
"Bohong, ayah! Laki-laki ini berkata bohong! Rania nggak pernah pacaran sama siapapun!" Rania menyangkal keras semua ucapan Aldi.
"Sayang, jangan terlalu keras berbicara dengan ayah. Kasihan, ayah sedang sakit." Tegur Aldi lembut seraya menyentuh bahu Rania yang langsung di tepis oleh sang pujaan hati.
Muak sekali rasanya melihat akting nya yang sangat hebat. Apalagi tampang wajah nya begitu menghayati peran, membuat nya ingin sekali melempari nya dengan kotoran kuda atau bahkan lumpur lapindo sekali pun.
Beda hal nya dengan Ayah Rania, ia semakin berdecak kagum melihat kesopanan pemuda yang menjadi kekasih anak nya karena sangat menghormati nya sebagai orang tua. Bahkan tak segan menegur anak nya agar tidak berkata keras.
Tentu ayah Rania justru lebih percaya dengan semua perkataan Aldi dari pada anak nya sendiri. Melihat bagaimana sikap Aldi dan pandangan mata nya yang memang menyiratkan begitu banyak nya rasa cinta untuk putri nya .
"Aldi pemuda yang baik, kamu seharusnya jangan menyia-nyiakan dia, nak. Jika kalian sedang ada masalah, maka selesai kan lah dengan baik-baik. Jangan sampai masalah ini terlalu berlarut-larut karena itu sangat tidak baik dalam sebuah hubungan." Tutur ayah Rania menasehati dengan lembut.
Mendengar penuturan dari calon mertua, Aldi semakin di buat jumawa dan tersenyum bangga. Seakan baru saja mendapatkan sayap lebar dan siap terbang tinggi hingga ke awan.
Beda hal nya dengan Rania yang semakin muak pada laki-laki yang sudah membohongi ayah nya.
"Dasar! Pembohong ulung!" Batin Rania. Tangan nya sejak tadi masih terkepal kuat tapi belum berani untuk melayangkan kepalan itu karena saat ini ada sang ayah di hadapan nya.
Bisa-bisa, ayah nya terkena serangan jantung jika melihat kelakuan anak nya yang ternyata berbakat sebagai seorang kriminal.
"Ayah! Seharusnya ayah jangan percaya pada orang yang baru saja ditemui! Siapa tahu kalau dia laki-laki jahat! Ayah, percaya lah pada Rania, dia bukan siapa-siapa nya Rania." Bujuk Rania penuh harap.
Tangan nya menggenggam erat tangan ayah nya yang terhubung selang infus.
"Sayang, kamu tega sekali mengatakan aku orang jahat. Maaf kan aku kalau memang aku salah, tapi aku hanya ingin menjenguk ayah Rudi yang sebentar lagi menjadi mertua ku. Tapi kenapa kamu bersikeras melarang nya? Aku tahu kalau kamu belum siap menikah, tapi mau sampai kapan kita menjalani hubungan seperti ini? Aku hanya ingin kita menjalin hubungan resmi supaya aku bisa melindungi dan menjaga mu." Kata Aldi dengan nada kecewa. Tatapan wajah nya seakan sangat berputus asa.
__ADS_1
"Apakah yang katakan itu benar?" Tanya ayah Rania dengan tatapan dalam.
"Ya, itu benar. Saya sudah berulang kali membujuk Rania untuk menjalin hubungan ke jenjang pernikahan. Tapi Rania selalu menolak dengan alasan belum siap. Padahal kita sama-sama sudah dewasa. Saya berjanji akan menafkahi dan memperlakukan Rania dengan baik. Saya akan berusaha keras untuk membahagiakan nya. Tapi ... " Aldi menghentikan perkataan nya untuk menghela nafas panjang seakan-akan dia sedang berputus asa dan sangat kecewa pada keadaan yang menimpa.
"Rania selalu menolak setiap kali saya mengajak menikah. Mungkin saya bukan laki-laki baik untuk nya, jika memang Rania tidak mencintai saya, maka saya tidak akan memaksa. Saya akan melepaskan Rania kepada pria pilihan nya. Tapi sebelum saya benar-benar melepaskan nya, saya hanya ingin melihat Rania berada pada laki-laki yang tepat. Dan saya akan ikhlas serta tabah untuk melepaskan meski hati saya tidak baik-baik saja." Kata Aldi sendu.
