
"Kamu tunggu sebentar, aku belikan makan siang dulu." Perintah Aldi menyuruh Rania menunggu ayahnya di depan kursi operasi.
Rania hanya mengangguk, ia kembali bersedih saat berada di dekat ruangan operasi yang tak kunjung dibuka.
Sebelumnya memang dokter sudah menginformasikan bahwa operasi ayahnya akan membutuhkan waktu sekitar 3-6 jam. Tergantung berapa banyak pembuluh darah baru yang dibutuhkan ayahnya.
Tapi rasanya saat pintu tak kunjung dibuka, Rania semakin dilanda cemas. Ia takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Mengingat operasi ini menggunakan metode Off-Pump Coronary Artery Bypass Grafting atau mirip dengan CABG tradisional, jadi ada prosedur pembelahan tulang dada.
Hanya saja saat melakukan operasi, jantung tidak diberhentikan kinerjanya dan tidak memerlukan mesin bypass jantung paru.
Dan setelah operasi selesai, dokter akan memasang kawat khusus untuk merekatkan tulang dada.
Membayangkan saja Rania sudah dibuat ketakutan, lalu bagaimana dengan ayahnya yang menjalani operasi?
Rania sangat ketakutan, ayahnya pasti merasakan sakit yang luar biasa. Tak ada yang bisa ia lakukan selain berdoa.
Semoga ayahnya kuat menahan rasa sakit agar bisa tersadar kembali.
"Rania." Aldi datang dengan nafas tersengal-sengal sembari menenteng kresek plastik berisi makanan.
Rania mendongak. "Kamu kenapa?" Tanya Rania saat melihat dada Aldi naik turun.
Aldi mengatur nafasnya sejenak sebelum menjawab pertanyaan Rania.
"Tadi aku dikejar wanita jadi-jadian." Jawabnya setelah berhasil mengatur nafas.
"Maksud kamu?" Tanya Rania mengerutkan dahi. Ia tidak maksud dengan perkataan Aldi.
"Tadi ada pria dandan mirip wanita di jalan, tiba-tiba kejar aku mau cium-cium aku hiiiii ..." Aldi bergidik ngeri mengingat wanita jadi-jadian itu memanyunkan bibir dan hampir menyentuh bibir Aldi.
"Pfftt ..." Rania membungkam mulutnya yang hampir saja tertawa.
"Kenapa malah lari? Harusnya nikmati saja, lumayan dapat gratis." Timpal Rania dengan senyum mengejek.
"Kamu bilang apa??" Mata Aldi melotot sempurna. Menatap tajam wajah Rania yang memasang wajah biasa-biasa, tak ada rasa takut sedikitpun.
"Kenapa lari? Harusnya tinggal nikmati saja bibirnya yang seksi, lumayan kan dapat gratisan." Ulang Rania, tak ada raut ketakutan sedikitpun di wajahnya.
"Kamu??" Aldi semakin menatap tajam Rania seperti ingin menelan Rania hidup-hidup.
"Aaaaa ampuuunnn..!" Teriak Rania saat melihat tangan Aldi diangkat keatas seperti ingin memukulnya.
Wajahnya ia tutupi menggunakan kedua tangan dengan lutut yang ditekuk.
"Hahaha kamu lucu sekali." Aldi tertawa keras saat melihat Rania ketakutan padanya.
Perlahan Rania membuka kedua tangannya kembali lalu melihat Aldi yang sedang tersenyum lebar. Entah apa yang terjadi padanya, tiba-tiba hatinya menghangat melihat tawa Aldi.
Seakan menyalurkan energi positif hingga tanpa terasa Rania ikut tersenyum.
__ADS_1
"Kamu harus dihukum karena telah menertawakan ku." Kata Aldi memasang wajah sengit.
"Hah? Kenapa aku? kan kamu sendiri yang menertawakan ku tadi." Sahut Rania tidak terima.
"Tapi kamu sudah mengejekku, jadi kamu harus menerima hukuman ku." Sahutnya kesal.
"Tapi_"
"Pokoknya kamu harus ku hukum!" Potong Aldi.
"Kenapa aku harus dihukum? Aku kan bicara benar. Lumayan dapat _"
"Stop.!! " Aldi berteriak keras sembari mendelik tajam.
"Sepertinya kamu memang benar-benar ingin dihukum." Kata Aldi dengan suara beratnya.
Rania benar-benar ketakutan kali ini, ia menelan saliva nya susah payah. Bulu kuduknya sampai berdiri melihat raut wajah Aldi yang tidak main-main.
"A_ampun, aku janji tidak akan mengulangi lagi. Ta_tapi jangan hukum aku." Pinta Rania dengan suara bergetar. Bahkan untuk bicara saja sampai tergagap karena takut.
"Itu tidak mungkin. Aku akan tetap menghukum mu." Kata Aldi sembari menatap lekat wajah Rania.
Perlahan namun pasti, Aldi semakin mendekat kearahnya. Dalam satu detik, Aldi berhasil menarik tubuh Rania hingga berdiri.
Ia memegang erat pinggang ramping Rania hingga dua tubuh itu saling menempel. Jantung Rania berdetak tak karuan, bibirnya kelu untuk berkata.
