
Seorang laki-laki berperawakan tinggi dan bertubuh besar sedang gelisah menyusuri sebuah pemukiman kumuh tempat tinggal seorang wanita yang sudah berhasil ia ambil keperawanaan nya, dan kali ini ia datang untuk menebus semua kesalahan nya.
Mobil nya tidak muat untuk memasuki pemukiman itu, jadi Aldi terpaksa harus berjalan kaki di gang sempit dan becek. Terdapat banyak genangan air di sepanjang jalan, sepatu hitam mengkilap yang lumayan mahal itu terpaksa harus menginjak lumpur, jika tidak sangat berhati-hati bisa jadi Aldi terpeleset di sana.
Celana nya sedikit ia jinjing, takut terkena cipratan air lumpur.
Seumur hidup nya, Aldi baru pertama kali ini menginjakkan kaki di tempat kotor dan kumuh seperti ini.
Apalagi melihat kanan kiri nya terdapat bangunan tembok berlumut yang terlihat sudah tua dan di penuhi coretan-coretan tidak jelas di sana.
Suasana gang itu terlihat sepi, tidak ada satu orang pun yang berlalu lalang di gang itu, membuat suasana semakin mencekam dan terasa horor.
Tiba-tiba bulu kuduk nya merinding saat melihat kanan kiri tidak ada siapapun. Tapi demi Rania, apapun akan ia lakukan agar bisa mendapatkan gadis itu kembali.
Aldi bahkan sudah bersusah payah mendesak para pegawai club untuk memberikan alamat rumah Rania, tapi tak ada seorang pun yang tahu di mana alamat rumah Rania.
Hingga akhirnya Aldi menghubungi manager club, tempat Aldi dan Rania melakukan dosa terindah. Akhirnya manager club memberikan alamat lengkap beserta data diri nya.
Aldi tak menyangka, gadis yang ia cintai memiliki nasib yang se menyedihkan ini.
Ia jadi sangat menyesal sudah mengambil keperawanan gadis itu. Pasti saat ini dia sedang terpukul, dan kesedihan nya semakin bertambah. Tapi mau bagaimana lagi? menyesal pun tak akan mengembalikan keadaan.
Meski sebenarnya Aldi tidak pernah menyesal, karena dengan kejadian ini akhirnya Aldi di pertemukan dengan seorang gadis baik-baik dan masih perawan.
Selama ini Aldi tidak suka berhubungan dengan para teman wanita nya karena kebanyakan dari mereka sudah tidak perawan lagi.
Dan Aldi tidak menyukai wanita bekas, ia hanya ingin bercinta dengan perempuan yang masih perawan dan ternyata apa yang di inginkan akhirnya tercapai.
Meski awalnya tidak sengaja, tapi takdir baik seolah berpihak pada nya.
Aldi menemukan Rania yang notabene nya seorang pekerja club tapi masih bisa menjaga kesucian nya. Dan itu cukup membuat Aldi kagum. Ia tidak akan melepaskan wanita itu.
Tiba-tiba Aldi melihat siluet seorang wanita yang baru saja keluar rumah.
"Permisi, Bu. Apa ibu tahu di mana rumah Rania?"
Tanya Aldi pada seorang ibu setengah baya berbadan besar seperti nya sebagian tubuhnya tertutup lemak karena terlihat sekali pipi nya yang seperti ingin jatuh ke tanah saat bergerak. Ibu itu menggunakan daster panjang ber lengan pendek.
"Oh ... Rania, Mas ganteng terus lurus aja ke depan terus belok kiri nanti dari jajaran rumah yang sebelah kanan ada rumah berwarna hijau, satu jendela nya bolong. Nah, itu rumah Rania." Jelas sang ibu bertubuh lemak itu.
Bukan nya paham, Aldi malah semakin di buat bingung. Tapi ia tetap mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
"Lurus terus, lalu belok kiri ya, Bu?" Ulang Aldi lagi.
"Iya mas ganteng. Mas ganteng ini apa nya nak Rania? Jangan-jangan pacar nya ya?" Tanya ibu bertubuh gempal yang sebagian tulang dan daging nya tertutup lemak.
Tapi belum sempat Aldi menjawab ibu gemoy itu sudah kembali berbicara.
"Ih amit-amit suka sama anak itu. Mas ganteng pasti belum tahu ya, kalau kerjaan Rania itu jadi pe la cur. Ya, walaupun cantik tapi kelakuan nya nggak baik mending nggak usah. Setiap malam Rania itu datang ke itu apa nama nya? pokok nya yang tempat hiburan malam anak muda jaman sekarang. Terus Rania menjajakan diri ke para bapak-bapak yang mau membeli nya. Mending mas ganteng sama anak saya saja yang sholehah, nggak neko-neko, pasti mas ganteng suka." Kata Ibu gemoy dengan sinis seakan-akan sedang melihat Rania ada di sini.
