
"Tidak apa maksud nya?" Tanya Alexa lagi sembari berjalan mendekat ke arah Adrian masih dengan senyum devil nya, sedangkan Adrian ikut mundur berusaha terbebas dari singa betina yang terlihat kelaparan dan sebentar lagi akan menerkam nya.
"Tidak su.. suka, eh ... tidak benar, mak.. maksudnya tidak senang melihat mu bercerai," Kata Adrian tidak karuan.
Entah kenapa saat ini ia menjadi begitu boddoh saat melihat wajah Alexa yang terlihat menakutkan.
Bahkan kata-kata yang sudah ia rancang dalam otaknya tidak juga keluar.
Adrian hanya mengucapkan setengah -setengah hingga tidak jelas dengan maksud yang dia sampaikan.
"Oh, jadi kamu lebih senang aku masih bersama dia?" Tanya Alexa sedikit menggoda, namun dia tak ingin menyebutkan nama laki-laki brengsek yang sudah banyak menyakiti dirinya.
"Tentu tidak sayang, aku lebih senang kau berpisah dari nya. Dengan demikian, kamu bisa terbebas dari laki-laki brengsek seperti Frans." Kata Adrian tegas. Setelah berpikir beberapa saat akhirnya Adrian kembali bersikap normal dan bisa berpikir jernih.
Ternyata kegugupan itu meluruhkan seluruh konsentrasi, sehingga apapun yang sudah di rancang oleh otak Adrian hilang dalam sekejap saat merasakan diri nya gugup.
"Oh, hanya itu? yakin, tidak ada maksud lain?" Tanya nya lebih tepatnya mengintrogasi Adrian.
__ADS_1
"Tentu saja tidak sayang, aku sangat bersyukur akhirnya kamu bisa terbebas dari lubang buaya darat itu." Sahut Adrian cepat dengan penuh percaya diri.
"Maksud mu keluar dari lubang buaya lalu masuk ke kandang singa?" Pertanyaan Alexa benar-benar memberikan sindiran pada Adrian.
"Mana ada sayang, jangan samakan aku dengan hewan buas itu." Sahut Adrian tidak terima, Alexa sama saja mengatai dirinya seekor singa.
Itu artinya Adrian adalah sosok laki-laki yang bisa kapan saja mendapatkan mangsa di mana saja dan di waktu kapan saja.
Padahal Adrian sudah berjanji untuk berubah, dia akan menebus semua kesalahan nya di masa lalu di mulai dari memperbaiki diri.
Setelah itu Adrian akan berusaha menjadi layak untuk bersanding dengan Alexa meski dirinya pernah menorehkan luka yang sangat dalam.
Kedua tangan nya berusaha meraih tangan Alexa yang masih memegang amplop berisi surat cerai, Adrian sedikit melangkah maju untuk mendekatkan badan kemudian membungkukkan kepala sehingga sejajar dengan kepala Alexa.
Tangan nya meraih tubuh Alexa hingga tubuh kedua nya menempel satu sama lain. Hening, namun kedua pasang mata saling beradu memandang satu sama lain, tak ada perdebatan yang beradu seperti tadi.
"Ehem!" tiba-tiba sepasang kekasih itu di kagetkan oleh suara manusia di dekatnya.
__ADS_1
Mereka baru sadar kalau sang pengacara yang membantu Alexa mengurusi perceraian itu belum keluar dari apartemen.
"Bu Alexa, pak Adrian, apakah masih ada yang ingin di tanyakan?" Tanya sang pengacara sedikit canggung karena telah merusak suasana romantis sepasang kekasih itu.
"Tidak ada pak,"
"Tidak ada Bram,"
Sahut dua orang itu bersamaan, membuat keduanya kembali saling pandang kemudian tertawa.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi." Pamit Bram masih dengan gaya cool nya kemudian berlalu dari sana.
Saat ini tinggal lah sepasang manusia yang berada di apartemen itu, suasana kembali hening.
Mereka tak tau harus berbicara apa setelah perdebatan menjengkelkan tadi, tapi percayalah Adrian lebih suka perdebatan kecil seperti tadi walaupun membuat dia gugup setengah hidup, tetapi dari pada harus berada dalam suasana mencengangkan seperti ini.
...💙💙💙...
__ADS_1
...TBC...
See you next chapter 👋😜