Hasrat Cinta Adrian (Balas Dendam Pria Patah Hati)

Hasrat Cinta Adrian (Balas Dendam Pria Patah Hati)
Keputusan Aldi


__ADS_3

Rania terus berjalan mondar-mandir di depan pintu ruangan operasi. Sudah hampir 5 jam operasi itu berjalan, namun pintu ruangan tak kunjung ada tanda-tanda dibuka.


Aldi yang sejak tadi melihatnya sampai pusing sendiri saat melihat Rania terus berjalan bolak-balik seperti orang menahan hajat.


"Rania, kamu tenangkan dirimu." Aldi bangkit dari tempat duduknya menghampiri Rania.


"Kita doakan saja semoga operasi ayah berjalan lancar." Aldi memegangi dua bahu Rania sembari menatap lekat wajah cemas itu.


"Bagaimana aku bisa tenang? operasi sudah hampir 5 jam, tapi lampunya masih menyala." Katanya dengan nada bergetar. Terlihat sekali saat ini Rania sedang mencemaskan ayah nya.


Berbagai pikiran negatif muncul di benaknya.


"Sudah, jangan memikirkan yang tidak-tidak, kita berdoa saja untuk kelancaran operasi ayah." Bujuk Aldi menasehati.


Ia menggiring Rania untuk duduk di kursi tunggu.


"Sejak tadi kamu belum makan, Rania. Makan dulu, ya." Bujuk Aldi lembut.


"Aku tidak berselera makan." Sahut Rania dengan suara lemah.


Aldi hanya menghela nafasnya kasar. Sudah beberapa kali Aldi berusaha membujuk Rania untuk makan siang, tapi hingga kini ia belum menurutinya.


"Kita ke mushola saja, berdoa untuk ayah." Tutur Aldi.


Entah mengapa Aldi tiba-tiba ingat akan hal itu. Padahal dia bukanlah orang alim ataupun hamba yang taat beribadah.


Namun didekat Rania, dia ingin sekali memperbaiki diri bersama wanita yang sudah ia renggut kesuciannya.


Rania berpikir sejenak kemudian baru menganggukkan kepala pertanda menyetujui.


Aldi senang karena Rania tak menolak ajakannya.


Sebenarnya Aldi tak pernah mengunjungi musholla, bahkan sholat lima waktu pun seringkali ditinggalkan.


Aldi memang manusia yang tidak taat beragama sama halnya seperti Adrian.


Dikeluarganya memang semuanya minim tentang perihal agama. Hanya sang mama yang sedikit mengetahui tentang agama, itu pun sedikit sekali. Itu sebabnya anak-anaknya tak ada yang menjadi seorang religius karena memang tidak pernah diajarkan tentang ilmu agama.


"Apa aku masih diterima berdoa?" Tiba-tiba Rania bersuara lirih.


Entah dia sedang bertanya pada siapa, disampingnya hanya ada Aldi, namun kepalanya tak menghadap sedikit pun kearah Aldi.

__ADS_1


"Kamu ini bicara apa? Bukankah Tuhan mau mengabulkan doa semua hamba-Nya?" Tanya Aldi sedikit tak suka.


"Tapi aku sudah kotor, aku sudah berbuat zina. Aku takut Tuhan tidak mengampuni dosa ku." Rania menangis lirih.


Kata-kata menohok yang keluar dari mulut Rania berhasil menyentil hati Aldi.


Bahkan Rania saja yang menjadi korban dari kejahatannya takut tak diampuni dosanya karena telah melakukan zina.


Dan Aldi sendiri yang sebagai pelaku justru berbangga diri telah mendapatkan keperawanaan seorang gadis yang belum ada ikatan suci.


"Maaf." Kata Aldi menunduk lesu.


Ia sadar sekarang, apa yang dilakukannya selama ini salah.


Memang selama ini Aldi selalu menggunakan segala cara demi mewujudkan keinginannya sama seperti yang dilakukannya saat ini yang ingin menikahi Rania.


Dia menikahi Rania dengan melakukan kecurangan, membujuk ayah Rudi untuk memaksa anaknya agar menikah dengannya.


Dan kali ini Aldi benar-benar tersadar akan kesalahannya.


Mungkin setelah ini Aldi akan merubah keputusannya. Dia tidak ingin menikahi Rania karena sebuah paksaan.


Rania diam tak menjawab, ia masih mencerna pertanyaan Aldi.


"Maksud kamu apa?" Tanya Rania setelah beberapa saat sempat terdiam.


"Apa kamu sangat keberatan menikah dengan ku?" Tanya nya lagi dengan tatapan dalam.


