
"Stop, ma!! Jangan menghina istri ku seperti itu! Jika mama tidak ingin menerima Rania sebagai menantu mama, tidak masalah! Aku akan pergi dari mansion ini kalau begitu." Putus Aldi sembari bangkit dari posisi duduknya lalu menarik Rania untuk ikut beranjak dari sana.
"Mau kemana kamu?! Mama belum selesai bicara!" Sentak mama kania menahan amarah.
Aldi pun tak jadi melangkahkan kaki, dia terlihat menatap ke arah mamanya.
"Pembahasan ini berakhir! Aku tidak ingin mama terus menghina istri Aldi!" Ketus Aldi dengan sorot mata menahan kekesalan.
"Jangan pergi, Aldi! Mama masih ingin bicara sama kamu!" Sahut mama Kania sedikit berteriak. Dia tidak suka dengan sikap anaknya yang tiba-tiba ingin meninggalkan tempat padahal baru saja memulai pembicaraan.
"Sudah tidak perlu membicarakan hal ini lagi, kalau pada akhirnya mama hanya ingin menghina istri Aldi." Kata Aldi datar. Bibirnya tidak bisa memaksakan senyum karena hatinya terlanjur kesal.
Dengan tergesa-gesa Aldi menarik tangan istrinya lalu melangkah menuju pintu keluar.
"Lalu bagaimana mama bisa mengenal istri mu kalau kita saja tidak saling mengenal?" Tanya mama Kania lagi. Dan hal itu berhasil menghentikan langkah mereka.
"Kenapa mama bicara seperti itu?" Tanya Aldi mengernyit heran, tak mengerti dengan maksud mamanya. Karena tadi wanita yang berstatus sebagai ibu kandungnya sempat melayangkan kata-kata tidak enak pada istrinya dan sekarang kembali berkata seolah-olah ingin menerima Rania sebagai bagian dari keluarganya.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Mama Kania menjawab pertanyaan Aldi dengan pertanyaan pula.
Aldi menghela nafas berat, dia sungguh tidak mengerti dengan keinginan mamanya ini.
"Bukankah mama tidak menyukai Rania? Jadi untuk apa mama ingin mengenalnya lebih jauh bila keinginan mama hanya akan menyakitinya?" Tanya Aldi yang mengandung penjelasan.
__ADS_1
"Bagaimana mama mau percaya dengan kata-katamu kalau istrimu ini gadis baik-baik sedangkan dia tidak mau memperkenalkan dirinya pada mama?!"
Baik Aldi maupun Rania terperangah dengan perkataan sang mama.
Apakah itu artinya mama menerima Rania sebagai menantu nya? Tanya Aldi dalam hati.
Seketika bibirnya menahan senyum akan hal itu. Ekor matanya melirik istrinya yang juga sedang menatap kearahnya.
Sepertinya Rania juga tahu dengan maksud mertua nya. Aldi memberi kode agar Rania memperkenalkan diri pada mama serta papa nya.
"Perkenalkan tan-te, saya Rania. Maaf, kami menikah tidak meminta restu dari kalian." Kata Rania lirih sembari meremat ujung bajunya. Posisinya masih seperti semula, terus menunduk dan tak berani menatap siapapun orang yang ada di sana kecuali pada suaminya, yang sesekali juga melirik kearahnya.
"Kenapa kau tidak meminta restu kami? Apa kamu juga tidak menganggap kami sebagai orang tua suami mu? Apa se-genting itu hingga kamu juga tidak mengingatkan anakku untuk meminta restu pada kami?" Tanya mama Kania lebih tepatnya mengolok-oloknya.
Tatapan mama Kania menunjukkan ketidaksukaan padanya. Tapi Rania juga dibuat bingung untuk menjawab apa. Karena pada saat akan melangsungkan pernikahan, Rania memang benar-benar tidak mengetahui asal-usul suaminya.
Tapi seiring berjalannya waktu, bahkan tidak memerlukan waktu lama ternyata Aldi berhasil meluluhkan hatinya. Dia menyesal telah acuh tak acuh pada suaminya dulu diawal-awal pernikahan.
Andai dia sedikit saja mau mengetahui latar belakang kehidupan suaminya yang ternyata masih memiliki keluarga, tentu saja Rania pasti akan meminta restu dari kedua orang tua Aldi. Tapi kini tinggallah sesal yang menyeruak di dada.
