Hasrat Cinta Adrian (Balas Dendam Pria Patah Hati)

Hasrat Cinta Adrian (Balas Dendam Pria Patah Hati)
Ke Rumah Sakit


__ADS_3

Aldi yang menyadari istri nya sedang muntah-muntah, segera membenarkan bokser nya yang sudah setengah paha lalu terburu-buru berlari mengejar istrinya. Rasa takut serta cemas mulai menyelimuti hati nya.


"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Aldi dengan nada cemas.


Dia buru-buru membantu istri nya dengan memberi pijatan di tengkuk sang istri, berharap bisa meringankan mual yang menyerang nya.


Setelah memuntahkan seluruh isi perut nya yang tak ada apa-apa nya, Rania mulai mengatur nafas yang tak beraturan.


Aldi memandangi istri nya dengan raut wajah cemas, tangan nya bergerak menghapus jejak air mata yang berada di kedua sudut mata nya yang memang keluar dengan sendirinya akibat muntah.


"Bagaimana, sayang? Apa sudah membaik? Kita ke rumah sakit saja, ya?" Tanya Alfi dengan nada bicara yang teramat khawatir.


"Aku lemes. Pengen gendong." Cicit nya seperti sebuah rengekan. Mata nya kembali berkaca-kaca, kali ini bukan karena muntah yang menyebabkan nya menangis. Tetapi memang Rania sendiri yang memang tiba-tiba ingin menangis.


Aldi hanya mengangguk, dengan segera dia menggendong istri nya membawanya ke kamar. Dengan begitu hati-hati Aldi membaringkan tubuh nya ke atas ranjang bagai barang yang terbuat dari kaca dan takut pecah bila terlalu keras meletakkan nya.


Dengan telaten, Aldi memakaikan baju istri nya karena saat ini dia sudah tak menggunakan sehelai kain pun.


"Kita ke rumah sakit, ya." Kata Aldi yang tentu nya bukan memberikan penawaran, melainkan sebuah penekanan yang harus di turuti.


"Tapi, aku sudah tidak apa-apa." Kata Rania lirih. Dia tak ingin ke rumah sakit, karena memang keadaan nya baik-baik saja. Hanya sedikit merasa mual dan pusing.


"Sssttt ... jangan mendebat. Aku tidak meminta persetujuan mu, hanya memberi tahu." Kata nya lagi. Tentu saja Aldi tak ingin berdebat masalah ini. Karena lebih mengkhawatirkan keadaan istri nya.


"Tapi-"


"Jangan membantah ku, sayang." Tekan Aldi dalam setiap kalimat nya. Tidak tahu saja, bahwa suami nya ini benar-benar mengkhawatirkan keadaan istri nya.


Nyali Rania menjadi ciut saat melihat mata tajam Aldi sedang menatap nya. Tubuh nya bergetar, tak lama kemudian keluarlah lelehan bening dari sudut mata Rania. Dia takut suami nya yang seperti ini, dia tak ingin dibentak oleh suami nya. Padahal memang Aldi tidak membentak, hanya mengingatkan. Tetapi memang Rania saja yang terlalu sensitif dan ingin sekali menangis saat melihat raut wajah garang suami nya.


"Hey, sayang. Kenapa kau menangis?" Tanya Aldi lembut. Dia merasa bersalah karena membuat istri nya menangis. "ada apa? Jangan membuat ku takut, sayang." Kata nya lagi sembari merengkuh tubuh Rania dan membawa ke pelukan nya setelah mengenakan baju lengkap.

__ADS_1


"Takut ..." Cicit nya sambil sesenggukan. "Jangan marah-marah aku takut." Imbuhnya lagi.


"Ssttt ... tenang lah, sayang. Maafkan aku, janji deh nggak akan marah lagi." Aldi memindahkan posisi istri nya untuk sedikit menjauhi tubuh nya lalu menangkup kedua pipi sang istri, sembari jempol nya menghapus jejak air mata di sana.


Tanpa di duga nya, Rania menjulurkan jari kelingking di depan Aldi. "Janji nggak marah lagi?" Tanya nya sembari mengerjab-ngerjab lucu karena mata nya yang masih sembab sedangkan mulut nya masih terus sesegukan. Benar-benar seperti anak kecil!


