
Hari ini adalah hari di mana kakak Rania menjalani operasi mata, baik Rania, Aldi, serta ayah Rudi sedang menunggu di depan ruang operasi.
Sudah hampir setengah jam mereka menunggu, tetapi tak ada tanda-tanda sedikitpun pintu ruangan itu terbuka.
Mereka hanya bisa berdoa untuk keberhasilan operasi kak Putra supaya bisa melihat kembali.
Tentang kepindahan nya ke London, Aldi sudah bermusyawarah pada ayah Rudi dan juga Rania. Mereka sama-sama sepakat menyetujui bila Aldi pindah ke sana, karena bagaimanapun ayah Rudi juga orang tua. Dia tahu posisi papa Justin saat ini, memang sudah seharusnya besan nya yang belum sempat bertemu itu berhenti dari dunia kerja dan menikmati masa tua.
Rania pun tidak masalah jika harus ikut Aldi ke London dan meninggalkan ayah nya di Indonesia hanya bersama sang kakak. Dia tidak khawatir, karena sewaktu-waktu dia pasti bisa menjenguk ayahnya, mengingat suaminya yang kaya raya dan pasti tak akan menjadi miskin bila uangnya hanya digunakan untuk naik pesawat perjalanan London-Indonesia.
Bukan hanya itu, kakak nya akan kembali bisa melihat dunia. Dan tentu saja dia sudah tak khawatir lagi dengan keadaan mereka, karena kakaknya akan menjadi orang normal yang bisa melihat dan berjalan seperti yang lain.
Dia pasti bisa melakukan aktivitas serta membantu ayahnya melakukan segala sesuatunya. Maka dari itu, Rania tak mengkhawatirkan merek sama sekali. Di tambah, fasilitas yang ditinggalkan Aldi disini sangat lah memadai, dia tak perlu memikirkan ayah dan kakaknya tidak makan karena tidak memiliki uang.
Tak lama kemudian pintu ruangan terbuka, seorang dokter datang menghampiri Rania dan keluarga nya.
"Selamat, operasi Mas Raka berhasil." Dokter itu lebih dulu membuka mulut sebelum Rania bertanya. Sang dokter menatap mereka dengan senyum bahagia.
Semua orang mengucap syukur atas keberhasilan operasi Kaka Raka.
Akhirnya, setelah sekian tahun kak Raka tak mampu melihat dunia, kini akan kembali bisa melihat. Baik ayah Rudi maupun Rania sangat terharu, bahkan ayah Rudi sudah meneteskan air mata. Meski tak banyak, tapi itu lah wujud tanda syukur nya dia mendapati anaknya bisa melihat dunia kembali.
Setelah Dokter itu pamit dan berlalu dari sana, mereka ikut berlalu pergi mencari makan karena sejak tadi belum ada yang mengisi perut.
__ADS_1
.
.
.
Waktu begitu cepat berlalu, tak terasa hari sudah menggelap menandakan bumi yang dipijaknya kembali ke malam hari. Kak Raka sudah mendapatkan kesadarannya kembali, tetapi matanya masih tertutup oleh kain kasa dan harus bersabar menunggu beberapa waktu untuk membuka kain itu.
Dalam ruangan itu hanya ada ayah Rudi yang menunggu kak Raka. Aldi dan Rania lebih memilih menghabiskan waktu di apartemen, itu bukan kemauan mereka tetapi ayah Rudi sendiri lah yang menyuruh mereka untuk pulang.
Bukan tanpa alasan ayah Rudi meminta mereka pulang, sebagai orang yang sadar diri dia tak mau terus menerus merepotkan menantu nya.
Semenjak Aldi masuk ke kehidupan mereka, Aldi lah yang selalu bergerak mengurus semua kebutuhan mereka karena mereka memang sangat bergantung pada Aldi. Dan berhubung ayah Rudi sudah sembuh total dari luka bekas operasi nya, dia memutuskan untuk menjaga kak Raka sendiri supaya Aldi bisa istirahat dan tak terganggu oleh mereka.
