Hasrat Cinta Adrian (Balas Dendam Pria Patah Hati)

Hasrat Cinta Adrian (Balas Dendam Pria Patah Hati)
Tidak Tahu Tempat!


__ADS_3

Huh, akhirnya Rania bernafas lega setelah keluar dari mansion nya.


Setelah selesai membicarakan tentang pernikahan mereka tadi, Aldi meminta izin pada orang tua nya untuk pergi jalan-jalan bersama istrinya. Aldi sangat memahami kalau istrinya masih belum merasa nyaman dengan kedua orangtuanya.


Dia sangat pengertian, aaahhh... disaat seperti ini Rania merasa hatinya semakin mencintainya. Sebegitu pedulinya Aldi padanya?


Hah, Rania merasa bersalah karena tidak menyadari hal ini sedari awal. Padahal suaminya ini sudah menunjukkan perhatiannya sedari awal mereka bertemu.


"Terima kasih." Kata Rania tersenyum lembut menatap kearah suaminya.


Tangan mereka saling bertautan berjalan menyusuri jalan kota sembari menatap indahnya gemerlap lampu malam di kota.


Ya, mereka saat ini sedang berjalan kaki menyusuri perkotaan. Sebenernya bukan rencana awal mereka untuk berjalan kaki, tapi karena kebetulan mobil yang dikendarai mereka tiba-tiba mogok dijalan akhirnya Rania memberi saran untuk berjalan kaki di sore hari.


Mau tak mau akhirnya Aldi mengiyakan begitu saja keinginan istrinya. Tidak apa dia berjalan kaki, asalkan bisa membuat istrinya bahagia itu sudah lebih dari cukup.


Dan terbukti, istrinya memang menyukai dengan aktivitas mereka kali ini.


"Terima kasih untuk apa?" Tanya Aldi tersenyum lembut seraya merapikan rambut Rania yang terlihat tak beraturan karena terkena hembusan angin.


Rania dibuat merona dengan perlakuan Aldi yang sederhana namun membuat jantungnya bermasalah. Dia jadi segan ingin mengucapkan kata-kata yang ada dalam hatinya.


"Terima kasih karena apa hm?" Tanya Aldi lagi. Kali ini dia sedikit mengangkat dagu istrinya hingga kedua pasang mata itu saling bertabrakan. Masing-masing menatapnya dengan sorot mata penuh cinta tetapi tidak ada yang saling mengungkapkan kata keramat itu.


"Hei, sayang ..." Kata Aldi lagi sedikit mendesak, dia dibuat penasaran dengan perkataan istrinya yang hanya menyampaikan setengah-setengah menurunnya. Dia tetap ingin mendengar apa alasan istrinya mengucapkan kata terima kasih padanya.


Meski awalnya ragu dan malu, akhirnya Rania mencoba mengumpulkan keberaniannya untuk mengungkapkan kata-kata yang menurutnya sangat memalukan.


"Terima kasih karena sudah mencintai ku sedalam ini. Aku mencintaimu." Rania berkata lirih, dia tidak berani menatap suaminya karena sadar pipinya sudah merona saat ini. Terbukti, dia merasa pipinya merasa seperti terbakar karena panas.


"Aku tidak mendengar. Coba ulangi lagi." Aldi berbisik di telinga istrinya.


Meski hatinya bergemuruh hebat, menahan perasaan bahagia yang membuncah di hati. Tapi dia ingin mendengar sekali lagi perkataan istrinya, terutama tiga kata terakhirnya.

__ADS_1


"Tidak ada pengulangan." Rania melanjutkan langkahnya. Dia membiarkan tangannya terlepas dari tautan tangan suaminya.


Dia sangat malu, Rania merutuki dirinya sendiri karena tiba-tiba mengucapkan hal itu.


Meskipun bagi orang lain adalah hal yang lumrah dan wajar mengucapkan kata-kata seperti itu. Tapi bagi Rania, butuh mengumpulkan keberanian besar untuk mengucapkan kata-kata keramat itu.


