
Tanpa terasa tangan Aldi mengelap sudut bibir nya, membuat semua orang yang ada di ruangan tertawa terbahak-bahak tak terkecuali Rania dan ayah Rudi.
Ayah Rudi yabg sejak tadi hanya melihat interaksi orang-orang di ruangan nya hanya menggeleng-gelengkan kepala menatap tak percaya tingkah calon menantu nya.
Ayah Rudi bahkan baru tahu kalau Aldi se bucin dan se cinta ini pada anak nya.
Sebelum nya beliau hanya tahu kalau Aldi pemuda yang baik, yang bisa menjaga serta melindungi anak nya. Tapi sekarang ia kembali mengetahui kebenaran yang lain, bahwa Aldi memang benar-benar mencintai putri nya.
"Kenapa kalian menertawakan ku?!" Kesal Aldi sekaligus malu karena sadar akan tingkah konyol nya.
"Tidak apa, hanya merasa lucu melihat orang bucin." Kata Angel santai sembari membenahi alat make up nya karena sudah selesai mendandani Rania.
Acara akan segera di mulai, terlihat pak penghulu sudah datang dan saat ini berada di belakang Aldi yang masih berdiri di depan pintu.
"Astaga, Aldi! eike tahu kalau kau sangat terpesona dengan calon istri mu. Tapi setidaknya kau harus mengingat, orang di belakang mu ingin masuk untuk menikah kan mu dengan calon istri tercinta mu." Kata Angel mengingat kan.
Aldi yang menyadari di belakang nya ada orang yang ingin masuk, ia menggeser tubuh nya untuk mempersilahkan sang penghulu serta dua orang saksi masuk ke ruangan.
Setelah itu, Aldi menutup pintu lalu ikut menyusul mereka.
Aldi langsung mendekati Rania yang sejak tadi menunduk karena malu merasa menjadi pusat perhatian, terlebih Aldi yang sejak tadi terus menatap nya tanpa kedip.
Walau Rania tidak melihat ke arah Aldi, tapi ia bisa merasakan kalau Aldi sedang menatap nya.
"Kau cantik sekali, sayang. Aku tidak akan melepaskan mu setelah kita menjadi suami istri." Bisik Aldi tepat di belakang tengkuk Rania karena saat ini posisi nya sedang di belakang wanita yang sebentar lagi akan menjadi istri nya itu sedang duduk di kursi yang di sediakan.
Rania mendadak merinding, tubuh nya meremang, jantung nya mendadak berdebar hebat tak karuan seakan bekerja tiga kali lipat lebih cepat dari biasa nya.
__ADS_1
"Bisa kita mulai?" Tanya sang penghulu yang sudah duduk di kursi depan Aldi dan Rania, di tengah nya terdapat meja persegi panjang yang sengaja di siapkan.
"Sebentar, pak. Saya menunggu adik laknat saya sebagai wakil keluarga saya." Kata Aldi sembari melihat jam tangan yang melingkar indah di tangan kiri nya.
Dia memang sempat menyuruh sang asisten untuk mengabari adik nya supaya datang ke rumah sakit segera, karena ada sesuatu hal yang terjadi pada kakak nya, tapi dia tidak memberi tahu kalau saat ini ingin menikah.
Adik nya terdengar begitu panik saat mendengar kabar kakak nya sedang ada di rumah sakit, terlebih saat mendengar penjelasan asisten Aldi yang menyuruh nya untuk segera sampai di rumah sakit jika tidak ingin kehilangan sang kakak untuk selama-lamanya.
"Apa masih lama, pak?" Tanya pak penghulu sembari melihat jam tangan nya.
"Sabar sebentar lagi, pak. Adik saya masih dalam perjalanan." Kata Aldi sedikit kesal.
Masalah nya bukan hanya pak penghulu yang tidak sabar untuk segera melangsungkan ijab kabul, tetapi dia sendiri lebih tidak sabar ingin segera menjadikan wanita cantik di samping nya menjadi seorang istri.
