Hasrat Cinta Adrian (Balas Dendam Pria Patah Hati)

Hasrat Cinta Adrian (Balas Dendam Pria Patah Hati)
Merubah Keputusan


__ADS_3

Setelah menghabiskan sekitar 5 menit untuk menunaikan sholat wajib yang entah sudah berapa lama Aldi tinggalkan, kini bersiap untuk pergi.


Sekian lama Aldi tak menunaikan ibadah, akhirnya ia kembali sujud menghadap Tuhan-Nya. Setelah berdoa dan meminta ampunan dari Tuhan, hati Aldi merasa sedikit lebih tenang.


Aldi bangkit dari tempat lalu berbalik arah untuk keluar, ia melihat Rania dari celah sekat gorden, wanita itu belum selesai berdoa.


Terlihat Rania sedang menangis sembari mengangkat kedua tangan. Rasanya ia ingin mendekap tubuh mungil itu lalu mengusap kepalanya.


Namun itu hanya tinggal angan karena sekarang tak memiliki ikatan apapun pada wanita itu.


"Sudah selesai?" Tanya Aldi saat melihat Rania berjalan kearahnya.


Rania hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Apa hatimu sudah bisa merasa tenang?" Tanya Aldi lagi.


"Ya, hatiku rasanya sangat tenang. Apapun yang terjadi pada ayah, aku akan menerimanya." Jelasnya sembari tersenyum lega.


"Syukurlah, aku turut bahagia melihatmu bahagia." Aldi tersenyum lembut menatap wajah Rania.


Setelah itu keduanya kembali diam membuat suasana menjadi hening.


Dalam keheningan yang mereka ciptakan, Rania menatap lama wajah Aldi dengan tatapan sulit diartikan.


Tanpa terasa keduanya saling berpandangan, saling menatap dalam seakan menyelami pikiran masing-masing.


"Aldi."


"Rania."


Panggil mereka bersamaan.


"Kamu dulu."


"Ladies first."


Lagi-lagi mereka berbicara bersamaan.


"Ada apa, Rania?" Tanya Aldi.


"Eum ... kamu duluan yang bicara." Jawab Rania sembari menatap kearah lain yang sejak tadi terus menatap wajah Aldi.


"Tidak, kamu saja. Aku tidak jadi mengatakan karena menurutku tidak penting." Kata Aldi mempersilahkan Rania untuk berbicara.

__ADS_1


Rania terdiam sejenak kemudian menatap Aldi dengan tatapan sulit diartikan.


"Apa kamu serius ingin membatalkan rencana pernikahan kita?" Tanya Rania sedikit menunduk namun matanya menatap kearah manik mata Aldi, seperti orang memicingkan mata namun manik matanya terlihat sendu.


"Ya, aku serius. Aku hanya ingin melihat mu bahagia. Jika memang itu adalah kebahagiaan mu maka dengan ikhlas hati aku melepaskan mu." Katanya sembari memaksakan senyum.


"Lalu bagaimana kalau a_aku ..."


Rania tak jadi meneruskan perkataannya, ia terlihat semakin tak berani menatap kearah laki-laki dihadapannya.


"Aku apa?" Tanya Aldi penasaran saat melihat kegugupan pada diri Rania. Apalagi Rania sudah memalingkan wajahnya ke arah lain membuat Aldi semakin penasaran.


"Eum ... Bagaimana kalau aku mengubah keputusan ku." Kata Rania sembari menunduk malu.


Sedari tadi memang Rania sangat memikirkan Aldi yang mengatakan ingin membatalkan rencana pernikahan.


Awalnya dia bahagia, tapi tak tahu kenapa saat mendengar penuturan Aldi yang ingin tetap membantu perekonomian mereka meski tidak menjadi suaminya membuat hatinya tersentuh.


Ternyata laki-laki yang dianggapnya bukan pria baik memiliki hati setulus ini. Dia rela mengorbankan perasaan demi kebahagiaan orang yang dicintai.


Apalagi mendengar penuturan Aldi pada kalimat terakhir sebelum ke musholla.


Aldi mengatakan kalau dia belum pernah tidur dengan wanita manapun selain dirinya.


Ada perasaan lega dalam hati Rania mendengar itu, yang entah itu sebuah fakta atau kebohongan.


Mungkin bagi sebagian orang pemikiran Rania ini salah. Mengingat dia hanyalah seorang miskin yang masih kekurangan ekonomi.


Tapi Rania tidak peduli dengan pandangan orang yang seperti itu. Dia tidak pernah mengharapkan laki-laki kaya yang bisa menghidupi keluarganya.


