
Pagi ini, Aldi berkunjung kembali ke rumah sakit tempat ayah Rudi dirawat.
Semalam Aldi sudah menyelesaikan seluruh administrasi pengobatan ayah Rudi termasuk biaya operasinya yang akan dilakukan pagi ini.
Tidak hanya itu, Aldi juga memindahkan tempat penginapan ayah Rudi ke ruang VVIP.
Sebelumnya ayah Rudi di tempatkan di ruangan kelas 3 yang semua fasilitasnya sangat terbatas. Bahkan satu ruangan di tempati beberapa pasien, hanya diberi sekat menggunakan gorden.
Beberapa menit kemudian, Aldi sampai di parkiran rumah sakit. Ia keluar sembari menenteng paper bag berisi kotak makan.
Ia sengaja menyuruh koki dapur kakaknya untuk membuatkan sarapan yang akan diberikan pada Rania.
Baru saja memasuki gedung rumah sakit, Aldi kembali bertemu dengan OB tengil yang kemarin mengerjainya.
"Selamat pagi, pak." Sapanya ramah.
"Hem." Aldi hanya berdehem menanggapi sapaan OB itu. Hatinya masih dongkol tak terima dia dikibuli oleh laki-laki remaja yang berprofesi sebagai Office boy.
"Bapak mau Saya bantu dorong menggunakan kursi roda lagi nggak?" Tawarnya sembari tersenyum mengejek.
"Nggak perlu! Gue bukan orang lumpuh!" Jawabnya ketus sembari melanjutkan langkahnya.
Satu detik kemudian Aldi kembali berbalik menatap tajam sang office boy.
"Dan ingat satu hal lagi! Jangan pernah panggil gue Bapak karena gue bukan bapak lo!" Katanya dengan nada jengkel.
"Terus saya harus memanggil apa, pak?" Tanyanya bingung. Karena tak tahu harus memanggil menggunakan panggilan apa yang cocok untuknya.
"Apa lah terserah! Yang penting jangan panggil Bapak!" Tegas Aldi.
Tidak mungkin juga OB itu memanggil Aldi dengan sebutan manusia sengklek. Bisa-bisa kepalanya digetok olehnya.
Hiiii ... membayangkan saja sang office boy bergidik ngeri saat laki-laki bertubuh tinggi dan besar didepannya ini berubah menjadi sesosok monster yang menyeramkan dan ingin menggeplak kepalanya sampai otaknya hilang.
"Kalau begitu, saya panggil bapak dengan sebutan bos aja, ya?" Tawarnya sembari tersenyum berbinar.
"Terserah!" Jawab Aldi kemudian meneruskan langkahnya.
"Dih ... Bos itu nggak cocok jadi orang galak." Kata OB itu sembari tersenyum mengejek.
"Emang kenapa?" Tanya Aldi sembari menaikkan alisnya.
"Karena Bos itu somplak, mana mungkin orang somplak itu galak?" Katanya tanpa ketakutan menatap mata orang yang dipanggil bos olehnya.
"Kamu?!" Aldi melotot tajam mendengar penuturan sang office boy.
__ADS_1
Satu tangannya terkepal kuat, satunya lagi semakin meremat paper bag yang dibawanya.
"Kaboorrr....!!!" Teriak sang OB saat menyadari bos somplak itu ingin segera melayangkan paper bag yang ditentengnya sejak tadi.
"Sialann!!" Umpat Aldi menggeram kesal.
Lagi lagi Aldi dibuat darah tinggi oleh seorang office boy yang masih berumur belasan tahun.
Dadanya naik turun, nafasnya tidak beraturan, ia sangat marah pada si bocah tengil itu. "Awas saja! kalau gue ketemu sama lo lagi, jangan harap lo bisa lolos dari gue!" Batin Aldi menahan amarah.
Ini seharusnya bukan waktunya untuk marah karena sebentar lagi akan segera bertemu dengan Rania beserta calon mertua.
Aldi meneruskan langkah sembari mengontrol kemarahan nya.
Tak berselang lama, akhirnya ia sampai di ruangan ayah Rudi yang sudah berada di ruang VVIP.
"Selamat pagi, ayah. Bagaimana kabar ayah? Apa sudah lebih baik?" Sapa Aldi ramah. Ia tersenyum sumringah menyalimi tangan calon mertuanya.
"Selamat pagi, nak. Alhamdulillah ayah sudah lebih baik. Berkat bantuan mu, ayah juga lebih betah di ruangan karena sekarang sangat nyaman, berbeda dengan yang kemarin." Jawab ayah Rudi jujur.
Aldi tersenyum lebar menanggapi perkataan calon ayah mertua.
"Syukurlah kalau ayah nyaman. Sebentar lagi ayah akan segera operasi, semoga operasinya berjalan lancar. Dan ayah bisa sehat kembali." Tutur Aldi serius menatap dalam calon ayah mertuanya.
Jika sedang seperti ini, tak terlihat sedikitpun sifat Aldi yang somplak, songong dan bikin kesal orang.
