Hasrat Cinta Adrian (Balas Dendam Pria Patah Hati)

Hasrat Cinta Adrian (Balas Dendam Pria Patah Hati)
Keputusan Papa Justin


__ADS_3

Kabar kebahagiaan tentang hamilnya istri dari putra sulung keluarga Romero langsung menyebar seluruh anggota keluarga.


Papa dan mama Aldi berencana untuk menggelar syukuran untuk kedua menantunya dalam waktu dekat ini.


Sebenarnya mereka sudah berencana untuk menggelar resepsi pernikahan kedua anak nakal nya mengingat dua anaknya menikah tak ada yang menggelar resepsi.


Tetapi, untuk saat ini Tuan Justin masih berpikir ulang untuk menggelar resepsi mengingat kedua menantunya sedang hamil muda. Mereka khawatir, dua wanita yang sedang mengandung penerus keturunan keluarga nya akan kelelahan.


Hari ini semua anggota keluarga berkumpul di mansion utama untuk membahas tentang penggelaran syukuran dan resepsi pernikahan.


Semua orang sudah berkumpul di sofa ruang keluarga. Setiap dari mereka belum ada yang memulai pembicaraan, karena masih menunggu Tuan Justin yang masih berada di ruang kerja.


Adrian terlihat sibuk menjahili Alexa, sedangkan Aldi masih saja sibuk membujuk istri nya yang masih saja merajuk. Entah apalagi yang diperdebatkan antara Aldi dan Rania, tetapi tatapan mata Aldi terlihat mengiba dan frustasi pada Rania yang susah sekali di bujuk.


"Sayang, udah dong marahnya. Janji deh nggak akan ulangi lagi."


Aldi mengangkat tangan kanannya lalu menunjukkan jari telunjuk dan jari tengah nya membentuk peace. Dia berkata berjanji tidak akan mengulangi lagi, tetapi Rania tahu bahwa suaminya ini hanya mengumbar janji, karena setiap dia merajuk Aldi selalu berkata-kata seperti itu hanya untuk menenangkan sang istri bukan karena memang dia tidak ingin mengulangi perbuatannya.


"Ada apa ini? Kenapa kalian seperti sedang marahan?" Tanya mama Kania yang duduk di antara kedua anak menantu nya.


"Ini, ma. Istri ku tidak mau memaafkan ku."


Aldi mengadu pada mamanya seperti anak kecil. Membuat Rania membelalakkan matanya menatap tak percaya pada sang suami yang menjawab pertanyaan mamanya dengan kebenaran tanpa ditutup-tutupi sedikit pun.


"Memang nya apa kesalahan mu sampai menantu mama tidak mau memaafkan mu?"

__ADS_1


Mama Kania menatap Aldi dan Rania bergantian.


"Itu, ma. Semalam Aldi tidak mau berhwentwi mwemwakkwan Rwa-aww.. aww...! Kenapa di cubit, sayang." Dengus Aldi kesal, saat tiba-tiba mulutnya dibekap saat ingin bicara lalu di cubit pahanya dengan sangat keras.


"Jaga ucapan mu." Bisik Rania sembari menempelkan bibirnya penuh penekanan.


"Memang nya kenapa? Kamu malu kalau mama sampai mengetahui tentang masalah kita?" Aldi menatap jengkel pada sang istri.


"Sudah-sudah, kalian Kenapa jadi rubut seperti anak kacil begini?" Lerai mama Kania pada pasangan itu.


Mama Kania pun ikut frustasi duduk di tengah-tengah anak dan menantu nya yang sama-sama sibuk dengan aktifitas masing-masing.


Badan mama Kania terasa gerah berada di tengah nya, dia memutuskan untuk pindah ke posisi lain. Yaitu di kursi singgel yang berada di depan bagian kiri kursi panjang itu.


"Papa ...! Buruan kesini..! Kepala mama rasanya pusing lihat mereka." Teriak mama tujuh oktaf saat melihat suaminya muncul dari balik pintu ruang kerja yang tak jauh dari ruang keluarga.


"Dasar anak kurang ajar! Kamu ngatain mama ganggu?! Dasar anak nakal!"


