
Hari-hari terus berlalu, kesehatan papa Rudi akhirnya mulai membaik.
Bekas sayatan pasca operasi sedikit demi sedikit mulai mengering, dan kini saatnya papa Rudi diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit.
Sedari kemarin, Aldi memutuskan membawa Rania pulang menuju Apartemen.
Sebenarnya Aldi tidak memiliki aset berupa apartemen di sini, tapi demi kenyamanan istrinya dia membeli sebuah apartemen untuk tempat tinggalnya sementara waktu sebelum papa dan mamanya kembali ke London.
Aldi tidak ingin Rania merasa kurang nyaman bila tinggal di mansion bersama mamanya, jadi dia memutuskan untuk membeli tempat tinggal baru.
Rencana awal, Aldi hanya berkeinginan untuk menyewa tempat tinggal. Tetapi saat dipikir ulang, lebih baik sekalian dibeli supaya tidak perlu mencari tempat tinggal lagi bila dikemudian hari mengalami hal seperti ini.
Bukan hanya itu, Kesehatan kak Raka yang berangsur-angsur membaik serta sudah menemukan donor mata untuk kakak iparnya, Aldi kembali berpikir bahwa suatu saat apartemen itu bisa digunakan untuk kakak iparnya.
Aldi menduga, Kakak iparnya itu pasti tidak akan mau tinggal bersamanya bila sudah bisa melihat dan berjalan seperti semula.Oleh karena itu, Aldi akan memberikan fasilitas sebisanya untuk kak Raka.
Dia tahu, akibat cacat sedari usia remaja itu pasti membuat kak Raka banyak sekali kehilangan kesempatan untuk menjadi seperti orang lain pada umumnya.
Kak Raka tentu belum memiliki keterampilan khusus setelah selama bertahun-tahun hanya bisa duduk di kursi roda tanpa menatap dunia luar.
Itulah sebabnya Aldi ingin mempersiapkan kehidupan baru untuk kakak iparnya. Kalau bisa, Aldi ingin menyewa orang khusus untuk mengajari sebuah keterampilan yang disukai oleh kakak dari istrinya.
"Sayang ... " Panggil Aldi saat melihat istrinya batu saja keluar dari kamar mandi ruangan ayahnya dirawat. Wajahnya masih ditekuk sedari kejadian romantis ala-ala Korea yang dibuat Aldi.
"Udah dong ngambeknya. Dosa loh diemin suami." Lanjutnya dengan ekspresi wajah mengiba. Dia sangat tidak tahan bila didiami istrinya seperti ini.
"Dosa mana sama orang yang suka bohong? Apalagi sampai fitnah." Sahut Rania dengan bersungut-sungut. Dia masih saja kesal pada suaminya yang tiba-tiba mengkambing hitamkan dirinya setelah ciuman di pinggir jalan.
"Itu bukan sayang, tapi melindungi diri." Katanya sembari cengengesan. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena otaknya tidak berhasil menemukan kata-kata yang pas untuk menjawab pertanyaan istrinya.
__ADS_1
"Ah siall! Kenapa gue jadi bodoh sih?" Batin Aldi.
Aldi sadar, kata melindungi diri yang baru daja dia lontarkan pasti akan semakin menambah percikan api yang berkobar dalam hati istrinya.
Terbukti!
Saat ini wajah Rania sudah merah padam, nafasnya naik turun. Menatapnya tajam seperti ingin membunuhnya hidup-hidup. 🤔🤔 Membunuh hidup-hidup? Ya kali, membunuh orang mati, thorrrrrr!🙄
"Berani-beraninya kamu mengkambing hitamkan istri sendiri demi melindungi diri! Malam ini kita tidur pisah!" Kata Rania dengan nada suara tinggi.
Untung saja ayah Rudi sedang berada di ruang perawatan Kak Raka, jadi dia tidak terganggu dengan suara keras anaknya yang sedang marah.
Kata yang dilontarkan Rania berhasil membuat bola mata Aldi melotot. Tidak, dia tidak akan membiarkan istrinya tidur terpisah dengannya.
Bagaimana mungkin dia bisa tidur bila rudal ajaibnya belum dia jinakkan lebih dulu. Ini tidak bisa di biarkan!
