Hasrat Cinta Adrian (Balas Dendam Pria Patah Hati)

Hasrat Cinta Adrian (Balas Dendam Pria Patah Hati)
Dua Permintaan Ayah


__ADS_3

Kini saatnya jadwal operasi ayah Rudi. Para petugas medis bersiap memindahkan ayah Rudi menuju ruang operasi.


Namun sebelum itu, ayah Rudi memanggil Rania dan Aldi untuk mendekat.


"Rania." Panggil ayah Rudi dengan suara lemahnya.


"Iya, ayah. Apa ayah membutuhkan sesuatu?" Tanya Rania dengan sigap mendekati ayahnya.


Ayah Rudi menggeleng pelan sembari tersenyum lemah. "Sini, nak. Pegang tangan ayah." Katanya. Rania hanya menurut, tanpa bertanya apapun.


"Dimana Aldi?" Tanya ayah Rudi sembari mengedarkan pandangan.


"Aku disini, ayah. Apa ayah membutuhkan sesuatu?" Tanya Aldi sigap, sama persis seperti Rania tadi. Padahal ia baru saja datang, tapi ia berhasil menangkap perkataan pria paruh baya itu.


Ayah Rudi tersenyum lembut menatap keduanya.


"Sini, nak Aldi. Ayah ingin bicara sebentar."


Aldi mengangguk kemudian mendekat ke samping kiri ayah Aldi bersebrangan dengan Rania yang ada di sebelah kanan.


"Rania." Panggil ayah Aldi sembari menatap lekat mata teduh anaknya.


"Iya, ayah. Ada apa?" Tanya nya lembut.


Terlihat ayah Rania menarik nafas dalam sebelum berkata. "Nak, ayah tidak tahu apakah operasi ini akan berhasil atau tidak ..." Ayah Rudi menghentikan perkataan nya yang seakan tercekat di tenggorokan.


Lidahnya terasa kelu untuk meneruskan perkataannya tapi memang sudah seharusnya ia mengatakan pada anaknya.


"Ayah ini bicara apa? Tentu operasi ini akan berhasil. Dan ayah akan sembuh kembali, kita bisa hidup bahagia seperti dulu." Rania tak mampu mendengarkan perkataan ayahnya yang membuat dia sedih.


Dengan segera ia sandarkan tubuh nya di atas dada ayah nya. Rania memeluk erat tubuh ayahnya yang terlihat semakin kurus.


Sedangkan Aldi hanya diam, tak menanggapi perkataan ayah Rudi. Namun sejujurnya, dari lubuk hatinya yang paling dalam ia juga merasa kasihan melihat mereka.


Ada rasa sakit yang bersemayam di hati melihat dua orang yang ada dihadapannya terlihat pilu.


"Ayah berkata kenyataan, Rania. Entah, apakah operasi ini akan menyembuhkan ayah atau sebaliknya_"


"Ayah! Jangan berbicara seperti itu lagi, ku mohon. Rania tidak sanggup mendengarnya."

__ADS_1


Air mata Rania sudah menggenang di pelupuk mata. Sungguh ia tidak sanggup membayangkan harus kehilangan sang ayah.


Seorang ayah yang sudah memberikan kehidupan untuk nya. Sosok ayah yang rela mengorbankan segalanya untuk Rania. Sosok ayah yang mampu menjadi figur seorang ibu.


Ditinggal sang ibu untuk selamanya saat Rania masih berumur 8 tahun menuntutnya harus menjadi ayah sekaligus ibu untuk kedua anaknya.


Selama ini ayah Rudi banting tulang sendiri untuk menghidupi dua anaknya, dengan harapan anak-anak nya bisa mendapatkan kehidupan yang baik layaknya anak-anak pada umumnya.


Meski berusaha keras, nyatanya penghasilan ayah Rudi belum memenuhi semua kebutuhan hidupnya. Hingga mau tak mau mereka dituntut hidup sederhana tak seperti yang lain.


Bahkan untuk makan saja hanya bisa membeli satu bungkus mie instan sebagai lauk nasi untuk 2 anaknya dan dirinya.


Sangat miris kehidupannya dulu saat anak-anaknya masih kecil. Beruntung ayah Rudi memiliki anak yang penurut dan tidak banyak menuntut.


Meski demikian, terkadang ayah Rudi lah yang merasa hatinya teriris saat mendapati anaknya melihat teman-temannya bisa di belikan mainan oleh orang tuanya.


Sedangkan anaknya sendiri hanya mampu memandang dari kejauhan seraya berandai-andai bisa memilikinya.


Dan yang paling menyedihkan adalah saat ada pedagang es krim keliling di depan rumah nya, Ayah Rudi tahu anaknya sangat ingin membeli es krim. Rania menangis meminta dibelikan es krim, sedangkan ia tak memiliki uang sepeserpun karena sudah habis untuk membayar cicilan kontrakan.


