
Pagi hari, kediaman Adrian tiba-tiba di datangi tamu yang tak pernah ia inginkan sebelum nya. Mereka adalah sepasang suami-istri paruh baya yang berstatus orang tua kandung Adrian.
Kedua nya datang dengan penuh amarah hingga membuat keributan di mansion sepasang pengantin baru itu.
"Adrian, dimana kamu??!!" Teriak Tuan Justin menggelegar hingga ke seluruh sisi ruangan.
"Adrian, keluar lah!!" Panggil nya lagi.
Ia sangat marah saat mengetahui perusahaan milik nya yang di serahkan pada anak bungsu nya tiba-tiba pindah tangan ke seorang wanita sebagai mas kawin pernikahan tanpa meminta persetujuan dari orang tua nya.
Dan yang lebih membuat nya murka, wanita yang mengambil alih perusahaan itu adalah wanita yang sama saat beberapa tahun silam membuat anak nya terpuruk karena telah mengkhianati cinta nya.
Wanita itu justru berselingkuh dengan laki-laki lain padahal Adrian rela memberikan semua nya pada wanita itu. Itu lah yang di ketahui kedua orang Adrian.
"Adrian!!" Panggil seorang laki-laki paruh baya lagi.
"Sabar, pa. Jangan terlalu emosi." Wanita paruh baya bernama Sandra yang berstatus sebagai ibu Adrian, sejak tadi berada di samping laki-laki itu berusaha mengendalikan amarah suami nya.
Tangan Nyonya Sandra bergerak mengelus lengan suami nya yang sejak tadi terus ia dekap.
Sedangkan di kamar sepasang pengantin baru itu tak mendengar apapun suara berisik dari luar.
Adrian masih sangat nyaman mendekap istri nya tanpa berniat sedikit pun beranjak dari posisi ini. Ia benar-benar tak bisa jauh dari sang istri. Entah mengapa saat ini Adrian hanya ingin menikmati kebersamaan nya bersama istri tercinta.
"Sayang, kamu ingin punya anak berapa?" Tanya Adrian dengan wajah sedikit mendongak karena saat ini Adrian sedang merebahkan kepala nya di atas paha wanita nya dengan tangan yang mendekap perut sang wanita.
Sangat nyaman.
Itulah yang di rasakan Adrian saat ini, apalagi merasakan sentuhan tangan istrinya yang terus bergerak menyusuri rambut nya membuat nya begitu tenang dan nyaman.
"Sayang ... " Panggil Adrian lagi saat tidak mendapati jawaban dari istri nya. Adrian bisa merasakan perubahan wajah istri nya yang tiba-tiba menjadi mendung saat Adrian melontarkan pertanyaan itu.
"Adrian ... " Panggil Alexa lembut.
__ADS_1
"Ya, sayang? kamu kenapa hm? Apa kamu tidak ingin memiliki anak dulu? kalau iya, aku tidak aka_"
"Sstt ... bukan seperti itu, Adrian. Tapi ... " Alexa mengentikan perkataan nya, ia menatap langit-langit dengan tatapan sendu.
"Bagaimana kalau aku belum bisa hamil?" Kata Alexa setelah mampu menatap Adrian.
Mendengar itu, Adrian menjadi sangat bersalah. Ia lupa kalau sebelumnya Alexa pernah menikah dengan Frans dan belum di karuniai anak padahal sudah bertahun-tahun lama nya.
"Jangan pesimis, sayang. Kita harus tetap berusaha, masalah mau dikasih atau pun tidak itu jadi masalah. Yang penting kita harus selalu berusaha, jangan pernah menyerah. Aku akan mencari dokter terbaik untuk konsultasi."
"Mungkin saja dulu saat kamu dan Frans menikah sulit di karuniai anak karena Tuhan tahu kalau Frans bukan laki-laki yang baik dan tidak tepat menjadi ayah dari anak mu."
Adrian mencoba memberikan nasehat agar istrinya tidak bersedih lagi.