"Ya, nak. Kamu perlu apa?" Dengan sigap ayah Rudi mendekati brangkar putra nya.
Bukannya menjawab, Raka justru terdiam beberapa saat.
"Terimakasih ..." Katanya lirih.
Ayah Rudi tak tahu apa yang sedang dipikirkan anaknya saat ini, karena tak bisa melihat tatapan mata anaknya.
Tapi dari nada suaranya yang bergetar, sepertinya anaknya itu sedang menahan tangis.
__ADS_1
"Kenapa tiba-tiba kamu berterima kasih pada ayah, hm?"
"Karena ayah, Aku bisa bertahan sampai sekarang dan bisa kembali hidup normal, ayah. Terimakasih karena sudah merasa Raka, padahal seharusnya Raka lah yang membantu ayah, bukan sebaliknya."
Ayah Rudi tergerak mengulurkan tangannya lalu menggenggam nya untuk menyalurkan kekuatan.
"Ayah tidak masalah manjaga mu, kamu adalah kebahagiaan ayah. Mana mungkin ayah abaikan kebahagiaan ayah sendiri." Seulas senyum terbit di bibir ayah Rudi.
"Bukan dengan ayah, nak. Kau harus berterima kasih pada Aldi. Bila tidak ada dia, mungkin ayah belum bisa sembuh, dan kau juga belum menjalankan operasi kaki dan mata mu. Kau harus berterima kasih padanya, dia anak yang sangat baik. Ayah sangat beruntung mendapatkan menantu Aldi. Saudara ipar mu itu bukan hanya kaya, tetapi dia juga sangat baik perangainya. Ayah harus segera bertemu dengan kedua orang tua Aldi yang sudah mendidik Aldi menjadi anak anak yang sangat baik. Ayah harus berterima kasih pada mereka, karena semua perilaku Aldi pasti tak luput dari didikan orang tuanya. Mereka pasti orang tua yang sangat hebat, bisa mendidik anaknya menjadi manusia yang baik akhlaknya."
Ungkap ayah Rudi mewakili semua isi hatinya. Dan Raka pun membenarkan semua perkataan sang ayah Ternyata didikan orang tua sangat lah berpengaruh pada putra putri nya. Jika mereka mendidiknya dengan baik, anaknya akan baik pula. Tetapi bila sebaliknya, tentu saja tak ada yang bisa diharapkan dari hasil didikan nya itu.
"Rania sangat beruntung memiliki Aldi, itu pasti karena Rania juga anak yang baik. Apakah Raka juga akan mendapatkan istri yang baik, ya? Sejak dulu tak pernah menjadi anak yang baik. Bahkan Raka hanya bisa merepotkan kalian. Apakah ada wanita yang sudi menjadi istri Raka, ayah?"
Ayah Rudi kaget karena tiba-tiba Raka mengatakan hal itu.
"Kata siapa, nak? Kamu adalah anak yang sangat baik bagi ayah. Bahkan kamu mendapatkan musibah kehilangan kaki dan penglihatan mu itu karena membantu ayah mencari uang. Tidak ada satu orang pun yang mau berada di posisi mu, tetapi kamu mampu menjalani nya meski batin mu sangat tersiksa. Dan ayah sangat bangga akan hal itu."
"Kamu pasti akan menemukan jodohmu yang juga baik seperti mu. Ayah akan selalu mendoakan yang terbaik untuk mu."
"Tapi Raka tidak berguna, ayah." Suara Raka terdengar bergetar seperti nya dia sedang menahan tangis.
"Kata siapa kamu tidak berguna? Kamu sangat berguna dalam hidup ayah. Semua orang memiliki porsi kelebihan masing-masing. Kamu memang belum melimpahkan ayah banyak harta, tetapi kamu sudah melimpahkan ayah kebahagiaan. Tanpa kamu, mungkin ayah tak akan semangat menjalani hidup, nak."
__ADS_1
Mata ayah Rudi terlihat sangat sendu, sebenarnya ayah Rudi tahu tekanan batin yang selama ini Raka rasakan. Tetapi baru kali ini Raka mengungkapkan didepan nya.