Sedangkan kakak Rania yang sudah memahami kondisi ekonomi ayahnya hanya mampu memandang anak-anak lain sedang membelinya.


Tanpa terasa ayah Rudi meneteskan air mata mengingat kehidupannya dulu.


"Iya, apa itu ayah? Ayah ingin minta apa? Pasti akan Rania kabulkan jika Rania bisa." Katanya sungguh-sungguh.


"Yang pertama, Ayah ingin kamu berjanji untuk menikah dengan nak Aldi." Katanya dengan suara lemah.


"Apa jika ayah melihat Rania menikah dengan dia, ayah akan bahagia?" Tanya nya menatap lekat mata sendu ayahnya.


Rania tak mau mengelak lagi, ia tak ingin membuat ayahnya kecewa dengan penolakannya.


"Mungkin memang inilah jalan hidupku. Harus menikah dengan laki-laki yang sudah tidur dengan banyak wanita." Batin Rania.


"Ayah akan sangat bahagia jika kamu mau menikah dengan Aldi, sayang. Aldi adalah laki-laki yang baik. Ayah percaya, dia akan menjaga dan melindungi mu dengan baik." Katanya begitu yakin. Ia melengkungkan bibir keatas hingga terbit sebuah senyuman, senyum yang terlihat bahagia.


"Baiklah, jika memang ini menjadi kebahagiaan ayah. Maka Rania bersedia menikah dengan nya." Kata Rania. Ada sedikit guratan kesedihan yang terlihat di matanya.


Rania takut semua yang dikatakan ayahnya salah. Dia takut jika menikah dengan Aldi bukanlah sumber kebahagiaan nya. Melainkan menjadi penyebab kesedihannya.

__ADS_1


Sedikit banyaknya Rania tahu, bagaimana kehidupan orang kaya seperti Aldi. Dikelilingi banyak wanita yang sewaktu-waktu bisa dengan mudah ia miliki.


Rania takut diduakan, ia tidak sanggup menjalani hari-harinya bersama laki-laki seperti Aldi yang sering bergonta-ganti wanita.


Dan yang paling membuat Rania takut adalah saat mengingat Aldi adalah seorang hartawan. Biasanya seorang kaya raya akan memperlakukan orang dengan semena-mena.


Rania takut setelah menikah dia akan disiksa olehnya seperti cerita di novel yang pernah ia baca.


"Syukurlah, jika kau mengabulkan permintaan ayah." Ayah Rania tersenyum lembut.


"Apa nak Aldi mau berjanji untuk selalu membahagiakan putri ayah satu-satunya ini?" Tanya ayah Rudi berbalik menatap pemuda disampingnya.


"Tentu, ayah. Aldi akan berusaha untuk selalu membahagiakan Rania sekuat dan semampu Aldi." Kata Aldi mantap.


"Terimakasih, nak. Ayah harap kau akan selalu mengingat janjimu." Sahut ayah Rudi menatap dalam Aldi.


"Itu pasti, ayah. Kebahagiaan Rania adalah kebahagiaan ku. Kesedihan Rania juga kesedihan ku." Kata Aldi serius.


Sedangkan Rania menggerutu dalam hati mendengar penuturan yang keluar dari bibir Aldi. Terdengar sangat manis tapi itu hanyalah sebuah racun yang dapat membunuhnya jika dipercaya.


"Dan untuk permintaan ayah yang ke-dua..."


"Ayah ingin kau selalu menjaga kakak mu, rawatlah dia seperti biasanya. Meski kau sudah menikah dan tinggal di rumah yang berbeda. Ayah mohon, jangan telantarkan kakakmu sendiri. Dia tidak bisa berjalan, tidak bisa melihat. Maka kamu sebagai saudara satu-satunya yang harus bisa menjadi mata serta kaki nya."


Mendengar penuturan sang ayah, Rania tak mampu lagi untuk menahan air matanya.


Mengingat kehidupan kakaknya yang jauh lebih menyedihkan dari nya.


Selama beberapa hari terakhir ini Rania sampai melupakan kakak nya karena terlalu larut dalam kesedihan yang ia alami.


"Iya, ayah. Rania tidak akan pernah meninggalkan kak Raka sendiri. Kak Raka adalah bagian dari jiwaku, maka Rania akan menjaganya seperti Rania menjaga diri sendiri." Kata Rania dengan air mata yang terus berderai.


Sedangkan Aldi hanya mampu mendengarkan obrolan mereka tanpa berani bertanya, ia pikir jika sudah saatnya pasti akan mengetahui kehidupan Rania lebih jauh.


Setelah pembicaraan itu, Para perawat benar-benar membawa ayah Rudi menuju ruang operasi. Rania hanya bisa memandangi ayahnya dengan pandangan sulit diartikan.


Sedikit mengandung bawang, sampai yang nulis ikut mengsedih.😔


...💙💙💙...

__ADS_1


...TBC...


See you next chapter 👋🙂


__ADS_2