Adrian merubah posisi nya menjadi duduk kemudian menggenggam kedua tangan Alexa. "Sayang, percaya padaku. Apapun yang akan terjadi nanti, aku tetap selalu di samping mu. Aku tidak peduli kita bisa memiliki anak atau tidak, yang jelas cintaku tak akan pernah berkurang sedikitpun, hanya karena Tuhan belum memberikan kepercayaan pada kita. I love you forever, my wife. Don't be sad, ok?" Tutur Adrian pada sang istri, kemudian tangan nya menyentuh pipi wanita nya yang sudah basah karena air mata.
Ia menatap lekat manik mata Alexa yang terlihat sendu. "Sudah, jangan menangis. Aku tidak suka melihat mu seperti ini." Di dekap nya Alexa ke dalam pelukan Adrian, dan itu semakin membuat Alexa menangis tersedu-sedu.
"A_aku takut, Adrian." Kata nya di sela-sela tangisan Alexa.
Sedangkan baju yang di kenakan Adrian sudah basah akibat tangisan Alexa, namun Adrian tak mempermasalahkan itu.
"Terimakasih, Adrian. Aku mencintaimu. Jangan pernah tinggalkan aku." Alexa kini tersenyum lega dalam dekapan Adrian.
"Tentu, sayang. Jangan pernah berpikir aku akan meninggalkan mu karena itu tidak akan pernah terjadi." Adrian semakin mendekap tubuh mungil istri nya.
Tok... tok... tok...
Baik Adrian maupun Alexa sama-sama mengalihkan pandangan ke arah pintu yang tiba-tiba di ketuk dari luar. Karena sebelumnya tidak ada yang berani mengetuk pintu meski mereka menghabiskan waktu seharian di dalam kamar.
Tok ... tok ... tok.
Suara gedoran pintu semakin kencang hingga membuat Adrian mau tak mau bangkit dari ranjang untuk membuka kan pintu.
__ADS_1
Cklek
"Ada apa?" Tanya Adrian dengan wajah datar menatap seorang nany yang berani mengetuk pintu kamar nya hingga kebersamaan dengan istri tercinta nya terganggu.
"T_tuan, di bawah ada Tuan besar dan Nyonya sedang menunggu Anda." Seorang nany itu terlihat ketakutan melihat Adrian menatap nya dengan tajam. Ia menundukkan kepala tanpa berani menatap sedikit pun pada sang majikan.
Sedangkan Adrian masih termenung di tempat, ia sudah tahu papa nya pasti akan menemui nya tapi ia tidak menyangka kalau papa nya akan bergerak se cepat ini.
Adrian mengusap wajah nya kasar, walau bagaimana pun ia harus bisa menghadapi kemarahan papa nya.
Tapi memang ini lah resiko nya yang harus ditanggung, dia yang sudah membuat kekacauan ini maka dia yang akan mengatasi nya.
"Beri tahu papa ku untuk menunggu di ruang kerja." Perintah Adrian.
"Baik Tuan, saya permisi." Sang Nany membungkuk hormat kemudian berlalu dari sana.
Adrian mengangguk kemudian menutup pintu kembali untuk mengganti baju. Karena saat ini baju yang di kenakan Adrian basah karena air mata Alexa.
"Ada apa, Adrian?" Tanya Alexa saat mendapati wajah suami nya sedikit khawatir.
"Tidak apa, sayang. Aku ke ruang kerja sebentar, ada pekerjaan yang harus di selesaikan. Kamu tunggu di sini, jangan keluar sebelum aku kesini." Perintah Adrian.
Alexa hanya mengerutkan dahi, tak biasa nya Adrian bersikap seperti ini. Seperti ada yang di sembunyikan. "Memang nya kenapa? Apa pekerjaan itu sangat penting? atau kamu membutuhkan bantuan ku?" Tanya Alexa.
"Tidak sayang. Kamu cukup menuruti apa yang ku katakan. Ingat, jangan keluar sebelum aku kembali."
Cup
Adrian mencium kening istrinya. " Aku keluar. Ingat, jangan pernah keluar dari kamar." Kemudian Adrian berlalu dari kamar.
Sedangkan Alexa masih termenung di tempat, ia tak mengerti dengan sikap Adrian. Pikiran buruk nya mulai menghantui otak nya. "Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan?" Alexa menatap nanar suami nya yang tenggelam di balik pintu.
...💙💙💙...
__ADS_1
...TBC...
See you next chapter 👋🙂