Hasrat Cinta Adrian (Balas Dendam Pria Patah Hati)

Hasrat Cinta Adrian (Balas Dendam Pria Patah Hati)
Sesuai Perkiraan


__ADS_3

"Begini, dokter. Sejak kemarin tingkah istri saya ini sangat aneh-" Bukan Rania yang menjawab, Aldi lebih dulu membuka suara.


"What?!" Rania bangkit dari pangkuan sang suami lalu menatap tajam ke arah nya.


"Kau bilang aku aneh?!" Kata Rania dengan nada suara meninggi. Kemarahan nya langsung berada di ubun-ubun saat Aldi mengatakan nya aneh.


"Sayang, bukan-"


"Bukan maksud apa?!" Rania menyela perkataan Aldi dengan nada meninggi. "Kau ingin mengatakan apalagi?!" Lanjut Rania.


"Astaga." Aldi hanya bisa mende-sah pelan sembari mengelus dada sambil merapalkan doa-doa melihat istrinya yang langsung berubah jadi wolf.


"Sayang, jangan teriak-teriak, malu sama dokter." Kata Aldi dengan suara lembut. Tangan nya meraih lengan istri nya lalu menarik nya hingga duduk di pangkuan nya lagi.


Rania yang tersadar saat ini tidak hanya sedang bersama suami, tetapi juga ada orang lain langsung menutup rapat mulut nya.


Dia sedikit kikuk melihat dokter yang ada di depan nya.


"Maaf." Ucap Rania dengan suara lirih. Dia menunduk menahan malu, tak berani menatap sang dokter yang juga sedang menatap nya.


"Jadi, bagaimana? Apa ada yang ingin Anda keluhkan?" Tanya dokter itu lagi. Setelah sepasang suami istri itu sama-sama diam.


"Tadi saya hanya mual, dok. Tapi suami saya saja yang melebih-lebihkan dan memaksa untuk pergi ke sini." Kata Rania menjelaskan dengan sedikit nada jengkel.


Sang dokter hanya menanggapi nya dengan seulas senyum sembari menganggukkan kepala.


"Kapan terakhir Anda datang bulan?" Tanya dokter itu setelah beberapa saat terdiam.


Rania berusaha mengingat-ingat kapan terakhir dia datang bulan. Sedangkan Aldi menatap ke arah istri nya seakan-akan tak sabar ingin mendengar jawaban istri nya.

__ADS_1


Setelah beberapa saat Rania mulai membuka suara nya untuk menjawab pertanyaan dokter itu. "Hehehe ... Saya lupa kapan terakhir datang bulan, dok." Kata nya diikuti dengan suara cengengesan sembari menggaruk tengkuk nya yang tak gatal. Merasa bingung karena dia sama sekali tak mengingat nya.


Sedangkan Aldi hanya bisa menepuk kening melihat ekspresi wajah istri nya yang membuat nya sangat ingin menggigit pipi lalu seluruh tubuh nya.


"Seperti nya sudah sangat lama, dok. Setelah kami menikah, istri saya belum juga datang bulan." Jelas Aldi. Dia memang belum pernah mendapati istri nya kedatangan palang merah.


"Hm ... Baiklah, kalo begitu sekarang silahkan baringkan tubuh Anda di atas brangkar." Kata dokter wanita paruh baya itu, tangan nya menunjuk brangkar yang tak jauh dari kursi duduk mereka.


Rania mengikuti arahan dari sang dokter. Dia membaringkan tubuh nya di atas brangkar yang dibantu Aldi.


Aldi terus menggenggam tangan sang istri, dia sama sekali tak berniat melepaskan nya. Sesekali memberi kecupan di sana tanpa menghiraukan bahwa di sana masih ada dokter yang sedang memeriksa istri nya.


Sang dokter menyelimuti tubuh bagian bawah Rania lalu sedikit menyingkap gaun yang di kenakan nya.


Dokter itu terlihat mengoleskan gel pada perut Rania, lalu menggerak-gerakkan alat yang di genggam oleh dokter. Baik Aldi maupun Rania tak tahu alat apa yang sedang di genggam oleh sang dokter, tapi mereka tahu alat itu terhubung oleh layar monitor yang berada di sebelah brangkar Rania.


"Tuan Muda Romero dan Nona Rania, Kalian bisa perhatikan titik kecil di monitor ya ... itu adalah janin kalian. Lihat lah, dia masih sangat kecil seperti sebutir kacang hijau." Ujar sang dokter dengan tangan nya masih menempelkan alat di atas permukaan perut Rania.