"Tidak apa ayah. Rania hanya sedang marah karena Aldi menciumnya." Kata Aldi frontal yang semakin membuat Rania bertambah marah.
Berbeda dengan ayah Rudi yang seketika menahan senyum dengan apa yang baru saja Aldi katakan.
"Kenapa kamu marah nak? Bukankah itu sudah menjadi kewajiban mu untuk memenuhi semua keinginan suami mu?" Tanya ayah Rudi lebih tepatnya) mengingatkan.
Rania dibuat bungkam oleh perkataan ayahnya. Memang benar dengan apa yang dikatakan sang ayah, tetapi suaminya ini teramat me sum dan tak tahu tempat.
"Tapi dia membuatku malu, ayah." Adu nya tak terima, dia memandang sengit suaminya lalu kembali menatap ayahnya penuh iba seakan meminta pembelaan dari ayahnya.
"Memangnya apa yang membuat mu malu?" Tanya ayah Rudi lembut.
"Dia mencium ku di depan banyak orang, ayah ..." Adu nya seperti anak kecil. hidungnya kembang kempis mengatur nafas.
__ADS_1
"Dia siapa?" Tanya ayah Rudi tanpa menghiraukan ekspresi wajah anaknya.
"Issh ... Aldi, Ayah ..." Ucapnya sembari menghentakkan kakinya.
Sebelum berbicara, ayah Rudi menghela nafasnya berat.
"Dia yang kau sebut itu punya nama, Rania! Ayah tidak pernah mengajarimu kurang ajar pada orang. Apalagi pada suami mu sendiri. Ingat baik-baik, Rania. Aldi adalah suamimu. Bersikaplah baik padanya, panggil Aldi dengan sebutan yang pantas. Jangan memanggil namanya secara langsung." Tutur ayah Rudi. Dia kecewa pada Rania yang terkesan tak menghargai Aldi.
Rania tak bisa berkata-kata, pandangannya melemah. Jika semula dia memandang jengkel pada Aldi, saat ini justru memandangnya dengan tatapan bersalah. Apalagi saat menyadari Aldi tak pernah melawan saat Rania marah. Selama ini memang Aldi sangat sabar menghadapi sikap Rania yang sedikit-sedikit marah.
"Maafkan ayah, Aldi. Ayah belum bisa mendidik Rania dengan baik, dan kini berdampak padamu. Maafkan anak ayah bila dia tidak sopan pada mu. Tolong bimbing Rania, nak." Kata Ayah Rudi dengan tatapan sendu.
"Tidak perlu meminta maaf, ayah. Ini memang bukan salah Rania. Aldi sendiri yang sering membuatnya marah." Jelas Aldi merasa tam enak pada ayah mertuanya.
Sedangkan Rania semakin dibuat menunduk karena perkataan ayahnya. Bukan karena tidak menerimanya melainkan karena Rania sendiri yang merasa bersalah. Dan apa yang dikatakan ayahnya memang benar kalau dia sangat tidak sopan pada suaminya.
"Maafkan aku, mas Aldi." Tiba-tiba Rania mendekati Aldi dengan masih menundukkan kepala lalu meminta maaf.
"Hei, sayang. Jangan terlalu menunduk, nanti mahkota nya jatuh." Canda nya. Dia tahu saat ini Rania sedang berusaha menahan air matanya.
Entah mengapa, akhir-akhir ini memang Rania seringkali cepat menangis.
Aldi memegang bahu istrinya lalu membawanya ke dalam pelukan. "Maafkan aku juga, aku selalu tidak bisa mengontrol diri saat di dekatmu." Bisik Aldi di telinga Rania agar ayah mertuanya tak mendengar apa yang dilontarkan.
Hati Rania menjadi bercampur aduk, antara senang dan sedih. Dia merasa sedih karena menyadari sudah bersikap tak baik pada suaminya dan juga sekaligus merasa senang mendengar penuturan suaminya.
"Apa kamu tidak marah? Apa kamu tidak menyesal memiliki istri yang suka ngambek?" Tanya Rania mencondongkan wajahnya ke atas hingga manik matanya bertabrakan langsung dengan manik mata suaminya.
"Untuk apa aku marah? Sedang aku sendiri merasa sangat beruntung memiliki mu. Untuk apa aku menyesal sedang kamu lah penyebab kebahagiaan ku?"
__ADS_1