
Hari yang ditunggu-tunggu akan segera tiba. Semua orang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Termasuk dua wanita yang akan menjadi pusat perhatian dalam acara nanti, yaitu Alexa dan Rania sedang bersiap memoles wajah dan penampilan yang dibantu oleh beberapa MUA.
Baik Alexa maupun Rania sama-sama terlihat sangat cantik dengan kekhasan masing-masing. Mereka terlihat sangat bahagia, puas dengan make-up yang dipakai.
Seperti yang sudah direncanakan, pagi ini adalah acara doa bersama untuk dua jabang bayi penerus keluarga Romero yang dihadiri oleh dua ribu anak yatim. Oleh karena itu, Alexa dan Rania belum menggunakan gaun pengantin, mereka menggunakan gaun tertutup berwarna putih, di lengkapi dengan kerudung berwarna putih yang hanya di sampirkan diatas kepala sehingga tidak menutupi seluruh rambutnya.
"Sayang, acara akan segera dimulai. Apa kalian sudah selesai?" Mama Kania muncul di balik pintu langsung mengamati penampilan menantunya satu-persatu.
"Sudah, ma."
"Sudah, ma."
Alexa dan Rania serentak menjawab secara bersamaan, lalu saling pandang dan kemudian mereka tertawa bersamaan.
"Sudah, ayo kita turun."
Mama Kania langsung menggandeng dua menantu nya di lengan kanan dan kiri lalu membawa mereka keluar.
Seperti kerbau yang dicocok hidungnya, dia menantunya menurut begitu saja tanpa memberikan perlawanan.
Tiga orang itu berjalan beriringan menuju aula pengajian dengan tangan mama Kania yang masih menggandeng posesif dua tangan menantunya, seperti orang yang takut kalau dua orang di sampingnya akan kabur.
Saat sampai di tempat pengajian, perhatian orang-orang tertuju pada tiga wanita cantik yang sedang berjalan kearah depan, dimana ada papa Justin, Aldi, dan tentu saja ada Adrian.
Aldi dan Adrian menatap tak berkedip pada pasangan masing-masing. Mereka terlihat mengagumi keindahan ciptaan tuhan yang ada dihadapannya juga sudah menjadi milik mereka. Tak akan ada wanita lain lagi yang mampu membuat mereka terpesona kecuali istri mereka masing-masing.
"Sayang ..." Adrian membuat drama dengan berlari ke arah sang istri dan langsung mengambil alih tangan istrinya yang berada di lingkaran tangan mama Kania.
"Kenapa tidak bilang kau akan kesini? Harusnya bilang dulu biar tidak susah-susah berjalan sampai kemari, karena aku bisa menggendong mu."
Baik Aldi maupun beberapa orang yang lain memutar bola matanya malas mendengar kata-kata lebay Adrian.
"Istri mu itu hamil, bukan lumpuh! Kenapa berjalan kesini saja harus digendong?" Kesal Aldi didepan banyak orang.
"Ya, istri ku memang tidak lumpuh. Tapi dia jadi kecapean berjalan terlalu. Lihatlah dia keringatan." Adrian menunjuk pelipis Alexa yang memang sedikit mengeluarkan keringat.
"Apa benar kau capek, sayang?" Mama Kania yang masih berdiri tak jauh dari Alexa pun ikut memperhatikan wajah Alexa.
__ADS_1
"Em, eng-enggak., ma." Alexa menjawabnya dengan sedikit terbata-bata. Bukan tanpa alasan dia terlihat grogi, dia sangat malu dengan sikap Adrian yang menurutnya begitu kekanakan padahal di saksikan oleh ribuan orang.
Dan sebab itu pula dia sampai mengeluarkan keringat, bukan karena kecapean.
"Tuh, kan. Istri ku pasti takut mau jawab jujur sampai ngomong nya terbata-bata gitu. Udah, sini aja duduk sama aku, sayang." Adrian langsung mengangkat tubuh istrinya lalu duduk di salah satu kursi yang tadi ditempati Adrian.
Tidak, mereka tidak duduk berdampingan. Melainkan Adrian membawa Alexa duduk dipangkuan nya. Membuat semua orang hanya bisa geleng-geleng kepala. Sedangkan Alexa sudah tak bisa lagi menampilkan wajah cantiknya di depan orang-orang.
Bahkan hanya mengangkat kepala pun, rasanya sangat malu. Dan yang bisa Alexa lakukan hanyalah membenamkan wajahnya di dada bidang Adrian.
Setelah acara drama Adrian dan Alexa selesai, akhirnya salah satu pemuka agama memimpin doa karena semua orang sudah berkumpul. Mereka terlihat begitu hikmat membaca doa-doa bersama.
Dan, acara doa pun selesai. Kini tibalah di acara selanjutnya yaitu santunan anak yatim. Beberapa dipanggil maju sebagai perwakilan teman-teman yang lain untuk sekedar formalitas.
Semua anak terlihat sangat bahagia mendapatkan bantuan yang menurut papa Justin tak seberapa, banyak dari perwakilan panti mengucapkan selamat serta terimakasih atas bantuan yang diberikan oleh keluarga.
