
Setelah mengantarkan kak Raka ke dalam ruang ICU tempat ayah Rudi terbaring lemah di atas brangkar selama dua hari ini belum sadarkan diri, mereka keluar ruangan.
Aldi dan Rania keluar memberi waktu sebentar untuk kakak nya berbicara pada ayah Rudi.
Sebenarnya ini bukan kemauan Rania, tapi Aldi sendiri yang meminta nya untuk memberi waktu pada kakak nya agar bisa leluasa berbicara pada ayah Rudi.
Rania hanya mengangguk menyetujui karena kebetulan kak Raka juga menginginkan hal yang sama.
Tidak tahu saja maksud terselubung yang ada di dalam otak Aldi.
Sebenarnya Aldi sengaja menyuruh Rania keluar bersama nya agar bisa menikmati waktu berdua.
Sejak kemarin Aldi tak bisa mengajak Rania keluar karena dia tidak mau meninggalkan ayah Rudi sendiri.
Dan saat ini lah kesempatan nya untuk bisa memanfaatkan keadaan.
Aldi terus menuntun tangan rania hingga mereka sampai di taman rumah sakit, lalu duduk di bangku taman yang sama seperti kemarin saat Aldi menyuapi Rania.
"Kenapa kita kesini?" Tanya Rania saat tiba-tiba Aldi mengajak nya kesini.
"Sudah, diam dulu. Aku mau bicara sesuatu." Kata Aldi seraya berjongkok di depan Rania, kedua tangan nya memegang pundak wanita nya.
Manik mata Rania tak lepas dari pandangan Aldi. Dan yang di tatap nya seperti itu membuat Rania salah tingkah.
Ia berusaha mengalihkan pandangan ke arah lain untuk melepas pandangan dari laki-laki itu yang membuat jantung nya tak karuan.
Aldi yang menyadari wanita nya sedang malu, seketika ia mengembangkan senyum.
Aldi tak mengira kalau wajah Rania bisa merona karena di tatap oleh nya.
"Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Rania seraya memalingkan muka.
Ia merasa tak nyaman saat Aldi menatap nya begitu intens.
__ADS_1
"Aku ingin membahas tentang pernikahan kita." Aldi menghela nafas nya sejenak sebelum melanjutkan perkataan nya.
"Maksud nya?" Tanya Rania tak mengerti.
"Rania, aku ingin secepat nya kita menikah. Setelah ayah Rudi siuman, Aku ingin kita segera menikah." Aldi menatap dalam wajah Rania yang terlihat sedang berpikir.
"Kenapa buru-buru sekali?" Tanya Rania memberanikan diri. Seperti nya Rania belum terlalu siap untuk melangsungkan pernikahan.
"Apa kamu belum siap menikah dengan ku?" Tanya Aldi dengan nada sedikit kecewa saat Rania tidak langsung mengiyakan keinginan nya.
"Bukan begitu, Aldi. Tapi aku merasa belum layak untuk menjadi seorang istri." Kata Rania hati-hati.
"Lalu bagaimana kalau di dalam perut mu sudah ada malaikat kecil kita? Kamu tidak lupa kan kalau kita sudah melakukan nya?" Tanya Aldi mengingatkan.
"Iya, aku tidak lupa Aldi. Hanya saja aku merasa belum siap. Kamu belum tahu sifat dan kepribadian ku. Aku sering tidak bisa mengontrol emosi, aku sering marah-marah, aku sering melakukan sesuatu tanpa memikirkan lebih dulu, aku ceroboh. Aku takut, suatu saat nanti kamu tidak akan tahan dengan semua kekurangan ku dan kamu meninggalkan ku." Jelas Rania, pandangan nya menerawang jauh.
Memang Rania masih belum terlalu siap untuk menjalani rumah tangga, ia takut gagal. Melihat banyak nya para pasangan suami istri yang memilih berpisah karena sama-sama belum bisa mengendalikan ego nya.
Dan Rania termasuk orang yang belum dapat mengontrol ego nya. Maka dari itu lebih baik Rania memberi tahu lebih dulu pada Aldi.