Hah, sepertinya keluarga ini banyak sekali dramanya. Papa Justin yang baru saja ikut bergabung di salah satu tempat duduk sebelah mama nya hanya bisa menggelengkan kepala.


"Langsung saja ke intinya."


Papa Justin tak ingin membuang banyak waktu karena saat ini pekerjaan nya sangat banyak. Terlebih banyak meeting yang harus di tunda dan ada pula yang dilakukan secara virtual akibat kedatangan nya ke Indonesia secara dadakan hingga membuatnya mengubah beberapa agenda jadwal.


"Papa ingin mengadakan resepsi pernikahan kalian berdua dalam waktu dekat ini. Apa kalian tidak keberatan dengan keadaan Alexa dan Rania yang sedang mengandung?"

__ADS_1


Papa Justin menatap satu-persatu putra dan menantu nya secara bergantian. Awal nya mereka saling berpandangan, lalu Adrian memulai pembicaraan lebih dulu.


Adrian tidak setuju bila acara resepsi nya dilakukan dalam waktu dekat ini, mengingat istri nya masih terus mengalami morning sickness dan juga keadaan Alexa yang sering tak baik-baik saja.


Tetapi, semua itu disangkal oleh Alexa. Dia mengatakan baik-baik saja dan menyetujui keinginan mertuanya. Alexa tahu bahwa kedua orang tua Adrian pasti sudah tidak sabar menggelar acara pernikahan. Bukan hanya itu, dia juga memikirkan tentang pekerjaan papa mertuanya yang di tinggal di London.


Bila terlalu lama di Indonesia, tentu pekerjaan yang ditinggalkan akan semakin banyak, dan dia tak mau papa mertuanya semakin kerepotan menghandle pekerjaan.


Dan perkataan Alexa langsung di benarkan oleh Aldi. Aldi sendiri memang tidak terlalu mengkhawatirkan keadaan Rania. Bukan karena tidak khawatir dan tidak perhatian, tetapi memang karena keadaan Rania yang baik-baik saja dan tak pernah rewel, kecuali moodnya yang selalu naik turun.


Untuk secara fisik, Rania tentu lebih sehat dibanding Alexa karena dia jarang mengalami morning sickness seperti wanita hamil pada umumnya.


"Baiklah, jika memang kalian sepakat untuk menggelar pernikahan dalam waktu dekat ini. Papa akan mengadakan lusa, dan semua persiapan sudah ada yang mengatur." Jelasnya setelah anak-anaknya setuju.


"Dan untuk Aldi," Perhatian papa Justin mengarah pada putra sulungnya dengan sangat intens. "papa harap kamu bisa segera balik ke London untuk meneruskan posisi papa. Sepertinya sudah waktunya papa istirahat dan menikmati hari tua bersama mama," Papa Justin terlihat menoleh ke arah istrinya yang berada di samping lalu menggenggam tangan nya.


"sudah cukup papa membebaskan mu hidup sesuka mu, Aldi. Saat ini waktunya kamu serius dan bangun perusahaan yang papa berikan. Sukur-sukur menjadi lebih maju, tetapi minimalnya kamu harus bisa mengelola dengan baik dan jangan sampai mengalami penurunan. Hanya itu yang papa harapkan."


Papa Justin terlihat sangat tulus mengatakan hal itu, membuat Aldi menunduk diam dan tak bisa berkata-kata untuk menolak.


Jangankan menolak, rasanya saja hati Aldi merasa sangat bersalah karena selama ini selalu hidup sesukanya dan jarang sekali membantu papa nya mengelola bisnis. Padahal dia tahu, papa nya sudah cukup tua dan sudah seharusnya digantikan oleh Aldi.


"Baik, pa. Akan Aldi pertimbangkan. Tapi sebelum itu, beri Aldi waktu sampai kakak Rania sembuh setelah operasi mata dan bisa melihat kembali, supaya bisa menjaga ayah mertua."


Sontak Rania menatap kearah suaminya penuh tanya. Dia sama sekali belum mengetahui kalau kakak nya sudah mendapatkan donor mata. Dia benar-benar sangat terkejut sekaligus merasa bahagia mendengar itu.

__ADS_1


"Ya, tidak perlu terburu-buru. Urus semua keperluan mu disini."


__ADS_2