"Ibu jangan sembarangan menghina calon istri saya! Rania itu gadis baik-baik. Dia memang bekerja di sana tapi bukan berarti bekerja sebagai seorang pe la cur."
"Dan ingat baik-baik perkataan saya! Jangan pernah menghina Rania dan keluarga nya! Jika sekali lagi saya mendengar ibu menghina nya, maka saya tidak akan segan-segan untuk meratakan tempat kumuh ini!" Ancam Aldi penuh penekanan.
Bahkan ibu bertubuh gemoy mem bahenol itu pun sampai terlihat sangat ketakutan melihat mata Aldi yang menatap tajam pada nya.
"Ba_baik, Mas." Ibu itu menunduk kemudian masuk ke dalam rumah.
Begitu pun Aldi yang melanjutkan langkah nya menuju rumah Rania. Sebelum melangkah ia menghela nafas panjang untuk meredam emosi nya.
Setelah sampai di pertigaan Aldi berbelok ke arah kiri sesuai penuturan ibu gemoy itu. Kemudian ia mulai mengamati satu-persatu rumah yang ada di sana.
Ia masih mengingat dengan jelas ciri-ciri rumah yang di sebutkan ibu itu. Rumah nya berwarna hijau, satu kaca jendela nya sudah pecah.
"Hijau hijau hijau." Aldi terus menggumam sendiri.
Kebetulan di sekitar sini tidak ada satu pun orang yang keluar, dan itu cukup membuat Aldi kesulitan mencari rumah nya.
Apalagi ternyata semua rumah yang ada di komplek sini kebanyakan berwarna hijau, dan itu cukup membuat nya pusing.
Aldi terus berjalan menyusuri rumah-rumah yang ada di sana. Tapi sampai sejauh ini Aldi belum menemukan rumah berwarna hijau yang kaca jendela nya pecah, itu berarti ia belum melewati rumah Rania.
Saat berjalan semakin jauh, Aldi melihat ada seorang ibu-ibu muda sedang menyapu teras rumah. Dengan segera Aldi mendekati ibu muda itu.
"Selamat pagi, Bu."
"Jangan panggil saya ibu, panggil saya mbak! masih muda gini kok di panggil ibu!" Omel nya membuat Aldi menelan ludah nya kasar.
Ia tak habis pikir, orang-orang di komplek ini ternyata semua nya sadis.
Yang satu terlihat baik dan ramah tapi suka menggunjing. sedangkan yang ini, baru saja menyapa langsung di marahi.
Aldi jadi berpikir kalau calon ibu mertua nya pasti juga sebelas dua belas dengan mereka.
__ADS_1
"Maaf, mbak. Apa mbak nya tahu di mana rumah Rania?" Tanya Aldi hati-hati karena tak ingin mendapatkan amukan dari nenek lampir bertopeng ibu muda.
"Untuk apa mencari Rania?! Mau menyakiti nya seperti orang-orang yang datang kemarin?!" Tanya ibu itu menatap horor Aldi.
"Tidak, mbak. Saya tidak menyakiti nya karena saya calon suami Rania."
"Jadi Rania sudah punya calon suami??" Tanya ibu muda yang tak mau di sebut itu menatap tak percaya.
"Iya, mbak. Perkenalkan saya Aldi, calon suami Rania." Aldi terlihat sangat berwibawa saat memperkenalkan diri.
"Saya Tia, tetangga Rania yang baik hati." Ucapnya sedikit songong.
"Rumah Rania itu, pas di depan rumah saya." Tunjuk ibu muda itu.
Aldi mengamati rumah itu, ternyata memang benar, rumah itu berwarna hijau dan satu kaca jendela nya bolong.
"Tapi sekarang Rania sedang tidak ada di rumah." Kata ibu itu sedikit memelankan suara nya.
"Memangnya Rania ada di mana?" Tanya Aldi penasaran
"Rania sedang menemani bapaknya yang di rawat di rumah sakit. Sudah setahun ini bapak nya sakit-sakitan, dan ternyata pak Rudi mengalami sakit jantung dan harus di operasi. Tapi untuk operasi sendiri memerlukan biaya 200 juta, Rania belum memiliki uang sebanyak itu."
Deg!
"Dua ratus juta?" Aldi ingat saat Rania meminta bayaran 200 juta pada nya. Ternyata ini alasan Rania meminta bayaran semahal itu.
Aldi semakin merasa bersalah pada gadis malang itu. Ia akan berjuang mencari Rania dan menjadikan nya sebagai istri nya.
"Kalau boleh tahu bapak Rania di rawat di mana?" Tanya Aldi.
"Rumah sakit umum medica mas. Biasanya kalau bapak Rania sakit di rawat di sana. Pasti sekarang juga di sana." Jelas ibu itu.
"Baik, mbak. Terima kasih. Kalau begitu saya pamit." Aldi pamit dari sana.
"Ya, mas. Hati-hati."
...💙💙💙...
...TBC...
See you next chapter 👋🙂
__ADS_1