Sedangkan wanita yang saat ini di samping Aldi mendadak takut, cemas serta khawatir mendengar akan ada keluarga Aldi yang datang kesini.
Selama ini Rania tak pernah berpikir tentang asal usul serta keluarga Aldi. Terlebih Aldi adalah orang yang baru di kenal nya. Namun tiba-tiba menjadi calon suami nya. Rania tak pernah menyangka akan berada dalam posisi seperti ini.
Jika tidak karena ayah nya mungkin Rania tidak akan mengiyakan begitu saja pada orang yang baru ia kenal, terlebih menyangkut pernikahan yang akan di jalani nya seumur hidup.
Rania hanya bisa berharap semoga keluarga Aldi mau menerima nya meski dia dari golongan orang rendahan, tidak setara dengan Aldi.
"Apa kamu tidak siap menikah dengan ku sekarang?" Tanya Aldi sedikit berbisik saat mendengar helaan nafas Rania.
"Bukan seperti itu, tapi aku sedikit takut keluarga mu tak akan menerima ku." Kata Rania yang juga ikut berbisik.
Percakapan itu berhasil di dengar oleh kak Raka yang berada tepat di belakang mereka.
__ADS_1
Sedangkan ayah Rudi tidak bisa mendengar karena jarak nya lumayan jauh dari mereka.
"Tidak perlu takut dan khawatir, jika memang keluarga ku tidak akan menerima mu maka aku siap meninggalkan mereka demi kamu. Tapi seperti nya hal itu tidak akan terjadi karena keluarga ku tidak pernah memilih orang untuk menjadi menantu nya. Ayah dan mama selalu mengutamakan kebahagiaan anak-anak nya, jadi mana mungkin mereka tidak akan menerima mu yang menjadi sumber kebahagiaan ku?" Kata Aldi panjang lebar tetapi masih dengan suara pelan.
Tangan nya mengelus lembut punggung tangan sebelah kiri Rania yang sejak tadi ia genggam untuk memberi ketenangan.
Dan perkataan Aldi seketika membuat hati Rania menghangat, seperti nya ia tidak menyesal mengiyakan pernikahan ini.
Apalagi saat mendengar ucapan Aldi yang mengatakan bahwa dia adalah sumber kebahagiaan nya. Perkataan itu seakan memberikan angin segar untuk Rania.
Ingin rasa nya ia tersenyum atau mengatakan gimbal pada Aldi, namun ia tahan karena di sini masih banyak orang.
Sedangkan kak Raka yang juga mendengar dengan jelas pembicaraan dua orang itu pun merasa ikut bahagia. Tanpa sadar kak raka tersenyum, dalam hati nya ia berdoa untuk kebahagiaan serta kelanggengan pernikahan adik nya.
Brakk
"Bang Aldi!!"
Semua orang terkesiap mendengar gebrakan pintu ruangan karena di dorong dengan keras.
Ayah Rudi pun tak kalah terkejut nya saat mendengar suara pintu di buka dengan keras.
"Huh huh huh." Adrian masih mengatur nafas nya yang terengah-engah karena merasa panik bercampur lelah.
Adrian merasa sangat lelah karena dia berlari menuju ruangan. Untung nya ruangan ayah Rudi ada di lantai satu, jadi Adrian tidak perlu naik turun tangga yang akan semakin membuat nya kelelahan.
"Apa yang terjadi dengan mu, bang?!" Tanya Adrian begitu penasaran saat melihat ternyata kakak nya baik-baik saja.
__ADS_1
Ia mengernyitkan dahi saat melihat seorang perempuan berbalut kebaya dengan riasan tebal seperti seorang pengantin.
Di tambah ada penghulu di depan kakak nya membuat nya begitu penasaran serta ingin segera meminta penjelasan dari sang kakak apalagi sudah membuat nya hampir terkena serangan jantung.