Padahal sebelumnya Aldi memang sudah menduga istri nya hamil, tetapi saat mendengar nya langsung dari sang dokter, Aldi tak bisa menyembunyikan rasa haru dan bahagia yang bercampur menjadi satu.


Dia begitu terharu, menatap tak percaya pada layar monitor, Rania lalu terakhir menatap sang dokter itu secara bergantian.


"Sayang, Sebentar lagi kita akan menjadi orang tua." Kata Aldi sembari membungkukkan badan, jari-jemari nya semakin meremat kuat tangan sang istri yang masih saling bertautan. Dia mendaratkan kecupan demi kecupan di seluruh wajah istri nya, mulai dari rambut, kening, hidung, kedua pipi dan yang terakhir bibir nya.


Sedangkan Rania masih saja mematung, dia belum memberikan respon apapun pada Aldi maupun sang dokter. Hanya mata nya saja yang terlihat berkaca-kaca.


Rania tak pernah menyangka, jika dulu kehidupan nya selalu mendapatkan ujian terus menerus seakan tak pernah berhenti. Sedangkan sekarang, dia terus saja di karuniai kebahagiaan yang yang tak kunjung hilang, bahkan terus menerus di berikan kebahagiaan.


Rania sangat bersyukur sekaligus tak menyangka, setelah semau kesedihan dan kesusahan dia lewati, kini dia mendapatkan semua kebahagiaan yang belum pernah di rasakan nya.

__ADS_1


Mungkin memang ini lah karunia Tuhan, mungkin memang sudah saat nya dia mendapatkan semua kebahagiaan ini setelah melewati cobaan dengan penuh kesabaran.


"Sayang, apa kamu tidak senang sebentar lagi kita akan memiliki baby?" Tanya Aldi saat tak mendapati respon apapun dari istri nya.


Rania pun akhirnya tersadar dari lamunan nya. Dia menatap jengkel wajah suami nya yang dengan tega mengatakan tak bahagia sebentar lagi akan memiliki anak.


"Bagaimana kau bisa bicara seperti itu? Aku yang mengandung, mana mungkin aku tak bahagia??" Kata Rania bersungut-sungut.


Seharusnya ini adalah moment mengharukan sekaligus kebahagiaan yang tak terkira. Namun seketika mood nya langsung pupus oleh perkataan suami nya yang menurut Rania begitu menjengkelkan.


Hufft ... seperti nya memang Aldi harus benar-benar menyediakan banyak stok kesabaran untuk menghadapi sang istri.


Ah, mungkin setelah ini dia akan mampir ke supermarket lebih dulu untuk mencari toko manapun yang menyediakan stok kesabaran. Bila ada, mungkin Aldi akan memborong semua nya dan memasukkan ke dalam freezer agar bertahan lama.


"Tapi kenapa wajah mu tak menunjukkan ekspresi bahagia?" Tanya Aldi takut-takut. Dia benar-benar menjadi sosok kehidupan yang takut dengan makhluk yang nama wanita.


"Itu karena aku terharu, bukan karena tak bahagia." Kata rania sembari memukul pelan lengan kekar Aldi. "Kau ini tega sekali mengatakan aku tak bahagia akan menjadi seorang ibu." Kata nya lagi.


"Sudah, sayang. Jangan pukul aku terus." Aldi menghentikan pukulan sang istri. "Iya, aku minta maaf karena telah mengatakan hal itu pada mu." Aldi segera meminta maaf pada sang istri karena tak ingin semakin memperpanjang dan melebar hanya karena perdebatan kecil.


Dokter itu terlihat terkekeh kecil melihat drama dari sepasang suami istri itu.


"Kalo begitu, Nona boleh kembali ke tempat duduk." Kata dokter itu setelah membersihkan gel yang melekat di perut Rania dan merapikan gaun nya kembali.


Rania pun mulai bangkit dari brangkar yang tentu saja tak lepas dari jangkauan Aldi. Dia benar-benar tak membiarkan istri nya bergerak sesuka hati. Karena tiap pergerakan yang di lakukan Rania, pasti tak luput dari kendali Aldi.


Dokter itu mengikuti sepasang kekasih yang duduk di kursi dengan membawa beberapa lembar foto hasil USG tadi.


Dokter itu sedikit berbincang-bincang pada pasangan suami istri itu tentang apa saja yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan pada ibu hamil. Apa yang boleh di makan serta apa yang tidak boleh di makan Rania.

__ADS_1


Setelah itu, sang dokter memperbolehkan keluar pada pasangan yang akan segera dikaruniai anak itu.


__ADS_2