Hasrat Cinta Adrian (Balas Dendam Pria Patah Hati)

Hasrat Cinta Adrian (Balas Dendam Pria Patah Hati)
Obat Bius


__ADS_3

tut tut tut


"Sial! Ternyata password nya sudah di ganti!" Geram nya. "Terpaksa aku harus memencet bell." Terlihat seorang wanita berparas cantik dan berpakaian seksi bermonolog sendiri di depan apartemen.


Ting ... Tong!


Ting! tong!


Dengan tidak sabaran, wanita itu terus memencet bell apartemen hingga penghuni di dalam nya berteriak keras menyuruh nya untuk menunggu sebentar.


"Sesuai pesan_" Seorang laki-laki yang baru saja membuka pintu apartemen nya tidak melanjutkan ucapan nya saat melihat seorang wanita di depan nya.


"Kamu??? Untuk apa kamu kesini??" Pekik nya. Ia sungguh tidak habis pikir kenapa wanita itu tiba-tiba berani datang ke apartemen nya sendiri.


"Halo, Adrian. Calon suamiku." Sapa Liana dengan senyum menggoda yang sengaja ia perlihatkan pada Adrian.


"Cih ... jangan pernah berkhayal aku akan menjadi suami mu!!" Adrian berdecih, menatap jijik pada sosok wanita di depan nya yang pernah menjadi kekasih nya.


"Oh ayolah Adrian ... jangan banyak marah-marah nanti kamu cepat tua." Wanita di depan nya ini benar-benar menguji kesabaran Adrian.


Ia tak habis pikir dengan apa yang ada di pikiran wanita itu. Setelah tadi membuat keonaran yang menjadi bahan gosip seluruh publik, sekarang dengan sengaja ia menemui dirinya.


"Untuk apa kau kesini??" Tanya Adrian to the poin, tidak ingin berlama-lama berhadapan dengan wanita sakit jiwa di depan nya.


"Tenang, Adrian. Jangan terburu-buru marah. Aku kesini hanya ingin menawarkan kesepakatan jika kau tidak ingin menikah dengan ku." Kata Liana terus mengembangkan senyum. Senyum yang terlihat mengandung penuh arti. Entah apa arti dari senyuman itu, Adrian tidak tahu.


"Cepat katakan!" Sentak Adrian lagi menatap datar pada wanita di depan nya.


"Sebaiknya jangan disini. Kita masuk saja." Kata Liana sembari menatap ke arah kanan kiri.


Tanpa menaruh rasa curiga, Adrian mempersilahkan Liana masuk. Setelah itu keduanya duduk di sofa ruang tamu.


"Apa yang kau inginkan?" Suara berat Adrian hanya di tanggapi senyum penuh arti oleh Liana.


"Tenang lah Adrian, tidak perlu terburu-buru. Sebaiknya kau baca ini dulu." Kata Liana menyodorkan amplop berwarna coklat kemudian dengan ragu Adrian mengambil nya.


Perlahan tapi pasti, Adrian membuka isi amplop coklat itu, satu persatu ia buka kertas putih tak ada tulisan apapun di sana.


Tiba-tiba kepala nya terasa pening, kesadaran nya perlahan mulai menghilang. Ia ingin sekali bertanya pada Liana, tetapi bibir nya begitu kelu untuk berkata. Seakan seperti ada karet yang menahan nya.


Mata nya mulai menggelap, buram, tak melihat apapun. Dan...


Brukk


Tubuh Adrian tumbang ke atas lantai, Liana tersenyum penuh kemenangan menatap tubuh Adrian yang sudah terkulai tak berdaya di lantai.

__ADS_1


"Perfect!" Gumam Liana dengan bibir nya yang terus tersenyum kemenangan.


Ia mulai melancarkan aksinya. Satu persatu pakaian yang melekat di tubuh nya ia lepaskan kemudian ia hempaskan ke sembarang arah hingga naked tanpa sehelai benang pun di tubuh nya.


Seluruh area tubuh nya terlihat banyak sekali bercak kemerahan seperti tanda bukti sebuah percintaan.


Kemudian ia berjongkok menatap Adrian dengan senyuman. "Ayo sayang, Kita mulai permainan nya." Kata Liana bergumam sendiri.


Jari-jari lentik nya mulai melepaskan kemeja Alex. Setelah sampai di ujung kancing, dengan cepat ia tarik baju itu hingga menampilkan tubuh sixpack yang terlihat begitu menggoda.


Liana kembali tersenyum, jari-jari nya meraba-raba tubuh bagian depan Adrian.


Jari nya terus menari di atas permukaan kulit perut yang nampak seperti sobek itu. Sungguh, ia sangat merindukan kegiatan seperti ini bersama Adrian.