"Itu artinya aku akan berusaha sebisa ku untuk tidak akan pernah membuat mu sakit hati." Kata Aldi menjelaskan.
Mendengar penuturan Aldi, Rania diam sejenak. Ia masih memikirkan hal-hal yang terus saja mengganggu pikiran nya.
Bukan karena dia tidak percaya dengan Aldi, tapi Rania sendiri yang masih belum percaya dengan dirinya sendiri.
"Aldi, apa kamu akan sabar kalau aku sering tidak bisa mengontrol emosi? Apa kamu akan sabar saat aku tiba-tiba marah-marah? Apa kamu akan sabar kalau aku banyak melaku_"
"Ssstt..." Aldi meletakkan jari telunjuk nya ke depan bibir Rania untuk menghentikan perkataan nya.
"Aku siap menikahi mu berarti aku siap menerima semua kekurangan mu, aku siap menerima segala kelebihan mu."
"Setiap kekurangan mu, maka aku yang akan berusaha menyempurnakan. Begitu pun sebaliknya, semua kekurangan yang ada pada ku maka kamu yang akan menyempurnakan."
__ADS_1
"Kita sama-sama belajar untuk membangun rumah tangga. Kita bangun keluarga kecil seperti impian mu yang ingin seperti di negeri dongeng yang sering kamu cerita kan dulu."
Rania langsung menatap dalam Aldi saat mendengar kalimat terakhir nya.
"Bagaimana kamu bisa tahu keinginan ku saat kecil ingin memiliki rumah dan keluarga seperti di negeri dongeng?" Tanya Rania penuh penasaran.
"Bukan kah aku hebat bisa mengetahui impian mu di masa lalu?" Bukan nya menjawab pertanyaan Rania tapi malah kembali melontarkan pertanyaan sembari tersenyum bangga.
"Ihhh selalu begitu!" Tangan Rania gemes untuk tidak mencubit Aldi.
"Auhh ... sakit, sayang." Aldi menengadah kesakitan saat tiba-tiba paha nya di cubit dengan keras.
"Kamu tega sekali menyakiti calon suami sendiri. Ini nama nya kdrt loh, sayang." Kata Aldi dengan wajah di tekuk. Tangan nya masih mengelus-elus paha yang masih terasa sakit karena Rania mencubit dengan keras.
"Salah sendiri nyebelin!" Kata Rania tak mau kalah.
"Kamu itu selalu sombong, aku nggak suka suami sombong. Kalo kamu masih terus seperti itu, lebih baik kita batal menikah" Tekan Rania memasang wajah cemberut.
Seketika Aldi gelagapan mendengar nya. "Sayang, jangan bicara seperti itu, aku kan hanya bercanda. Udah, jangan ngomongin batal nikah dong, nggak enak dengerin nya." Kata Aldi memasang wajah mengiba.
"Itu terserah kamu, kalo masih ingin di ulangi, berarti fiks kita batal ME NI KAH!" Kata Rania menekan kan setiap kalimat nya.
"Oke, nggak ulangi lagi deh. please ... jangan ancam gitu lagi dong, aku kan udah kebelet." Kata Aldi dengan wajah mengiba seperti anak kecil.
"Kebelet apa?" Tanya Rania mengerutkan dahi.
"Kebelet KA-WIN." Kata Aldi menahan tawa. Ia sudah bersiap-siap lari untuk menghindari amukan singa betina.
"ALDIII.......!!" Panggil Rania melengking hingga ke seluruh penjuru rumah sakit bisa mendengar nya.
"Hahahaha...!" Aldi yang sudah berlari cukup jauh dari jangkauan Rania akhirnya mengehentikan langkah nya saat mendengar suara pekikan dari singa betina nya.
Ia tertawa terbahak-bahak sembari memegangi perut nya saat melihat wajah Rania dari kejauhan yang sedang menahan untuk tidak mengamuk, Aldi jadi membayangkan ekspresi Rania saat ini seperti banteng yang sudah memunculkan tanduk nya.
__ADS_1
Namun sedetik kemudian ia menghentikan tawa nya saat singa betina itu sedang berjalan mendekati nya dan siap menerkam.