"Ya, aku terpaksa menikah dengan mu." Katanya lugas.


Aldi mematung, pandangan nya menerawang jauh. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Tapi dia merasa hatinya sakit saat mendengar penuturan Rania yang langsung menolak nya.


"Apa kamu tidak akan mau menikah dengan ku jika bukan karena permintaan ayah?" Tanya nya lagi.


"Tentu saja aku tidak mau menikah dengan mu jika saja ayah tidak memintaku untuk menikahi mu." Jawab Rania lagi.


Aldi memejamkan matanya kemudian mengatur nafasnya sejenak.


"Lalu, jika Tuhan menitipkan benih di dalam rahim mu dan aku ingin bertanggung jawab, apakah kau mau menikah dengan ku?" Tawarnya lagi.


"Aku masih bisa menghidupi anakku sendiri. Jadi kau tidak perlu khawatir untuk bertanggung jawab." Sahut Rania dengan raut wajah enteng.

__ADS_1


"Kenapa kau tak ingin aku bertanggung jawab? Apa kau tak kasihan pada calon anakmu jika kehilangan sosok figur seorang ayah?" Tanya nya lagi sembari berusaha mengatur semua rasa sesak di hatinya.


"Aku akan menjadi ibu sekaligus ayah,sama seperti ayahku yang terus menjagaku dan berusaha menjadi sosok ayah sekaligus ibu yang baik untuk anak-anaknya." Jawabnya santai.


Lagi-lagi Aldi hanya mampu memejamkan mata sembari mengatur nafasnya yang tak beraturan. Ia akan berusaha menahan semua emosi agar tak menyakiti wanita yang ia cintai.


Mungkin ini saatnya berubah menjadi manusia yang lebih baik. Tidak akan mengulangi kesalahannya lagi untuk memanfaatkan situasi kelemahan orang.


Dan semoga ini adalah keputusan yang terbaik untuknya.


"Maka aku akan membebaskan mu. Aku tidak akan memaksa untuk mau menikah dengan ku." Kata Aldi dengan nada suara tercekat di tenggorokan.


"Tidak perlu khawatir, aku akan memenuhi semua kebutuhan hidup kalian meski aku batal menjadi suamimu. Aku sudah menganggap ayah Rudi sebagai ayah ku sendiri. Maka sudah sepantasnya aku memenuhi kebutuhan hidup ayahku." Katanya lagi dengan pandangan menerawang jauh.


Terlihat guratan kecewa serta kesedihan dalam wajahnya. Tapi dia harus kuat.


Memang sudah terbiasa kehidupan Aldi yang seperti ini, seakan-akan takdir selalu bercanda padanya.


"Ayo, kita pergi." Aldi melangkah lebih dulu tanpa menunggu Rania yang masih mematung di tempat.


"Tunggu." Cegah Rania. Tangan kanannya meraih pergelangan tangan kiri Aldi.


Sontak Aldi berbalik menatap wanita yang sudah memenuhi ruang hatinya.


"Kenapa kau berkata seperti itu?" Tanya Rania menatap lekat wajah Aldi.


"Kenapa?" Tanya Aldi menjawab pertanyaan Rania.


"Kenapa kau bilang kenapa? Bukankah ini keinginanmu? Bukankah kau bahagia jika tidak menikah dengan ku? ... " Aldi menampilkan senyum yang dipaksakan.


"Entah apa penyebabnya kenapa aku tiba-tiba menaruh harapan pada gadis yang abru saja ku temui. Tapi kau perlu mengetahui nya, aku mencintaimu. Aku tidak membual, inilah kenyataannya. Semenjak aku tahu kau masih seorang gadis saat aku meniduri mu, semenjak itu pula hatiku condong padamu. Entah mengapa, aku merasa Tuhan mengirimkan jodoh untukku melalui kejadian malam itu." Aldi menghentikan perkataannya sembari tertawa miris.


"Tapi ternyata aku salah. Aku salah menduga, aku kira kau juga memiliki perasaan yang sama sepertiku. Nyatanya tidak begitu. Kau terlalu membenciku karena sifat bejat ku. Aku memaklumi karena memang itu lah kenyataannya. Tapi ... "


"Satu hal yang perlu kau tahu, aku tidak pernah meniduri wanita manapun selain dirimu. Kau adalah wanita pertama yang mendapatkan keperjakaanku." Dan setelah mengatakan itu, Aldi benar-benar berlalu tanpa menunggu Rania yang masih mematung di sana.


...💙💙💙...


...TBC...


See you next chapter

__ADS_1


__ADS_2