Bibir nya mulai mengendus tubuh Adrian mulai dari leher hingga turun ke bawah, sampai pada bagian perut bawah.


Ia mulai memegang celana jeans yang di pakai Adrian, dengan gerakan perlahan Liana menarik resleting celana itu dan melepaskan kancing nya.


Setelah selesai, ia dapat melihat sesuatu yang terlihat sangat menonjol di balik boxer yang di gunakan Adrian.


Ia sudah bisa membayangkan sebesar apa ukuran senjata milik Adrian, karena memang sudah sering melihat nya.


Milik Adrian memang berbeda dari yang lain, senjata Adrian adalah senjata yang paling berukuran besar di antara laki-laki lain yang pernah di kencani nya.


Sayang nya, Liana tidak bisa terlalu sering berinteraksi dengan Adrian. Sehingga tidak setiap waktu ia bisa melakukan nya hingga akhirnya ia melakukan bersama laki-laki lain.


Apalagi saat ada beberapa laki-laki yang menawarkan untuk membeli selama satu malam dengan harga yang sangat tinggi, tentu saja Liana tidak menolak. Toh juga dirinya mendapatkan kepuasan, pikir Liana.


"Sayang, milik mu memang yang terbaik." Kata Liana sembari meremas benda di balik celana bokser itu.


Namun, saat ingin melanjutkan aksinya, ia kembali teringat pada misi nya. Dengan segera, ia menopang tubuh berat Adrian. Meski terasa sangat berat dan membuat nya kesusahan, tetapi ia tidak menyerah.


Saat dirinya merasa lelah, ia berhenti sejenak kemudian kembali melanjutkan langkah nya hingga ke dalam kamar Adrian.


Dengan segera Liana membaringkan tubuh Adrian ke atas ranjang. Ia melepaskan celana jeans yang belum sempat ia turunkan karena baru di buka kancing dan resleting nya.


Setelah celana jeans berhasil di buka, ia kembali membuka satu-satunya kain penutup senjata tembak nya yang begitu besar.


"Ternyata belum ada yang berubah, Adrian." Liana menatap tubuh Adrian penuh gairah yang saat ini sudah telanjang bulat.


Tanpa membuang waktu, Liana mencium bibir Adrian dengan rakus tanpa mendapatkan perlawanan dari Adrian.


Setelah puas bermain di bibir Adrian, Liana segera menurunkan ciuman nya ke leher Adrian. Ia memberikan sesaapan di sana tak lupa meninggalkan jejak kemerahan di leher Adrian.


Tidak hanya itu, Ciuman Liana terus turun ke dada hingga perut Adrian.

__ADS_1


Saat ini, tubuh Adrian sudah di penuhi bekas kemerahan yang di tinggalkan Liana.


Saat ini mata Liana menatap benda tumpul yang sering memberikan kepuasan pada nya.


"Aku akan mencobanya meski kau tidak sadar Adrian." Liana memang benar-benar gila, dia bersiap melakukan penyatuan meski Adrian tidak sadarkan diri.


Tangan nya memegang benda tumpul milik Adrian kemudian ia arahkan ke dalam lubang milik nya.


Ting tong...


Hampir saja ia berhasil melakukan nya, tapi tubuh nya di buat kaget dengan suara bell apartemen.


"Kenapa secepat ini?" Liana mendengus kesal karena seharusnya belum saatnya para wartawan datang kepada nya.


Masih ada beberapa menit untuk Liana melakukan permainan bersama Adrian, tapi sekarang gagal total.


Ting tong...


Bell apartemen kembali berbunyi. "Kenapa tidak langsung membuka pintu? kan tidak terkunci." Liana kesal sendiri pada orang-orang suruhan nya.


Tap tap tap...


Suara derap langkah seseorang, tetapi terdengar seperti high heels seorang wanita.


"Adrian?" Suara seorang wanita memanggil nama Adrian.


"Adrian?" Wanita itu kembali memanggil nama Adrian.


Seringai lebar terbit di bibir Liana. Tiba-tiba ia kembali duduk di atas tubuh Liana, tangan kanan nya sudah menggenggam obat untuk penawar bius Adrian. Ternyata dengan sekali dayung, dua pulau ia tempuh.


"Adri_"


"Ahh ... Adrian! aku tidak tahan ... ahh ... " Liana terus bergerak lincah dia di atas tubuh Adrian.


"Ahh ... ya seperti itu Adrian ... kau sangat perkasa..." Liana terus berpura-pura mendesaah di atas tubuh Adrian.


Liana mulai membuka botol penawar obat bius yang diberikan kepada Adrian kemudian mulai menempelkan nya pada hidung Adrian hingga tubuh telanjang keduanya menempel sempurna.


Brakk


...💙💙💙...


...TBC...


See you next chapter 👋🙂

__ADS_1


__ADS_2