"Ma, Rania tidak tahu apa-apa. Saat awal-awal menikah Rania terpaksa melakukannya. Aldi yang memaksanya untuk mau menikah dengan Aldi dengan sebuah ancam-"
"APA?! Jadi kamu memaksanya untuk menikah dengan mu?!" Tanya mama Kania menatap tak percaya wajah anaknya. Dia sangat terkejut mendengar fakta ini. Keturunan keluarga Romero menikahi seorang gadis di bawah ancamannya?
__ADS_1
Mama Kania memijit pelipisnya. Begitu pula dengan papa Justin yang ikut melebarkan matanya mendengar pengakuan anaknya. Tapi dia tidak ingin memotong pembicaraan mereka karena masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang ada dibenak nya.
Hah, Kepalanya tiba-tiba berdenyut nyeri. Dia tidak pernah menyangka kedua anaknya akan mendapatkan nasib percintaan yang selalu di warnai dengan drama. Drama di mana anaknya selalu mendapatkan penolakan dari pihak perempuan.
Dulu Adrian yang menikahi Alexa juga tak beda dengan kakaknya saat ini. Mereka sama-sama mengancam seorang gadis untuk mau menikah dengan nya.
Sungguh kenyataan yang memalukan.
Pembicaraan mereka terus berlanjut hingga akhirnya mama Kania tahu bahwa Rania memanglah gadis baik-baik.
Wanita yang saat ini berstatus sebagai istri Aldi itu menceritakan semua kehidupannya dan keluarganya. Sebelumnya Aldi sudah memberi isyarat agar Rania tak membahas tentang kehidupannya melalui isyarat.
Tetapi Rania tak menggubris peringatan suaminya. Menurutnya, dalam sebuah hubungan tidak boleh ada kebohongan di dalamnya. Meski kehidupan nya dianggap aib oleh orang lain, tapi Rania perlu meluruskan sebelum adanya perseteruan.
Terserah, bila orang tua Aldi semakin tidak menerimanya. Yang penting dia berusaha untuk jujur meski merasa berat, tapi dia harus mengatakannya pada dua manusia paruh baya itu agar mereka tak merasa di bohongi nantinya.
"Saya sangat bangga mendengar kejujuran dari mu secara langsung, Rania. Saya sangat bangga pada mu, kamu memperjuangkan hidup mu dan keluarga mu. Kamu mencari nafkah untuk ayah dan kakak mu hingga mengambil pekerjaan yang beresiko sangat besar. Meski saya tidak terlalu suka dengan pekerjaan mu, tapi saya tidak menampik kalau kamu punya keberanian tinggi untuk mengambil jalan itu. Kamu bekerja sebagai pekerja malam, meski hanya seorang pelayan pengantar meminum tetapi pekerjaan mu sangat beresiko."
"Saya tidak punya pilihan, pak." Sela Rania lirih masih dalam posisi menundukkan pandangan.
"Ya saya tahu. Tapi itu sangat beresiko. Untung lah tidak ada laki-laki yang mengambil kehormatan mu. Meski akhirnya kamu tetap diambil kesuciannya, tapi bersyukur, laki-laki itu mau mempertanggung jawabkan perbuatanya Apalagi kamu juga mengatakan sudah lama mengambil job menjadi seorang pekerja malam, ." Tutur papa Justin menatap lembut menantunya. Sedikit terdengar nada kekhawatiran dalam perkataan papa Justin.
Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, sebenarnya papa Justin sudah menerima Rania menjadi menantunya. Tapi dia perlu mengetahui lebih jauh tentang kehidupan Rania sebelumnya. Dan akhirnya terjawab sudah semua pertanyaan-pertanyaan yang sejak tadi menghantui pikiran nya.
__ADS_1
Rania memang terlihat lemah lembut dan sopan dalam bertutur kata hingga mau tak mau orang tua Aldi pun mengakui kalau Rania adalah gadis yang baik.
Apalagi setelah mendengarkan pengakuan kejujuran Rania, membuat mama Kania maupun papa Justin menerima nya. Akhirnya mereka menerima Rania dengan tangan terbuka, bahkan mereka terlihat sangat kasihan dengan nasib yang menimpa Rania.