"Aamiin ... Ini semua berkat bantuan mu. Ayah tidak akan pernah melupakan semua kebaikanmu." Tutur ayah Rudi.
Bersyukur anaknya dipertemukan dengan pemuda sebaik Aldi. Tidak hanya mencintai anaknya, tapi juga mencintai orang yang dicintai anaknya pula.
Ayah Rudi sangat kagum pada calon suami anaknya. Ayah Rudi bertekad akan membujuk Rania untuk menikah dengannya.
Sangat disayangkan jika laki-laki sesempurna Aldi dilepaskan begitu saja. Apalagi saat melihat tatapan Aldi yang selalu menatap penuh cinta pada sang anak, membuat ayah Rudi semakin yakin dan percaya untuk menitipkan putri satu-satunya pada Aldi.
"Ayah jangan bicara seperti itu. Kesehatan ayah adalah tanggung jawabku. Sebentar lagi ayah Rudi akan menjadi ayah mertua Aldi. Jadi sudah sepantasnya Aldi menanggung semua beban Rania. Do'akan Aldi semoga bisa meluluhkan hati Rania." Tutur Aldi menatap lembut ayah Rudi.
Ia sangat berharap ayah Rudi bisa membujuk Rania agar mau menikah dengannya.
"Itu pasti, nak. Ayah sangat mendukung jika Rania menikah dengan pemuda sebaik kamu. Ayah akan berusaha membujuknya untuk bersedia menjadi istri mu." Ucap ayah Rudi bersungguh-sungguh.
"Terimakasih ayah, aku sangat senang ayah merestui hubungan kami." Aldi mengembangkan senyum sembari memegang erat tangan ayah Rudi.
"Sama-sama, nak." Ayah Rudi pun tak kalah bahagia nya seperti Aldi karena akhirnya Rania mendapatkan pemuda yang sangat tepat untuknya. Laki-laki yang bisa menjaga dan melindunginya setelah ayah Rudi tak lagi bisa menemaninya.
"Oh iya, Ayah. Dimana Rania? Kenapa sejak tadi Aldi tidak melihat Rania?" Tanyanya sembari mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
__ADS_1
"Rania pulang sebentar untuk ganti baju, nak. Kemarin karena terburu-buru dia tidak sempat membawa baju ganti. Mungkin sebentar lagi dia akan segera kembali." Kata ayah Rudi menjelaskan.
Aldi mengangguk mengerti kemudian duduk di sofa yang ada di sana lalu meletakkan paper bag itu ke atas meja.
Aldi membuka ponsel, ingin sekali menghubungi Rania dan bertanya dimana wanitanya berada tapi tak memiliki kontaknya.
Bertanya pada ayah Rudi pun sangat tidak mungkin mengingat dia sudah berbohong dan mengaku-ngaku sebagai kekasih Rania selama setahun.
Jika Aldi bertanya padanya, tentu ayah Rania akan curiga. Akhirnya Aldi memutuskan untuk sabar menunggu sembari menyelami dunia maya melalui aplikasi ber-ikon yang ungu.
Aldi sangat penasaran dengan kehidupan Rania, ia mulai menjadi stalker mencari akun medsos nya sang pujaan hati.
Lama ia menyelami dunia maya hingga tak menyadari ada orang yang masuk ke ruangan.
"Ayah ..." Sapa Rania lembut. Saat ini dia sudah berada di samping brangkar sang ayah.
Aldi mendongakkan kepala saat mendengar suara lembut yang begitu mendayu-dayu ditelinga nya.
"Baru kesini?" Tanya ayah Rudi sembari tangannya mengusap kepala anaknya dengan sayang.
"Iya, ayah. Tadi Rania cari angkot susah banget. Akhirnya Rania pesan ojek online."
Ayah Rania mengangguk sembari tersenyum.
"Ada Aldi, nak. Sapa dia dulu, sejak tadi Aldi sudah menunggumu." Tutur ayah Rania.
Arah mata Rania mengarah ke semua sudut ruangan. Ia baru menyadari kalau di sofa itu ada orang yang sangat ingin dihindarinya.
"Nak, ayo sapa calon suamimu." Tegur ayah Rania saat melihat anaknya tak merespon ucapannya.
"Hai, Sayang. Sini sarapan dulu, aku bawain sarapan." Aldi memperlihatkan paper bag yang berisi kotak makan.
Rania mendengus kesal mendengar perkataan Aldi. "Sayang? yang benar saja! dia panggil aku sayang?" Batin Rania.
"Nggak perlu! Aku sudah sarapan!" Kata Rania ketus.
"Nak, nggak boleh seperti itu. Hargai Aldi yang sudah membawakan makanan. Ayah tidak pernah mengajarimu seperti itu. Sekarang kamu makan dulu sarapan yang dibawakan Aldi." Tegur nya.
Aldi tersenyum kemenangan saat melihat Rania melangkah kearahnya dengan wajah masam.
Ia tahu Rania tidak akan menolak perintah ayahnya. Maka dengan cara seperti ini pula cara Aldi untuk menikahinya.
...💙💙💙...
...TBC...
__ADS_1
See you next chapter 👋🙂