Apalagi melihat tatapan Aldi yang begitu mematikan, Rania tidak berani memberontak. Bahkan menelan saliva nya saja sangat susah melihat tatapan itu. Dia pasrah dengan apa yang akan dilakukan Aldi.
Hembusan nafas Aldi mengenai tepat di wajah serta leher Rania, hingga membuatnya merasakan sensasi geli.
Tepat setengah centimeter bibir keduanya bertemu, tiba-tiba...
Cklek.
Dua sejoli itu terkesiap, menatap kearah pintu ruangan operasi yang baru saja dibuka.
Dokter dan beberapa perawat keluar dari ruangan.
Rania langsung mencubit pinggang Aldi untuk melepaskan dekapannya. Dengan segera Aldi melepaskan belitan tangannya lalu menghampiri Dokter.
"Bagaimana operasi ayah Rudi, Dokter?" Tanya Rania tidak sabaran.
Dokter itu melepaskan masker sebelum menjawab. "Selamat, operasinya berjalan lancar." Kata sang dokter sembari mengulas senyum.
"Alhamdulillah ..." Rania membekap mulutnya sembari mengucap syukur. Akhirnya dia bisa bernafas lega.
Begitupun dengan Aldi, dia ikut mengucapkan syukur karena akhirnya operasi ayah Rudi berjalan lancar.
"Apa saya boleh melihatnya, dok?" Tanya Rania. Dia ingin segera melihat keadaan ayahnya.
"Mohon maaf, sebaiknya jangan masuk dulu karena pasien akan dipindahkan ke ruang ICU selama beberapa hari sampai pasien sadar. Setelah dipindahkan di ruangan ICU, keluarga pasien boleh menjenguk tetapi dibatasi satu orang jika ingin masuk. Kalian bisa bergantian untuk melihatnya." Jelas sang dokter. Rania hanya mengangguk lesu karena belum diperbolehkan menjenguk ayahnya.
__ADS_1
"Kalau begitu, saya permisi." Pamit sang dokter.
Aldi dan Rania menganggukkan kepala serempak.
"Sudah, tidak perlu bersedih. Yang penting operasi ayah Rudi lancar dan akan segera pulih. Lebih baik sekarang kamu makan. Kita ke taman saja supaya makan mu berselera." Aldi menunjukkan kresek berisi makanan yang sejak tadi dibawa.
Lagi-lagi Rania hanya mengangguk. Mereka berjalan beriringan, kedua manusia itu saling menautkan tangan menuju taman yang ada di halaman rumah sakit.
Setelah sampai di bangku taman, Aldi segera memposisikan Rania duduk seperti anak kecil lalu membuka kresek itu.
"Sebentar, aku cuci tangan dulu." Pamit Aldi sontak Rania mencekal pergelangan tangannya.
"Kenapa kamu yang cuci tangan? Kan aku yang mau makan." Tanya Rania.
"Jangan banyak bertanya, sebaiknya kamu duduk disini dan ikuti perintah ku." Sahut Aldi.
"Kalau begitu aku ikut, aku juga mau cuci tangan." Rania bangun dari duduknya.
"Jangan membantah ku, kamu cukup diam disini dan jangan kemana-mana sebelum aku kembali." Perintah Aldi tak mau dibantah sembari memposisikan Rania agar duduk lagi.
Setelah mengatakan itu, Aldi langsung berlalu dari sana.
Sedangkan Rania memandang Aldi yang lama-kelamaan menjauh darinya dengan raut wajah bingung.
"Aneh." Batin Rania sembari menggelengkan kepala.
Rania merasa aneh saja, dia yang ingin makan tapi Aldi yang cuci tangan.
Rania jadi berpikir, Jangan-jangan kalau mereka jadi menikah, Rania yang buang air tapi Aldi yang cebok.
Rania menggeleng-gelengkan kepala memikirkan tingkah konyolnya.
Tak berselang lama Aldi kembali dengan tangan memegang tissue.
"Ayo makan, aku yang suapi kamu." Kata Aldi sembari membuka box berisi makanan.
"Hah?" Rania membuka mulutnya lebar-lebar, merasa bingung dengan Aldi.
"Ini sebagai hukuman mu yang tadi karena berani mengejekku. Jadi kamu harus makan, tapi aku yang menyuapi." Kata Aldi dengan senyum kemenangan.
"Issh..." Rania hanya mencebikkan bibir. Karena tak mungkin menolak, dan akhirnya Rania makan disuapi Aldi.
Tak hanya itu, Aldi juga ikut makan dengan sendok yang sama. Karena sebenarnya Aldi pun belum makan sejak tadi.
Rania sudah menghentikan Aldi saat ingin makan menggunakan bekas sendoknya. Tapi jawaban Aldi semakin membuatnya bungkam.
"Tidak apa-apa makan menggunakan bekas sendok mu. Lagian kita pernah melakukan hal yang lebih" Jawabnya enteng.
Wajah Rania memerah saat Aldi mengingatkan kejadian itu.
...💙💙💙...
__ADS_1
...TBC...
See you next chapter