Rania hanya menginginkan laki-laki setia serta lurus kehidupannya yang bisa menjaga dia dalam suka maupun duka.


Bukan laki-laki kaya tapi sering meniduri banyak wanita.


Rania takut jika menikah dengan laki-laki yang memiliki tabiat seperti itu, maka setelah pernikahan tabiat buruknya tidak kunjung sembuh.


Karena memang fakta yang sering beredar di masyarakat adalah seperti itu. Hingga banyak perceraian dengan kasus perselingkuhan dalam sebuah rumah tangga.


Meski jika di novel-novel atau dalam film seorang badboy yang menemukan cinta sejati akan berubah menjadi setia, tapi kenyataan tak seindah ke-haluan para author dalam mengarang cerita.


"Maksud kamu apa?" Tanya Aldi memastikan apa yang baru ia dengar.


"Bagaimana kalau aku merubah keputusanku?" Kata Rania mengulangi.

__ADS_1


"Mengubah keputusan yang mana?" Tanya Aldi sembari mengerutkan dahi.


"Eum ... tentang rencana pernikahan kita." Kata Rania sedikit malu.


"Aku setuju menikah dengan mu." Imbuhnya lagi.


Seketika Aldi mengembangkan senyum."Benarkah??" Tanyanya sedikit tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Matanya terlihat berbinar, menandakan Aldi sangat bahagia mendengar kalimat itu.


"Ya, aku mengubah keputusan. Aku setuju menikah dengan mu bukan karena paksaan atau permintaan ayah. Tapi aku setuju karena ingin memberi kesempatan padamu untuk membuktikan semua janji yang kau ucapkan." Kata Rania.


"Kamu tidak sedang bercanda kan, Rania? Kamu tidak sedang nge-prank aku kan? Coba lihat? di mana kamu menyembunyikan kamera?" Aldi menatap kearah kanan kiri untuk memastikan, takut ada kamera yang menangkap nya.


"Aku serius. Tapi jika kamu tidak percaya ya sudah." Rania bangkit dari duduk dengan wajah sedikit di tekuk. Ia kesal pada Aldi yang tidak percaya dengan perkataannya.


"Rania, tunggu!" Aldi mencegah saat Rania akan pergi mendahului nya.


"Katakan sekali lagi kalau kau sedang tidak berbohong." Pinta Aldi penuh harap.


Rania menghela nafasnya panjang. Namun tetap menuruti permintaan calon suaminya.


Diraihnya kedua tangan calon suaminya kemudian menatap dalam wajahnya. "Aku tidak ingin rencana pernikahan kita dibatalkan. Aku ingin kamu membuktikan semua janji yang pernah kau ucapkan pada ayah." Kata Rania sembari menatap lekat wajah Aldi.


Seketika Aldi mengembangkan senyum. tanpa persetujuan, Aldi meraih tubuh mungil Rania kedalam pelukan. Aldi menikmati setiap hembusan nafasnya saat ini yang terasa begitu sejuk. Seakan rongga pernapasannya begitu ringan, tak ada yang menghalanginya.


"Terima kasih." Ucap Aldi lirih. Ia memejamkan mata, menikmati momen yang begitu membahagiakan menurutnya.


Rania yang diperlukan seperti ini ikut merasa senang. Ternyata seperti ini rasanya dicintai seseorang, membuat raga dan jiwanya seakan sangat berharga baginya.


Mulai saat ini Rania akan berusaha untuk mencintai Aldi. Dia tidak boleh egois, sudah seharusnya Rania menurunkan ego demi orang-orang disekitarnya.


"Terima kasih juga karena telah menolong ayah." Balas Rania, tangannya ikut membalas pelukan Aldi. Keduanya sama-sama menikmati pelukan hangat dari setiap pasangan.


"Setelah ini kamu harus makan, aku tidak ingin kamu sakit!" Perintah Aldi penuh penekanan.


Rania hanya menanggapi dengan senyuman sembari menikmati pelukan itu. Ia ikut menyandarkan kepalanya di dada bidang Aldi. Keduanya sama-sama merasa begitu nyaman dan tak ingin melepaskan pelukan hangat itu.


"Tapi kita sudah terlalu lama meninggalkan ayah." Kata Rania sembari mendongak menatap wajah calon suaminya.


"Kalau begitu, aku akan membelikan makanan, kau bisa makan sembari menunggu ayah." Tutur Aldi.


Rania hanya tersenyum lalu mengangguk.


...💙💙💙...

__ADS_1


...TBC...


See you next chapter 👋🙂


__ADS_2