Aldi tak tahu kenapa istri nya yang biasa nya dewasa sekarang berubah menjadi sosok anak kecil.


"Janji, asal ..." Aldi menatap bola mata sembab istri nya dengan binar kebahagiaan karena merasa istri nya begitu menggemaskan. Dia sengaja mengehentikan ucapan nya agar Rania semakin penasaran pada nya.


"Asal apa?"


Benar sekali dugaan nya, istri nya ini sungguh tak sabaran untuk mendengarkan kelanjutan perkataan sang suami.


"Asal tidak boleh membantah ucapan ku." Kata Aldi melanjutkan perkataan nya tadi yang sengaja di potong.


Tanpa di duga nya, Rania langsung menganggukkan kepala tanpa ragu, lalu meraih kelingking suami nya dan di tautkan pada nya.


"Hm ... Tapi janji, jangan marah-marah." Cicit nya lagi. Rania terlihat takut-takut menatap manik mata suami nya yang saat ini sedang menatap nya sembari tertawa pelan.


"Kau aneh sekali, sayang. Mana mungkin aku bisa memarahi istri ku? Bila istri ku saja sangat menggemaskan." Kata Aldi sembari menjawil hidung sang istri karena gemas.


Wajah Rania bersemu merah mendapatkan pujian dari suami nya, seakan-akan ada banyak kupu-kupu berterbangan di dalam perut nya.


"Baiklah, karena kita sudah menyepakati janji. Sekarang kita ke rumah sakit." Putus Aldi tak mau dibantah. Dia sudah beranjak dari ranjang lalu membantu menuntun sang istri untuk ikut berdiri.


"Jadi ke rumah sakit?" Tanya Rania pelan.


"Tidak mau?" Tanya Aldi menjawab pertanyaan Rania.


"Tapi aku sudah-"

__ADS_1


"Mau ingkar janji?" Potong Aldi menyela perkataan istri nya.


Seketika raut wajah Rania kembali pias, dia tak berani menatap wajah suami nya saat ini.


"Iya, kita ke rumah sakit." Cicit Rania.


"Good girl." Aldi mengacak-acak rambut sang istri sembari mengembangkan senyum.


"Sekarang aku bantu kamu turun ke basement." Kata Aldi. Namun Rania tak faham dengan perkataan suami nya.


Baru saja ingin memperjelas perkataan sang suami, sudah dihentikan lebih dulu oleh aksi Aldi yang tiba-tiba menggendong nya ala koala.


"Hubby ..." Rengek Rania manja saat tiba-tiba tubuh nya melayang. Dengan sigap, tangan nya membelit leher Aldi agar tak terjatuh. "aku tidak sakit, kenapa di gendong?" Tanya nya dengan nada rengekan. Kaki nya dia ayunkan di udara, berharap Aldi mau menurunkan nya.


"Suami mu ini tidak perlu menunggu mu sakit agar bisa menggendong mu, sayang." Kata Aldi terkekeh melihat bibir istri nya yang manyun beberapa centi.


"Issh... " Rania hanya memde-sah sembari memukul dada suami nya.


Aldi terus berjalan melangkah keluar apartemen menuju lantai dasar, tempat mobil nya terparkir di sana.


Tak membutuhkan waktu lama, mereka sudah sampai di basement. Dengan cekatan, Aldi mendudukkan tubuh istri nya lalu memakai kan safety belt.


Aldi bergegas masuk ke kursi kemudi dan menghidupkan mesin mobil lalu menjalankan nya dengan kecepatan sedang.


Sebelum sampai di rumah sakit, Aldi lebih duku mengabari pihak rumah sakit agar nanti tidak mengantri.


Tangan kanan nya dia gunakan untuk mengemudi sedang tangan kiri nya dia gunakan untuk mengetik pesan pada pihak rumah sakit.


Arah mata nya terkadang fokus pada jalan, tapi beberapa detik kemudian fokus kembali melihat ponsel.


Rania yang mengamati hal itu langsung merebut ponsel yang berada di tangan kiri Aldi. "Fokus menyetir! Jangan membahayakan diri kita akibat aksi mu!" Kata Rania berubah menjadi mode garang.

__ADS_1


__ADS_2