bisa hidup enak biar nggak di ejek terus sama mereka."
"Sama aja, itu namanya pamer, ayah ..." Sahut Rania geram.
__ADS_1
Aldi yang mendengarnya hanya menggelengkan kepala. "Sudahlah, Biarkan kalau memang ayah mau menunjukkannya pada tetangga-tetangganya. Tapi hanya boleh kalau ayah sudah sembuh. Sekarang sebaiknya ayah masuk ke kamar, istirahat dulu supaya cepat sembuh." Sahut Aldi.
Ayah mertuanya pun mengangguk dan masuk ke kamar di bantu Aldi untuk menunjukkan letak kamarnya.
Apartemen itu terdiri dari dua lantai, untuk kamar ayah Rudi berada di lantai bawah supaya tidak terlalu capek jika ingin ke sana kemari. Sedangkan kamar Aldi dan Rania berada di lantai atas.
"Sayang, Aku keluar dulu. Jaga dirimu baik-baik, kalau ingin beres-beres seperlunya saja dan jangan terlalu capek. Aku masih ada urusan di luar." Pamit Aldi setelah mengantarkan mertuanya dan sekarang ada di ruang tamu menghampiri istrinya yang sedang duduk di sana.
"Memangnya ada urusan apa di luar? Bukankah kamu bilang pekerjaan mu ada di London?" Tanya Rania. Tiba-tiba dia menjadi sedih, tak rela ditinggalkan Aldi.
"Iya, memang aku tidak ada pekerjaan di sini. Tapi aku harus mengurus berkas-berkas penting, sayang." Ucapnya sembari membungkuk di depan istrinya lalu meraih kedua tangan Rania untuk di kecup.
"Apa aku tidak boleh ikut?" Tanyanya dengan wajah sendu. Istrinya ini memang sudah berubah menjadi wanita manja, entah apa yang menjadi penyebab Rania berubah. Atau mungkin memang ini sifat asli Rania yang baru saja ditunjukkan setelah dia mencintai Aldi.
"Bukannya aku melarang, sayang. Tapi kalau kamu terus-terusan ikut, aku takut kamu capek. Bukankah akhir-akhir ini kamu sering ngeluh capek?"
Rania diam sejenak, memang benar apa yang dikatakan suaminya. Akhir-akhir ini dia sering merasa tak enak badan dan mudah lelah.
Huh, Rania menghela nafas berat. "Baiklah aku disini saja. Jangan lama-lama di luar, nanti aku rindu." Katanya dengan nada manja.
Aldi tak bisa menyembunyikan senyum mendengar perkataan istrinya yang terlampau manis menurutnya.
"Tentu, Sayang. Aku pergi dulu, love you."
Cup
Setelah mendaratkan ciuman di kening juga bibir istrinya, Aldi benar-benar berlalu adri istrinya.
__ADS_1
Mata Rania berkaca-kaca, begitu berat rasanya berpisah dengan suaminya padahal hanya sebentar.
Dia mengusap air matanya yang berhasil mendarat di pipi sembari bergumam, membalas pernyataan cinta suaminya. "Love you to."