Mata nya sudah berkaca-kaca hingga menarik perhatian dari ayah Rania.
"Kamu pria yang baik, nak. Saya akan sangat bahagia jika Rania bisa hidup bersama pria seperti mu. Saya merestui hubungan kalian." Tutur ayah Rudi seraya memberi perintah agar Aldi mendekati nya melalui gerakan tangan.
"Rania, sini." Ayah Rania kini berganti memanggil anak nya untuk mendekat lalu menggenggam satu-satu tangan mereka.
"Rania, umur ayah sudah tidak lama lagi ... "
"Ayah! Kenapa ayah bicara seperti itu?! Jangan pernah bicara seperti itu lagi. Ayah itu masih bisa sembuh." Sanggah Rania tak habis pikir, bisa-bisanya ayah nya berbicara hal yang sangat tidak ingin Rania dengar.
"Sst ... anak ayah jangan menangis. Ayah berkata yang sebenarnya. Sekarang ayah ingin bertanya pada mu. Apakah jika ayah memiliki sebuah permohonan, anak ayah yang cantik ini akan mengabulkan nya?" Tanya ayah Rania menatap lekat wajah anak nya yang sedang membendung air mata.
"Ayah ini bicara apa? Nggak ada permohonan karena ayah pasti bisa sembuh." Sanggah nya.
"Tidak, nak. Tidak ada yang mengetahui umur seseorang, entah besok ayah masih diberikan umur atau tidak. Kita hanya bisa pasrah pada sang pencipta. Tapi sepertinya firasat ayah ini benar, kalau umur ayah tidak akan lama lagi." Tutur ayah Rudi serius, menatap dalam manik mata putri satu-satunya.
"Jika ada sesuatu yang menjadi keinginan ayah untuk terakhir kali, apa Rania akan mengabulkan permintaan ayah?" Laki-laki paruh baya itu menatap lekat bola mata anak nya penuh harap.
"Kenapa ayah bicara seperti itu? Bahkan apapun yang Rania lakukan semata-mata hanya untuk kebahagiaan ayah. Lalu kenapa Rania tidak mau mengabulkan permintaan ayah? Asalkan ... " Rania menggantungkan kalimatnya.
__ADS_1
Sang ayah tersenyum pada anak nya. "Asalkan apa, nak?"
"Asalkan ayah tidak menyuruh Rania untuk menikah dengan laki-laki brengsek itu." Tunjuk Rania sembari mengacungkan jari nya di depan wajah Aldi.
"Meski itu adalah permintaan terakhir ayah?" Tanya nya lagi.
Rania jadi bimbang kali ini. Sebenarnya ia sudah mengetahui arah pembicaraan ayah nya akan menyudut pada Aldi.
"Sebenarnya anak ayah Rania atau dia?" Tanya Rania menahan kesal karena ayah nya lebih mempercayai kata-kata bualan laki-laki itu dari pada anak nya sendiri.
"Tentu kamu anak ayah, putri satu-satunya ayah yang selalu mengurus dan merawat ayah yang sakit-sakitan ini." Kata ayah Rudi sendu.
Pak Rudi sangat bangga memiliki putri yang sangat berbakti pada nya. Meski Rania di tinggal pergi ibu nya sejak umur 7 tahun, tapi Rania tumbuh menjadi gadis baik, penurut, dan tidak mudah menuntut.
"Tapi ayah tahu mana yang baik dan mana yang buruk untuk mu. Meski ayah baru pertama kali ini mengenal Aldi, tapi ayah tahu bahwa dia pemuda yang baik dan bisa menjaga mu. Ayah akan sangat lega jika menitipkan putri ayah pada nya."
Sedari kecil Rania sudah banyak mengalami kesakitan dalam menjalani keras nya hidup. Ayah Rudi berpikir inilah saat nya Rania bisa menjalani hidup bahagia layak nya manusia normal pada umumnya.
Ia akan sangat bahagia jika bisa melihat putri satu-satunya yang sudah merawat nya selama hampir sepuluh tahun ini bisa bahagia.
"Apa kamu tak ingin mengabulkan permintaan ayah mu yang terakhir ini?"
Dari semalem mau nulis nunggu ada yang ngasih kopi sama kirim bunga, ternyata ga ada. Kasian 🤣🤣
...💙💙💙...
__ADS_1
...TBC...
See you next chapter 👋🙂