Hingga acara pun terus berlanjut dan tak terasa acara pengajian sudah selesai. Mereka semua membubarkan diri dengan tertib. Satu-persatu anak-anak meninggalkan aula, tak ada acara saling dorong menuju pintu keluar.
Setelah semua orang meninggalkan aula, seluruh anggota keluarga pun ikut meninggalkan tempat untuk mengistirahatkan tubuh sejenak sebelum acara selanjutnya di mulai.
.
.
.
Gaun yang dikenakan Rania dan Alexa memiliki model dan warna yang sama, namun tidak seratus persen sama. Ada beberapa bagian yang sengaja dibuat beda. Begitu pula dengan Adrian dan Aldi, mereka menggunakan tuxedo warna senada dengan gaun istrinya.
Para tamu sudah banyak berdarah, silih berganti tamu undangan memberikan selamat pada kedua mempelai.
Sudah banyak sekali para tamu yang memberikan selamat, tetapi sepertinya tak ada tanda-tanda mulai habis. Hingga membuat Alexa dan Rania kelelahan karena terus saja berdiri menyambut uluran tangan mereka.
Sebenarnya Aldi dan Adrian pun merasakan hal yang sama, tetapi mereka lebih memperhatikan rasa lelah istrinya dibanding tubuh mereka masing-masing.
Hingga akhirnya, Adrian memutuskan untuk membawa Alexa ke kamar lebih dulu dan meninggalkan sepasang pengantin yang juga sangat ingin beranjak dari sana.
"Eh, Lo nggak boleh ninggalin pesta gitu aja dong. Ini pesta untuk kita berdua, jadi harus sampai selesai juga berdua." Aldi tiba-tiba menarik jas Adrian dari belakang saat dia ingin mengangkat tubuh Alexa, sehingga membuatnya terhuyung ke belakang.
__ADS_1
"Ah, bomat! Yang gue pikirin itu kenyamanan istri gue. Masalah pesta, gue nggak ambil pusing." Adrian terlihat kesal menatap kakak nya.
Aldi menggelengkan kepala mendengar perkataan adiknya yang memang selalu seenak sendiri.
"Jangan gitu, ini acara papa sengaja dibuat meriah untuk kita. Setidaknya hargai sedikit pengorbanan mereka yang udah keluarin banyak uang dan tenaga untuk mikirin pesta ini." Tutur Aldi menatap bola mata Adrian intens penuh kesungguhan.
Adrian diam sejenak, benar juga apa yang dikatakan kakaknya. Setidaknya dia harus menghargai usaha papa dan mamanya yang sudah berjuang sampai sejauh ini demi putra-putra nya.
"Baiklah, tapi biarkan Alexa duduk disini. Cukup aku saja yang bersalaman dengan para tamu." Putus Adrian.
"Terserah kau saja." Kesal Aldi rasanya melihat tingkah adiknya. Tapi dia juga tak bisa berbuat apa-apa jika adiknya sudah membuat keputusan karena pastinya tak akan bisa di cegah.
.
.
.
Hari menjelang malam, para tamu sedikit demi sedikit mulai menyusut. Rasa lelah dan kantuk benar-benar sudah menyerang tubuh mereka.
Alexa dan Rania benar-benar sudah tak tahan dengan rasa pegal yang menjalar di badan mereka, hingga mereka memutuskan untuk duduk terus-terusan di kursi panggung. Sedangkan orang yang bertugas menyalami para tamu adalah Adrian dan Aldi.
Meski mereka terlihat lemah, tapi sama sekali tak mengeluh. Justru keduanya menikmati acara karena bisa bertemu dengan orang-orang yang sudah lama tak ditemui nya. Begitu pula dengan papa Justin dan mama Kania, meski lelah mendera, tetapi mereka terlihat begitu bahagia karena setelah sekian tahun akhirnya bisa bertemu dengan para sahabatnya.
Hari mulai larut, sepertinya sudah tak ada lagi tamu yang datang. Aldi dan Adrian memutuskan untuk pergi membawa istri mereka ke kamar hotel yang sudah di sediakan.
Tetapi, saat baru saja melangkah. Langkah kaki mereka terhenti oleh suara keributan dari luar.
"Ada apa ini?" Tanya papa Justin dengan suara berat nya saat melihat tiba-tiba ada seorang laki-laki menerobos masuk ke dalam ruangan yang di ikuti oleh beberapa security dan juga bodyguard yang menjaga acara.
"Mohon maaf pak, tiba-tiba laki-laki ini memaksa ingin masuk padahal tidak membawa kartu undangan." Salah satu bodyguard berhasil meringkus laki-laki itu hingga terjatuh ke lantai dengan posisi membungkuk.
"Lepaskan! Aku hanya ingin bertemu Alexa sebentar!" Sentak laki-laki itu, dia terlihat memberontak dari cekalan seorang bodyguard.
Deg.
Mata Alexa melebar mendengar suara itu. Ya, Alexa mengenali suaranya. Dia adalah laki-laki yang pernah singgah di hidupnya menggantikan posisi Adrian.
__ADS_1
"Frans ..."