Dia bukan wanita yang suka berpacaran, jadi dia tidak terbiasa mengungkapkan kata-kata seperti itu. Meski dulu banyak laki-laki yang menyukainya saat di sekolah, tetapi karena dia harus membantu ayahnya mencari nafkah, dia tidak sempat memiliki waktu untuk berpacaran dan alhasil dia terbiasa hidup sendiri tanpa adanya seorang pacar dalam hidupnya.


Dan ini adalah kali pertama dia menjalin sebuah hubungan. Sebuah jalinan yang langsung menuju pada hubungan sakral. Dia tidak akan merusak hubungan ini. Tidak! tidak akan Rania biarkan dirinya menghancurkan pernikahannya, dia akan berusaha sebaik mungkin menjadi seorang istri.


"Sayang, Kalau kamu tidak mau mengulangi perkataan mu. Aku akan mencium mu disini." Ancam Aldi setelah kembali menyejajarkan langkah nya.


Terkejut dengan ancaman Aldi, Rania menghentikan langkahnya lalu menatap sebal wajah suaminya sembari mencebikkan bibir.


"Silahkan saja kalau kau berani! Memangnya tidak malu pada orang-orang yang berlalu lalang di sini?" Tantang Rania meremehkan. Sudut bibirnya sedikit diangkat menatap remeh suaminya dengan senyum mengejek.


"Beneran tidak takut? Kamu meragukan ancaman ku?" Tanya Aldi tak kalah menatap sengit istrinya. Aldi sedikit mengikis jarak pada istrinya lalu menarik pinggang rampingnya.


Rani tersentak sembari melebarkan matanya tetapi dalam sekejap dia kembali merubah mimik wajahnya agar tak terlihat sedang gugup.


"Apa kamu bilang? Tadi kamu manggil aku dengan sebutan apa?" Tanya Aldi merasa tak percaya dengan apa yang didengarnya. Sekalipun dia tidak pernah mendengar panggilan "Mas" dari Rania.


Walaupun dulu Rania pernah diminta ayah Rudi untuk memanggilnya dengan sebutan mas, tapi tak urung Rania tak mengabulkan kemauan ayahnya. Rania tetap memanggil namanya seperti biasa, dan akhir-akhir ini dia sering memanggilnya dengan sebutan "Hubby" itupun karena dipaksa oleh Aldi.


"Tidak ada siaran ulang!" Kata Rania menyanggah kemauan suaminya.


"Rupanya kamu memang benar-benar ingin dihukum sayang." Aldi menyeringai lebar membuat bulu kuduk Rania meremang tak karuan.


"Emmhhh ..." Rania tersentak kaget saat tiba-tiba benda kenyal menempel tepat dibibir nya. Bukan hanya itu sapuan lidah yang terus berusaha ingin menerobos masuk membuat Rania semakin tak berdaya.


Aldi menggigit kecil bibir bawah istrinya membuat Aldi mau tak mau akhirnya membuka mulutnya. Sedikit mendesis akibat rasa yang begitu menggelora. Sesaat mereka terhanyut dalam peraduan lidah dan bibir itu.


Suara decapan dari kedua mulut yang sedang beradu itu terdengar sangat kentara.

__ADS_1


Beberapa orang yang melihat aksi sepasang manusia itu bersorak riuh sembari mengabadikan momen langka ini. Namun banyak pula yang mengolok-oloknya.


"Woyy! Kalau mau ***-*** cari hotel! Jangan di jalan! Ganggu orang yang lihat aja!"


"Iya! Malu-maluin, woyy!"


"Dasar! Pasangan tidak ada akhlak! Tidak tahu tempat!"


Lontaran kata-kata hinaan itu terdengar tidak terlalu jelas ditelinga sepasang suami-istri yang sedang terhanyut dalam peraduan bibir. Mereka terlalu menikmati hingga tak sadar mereka sedang melakukan di mana.


"Woyy! Berhenti! Astaghfirullah..! Sepertinya mata suci ku perlu di r🏃‍♀️nso melihat kelakuan bejad kalian..!" Kata seorang remaja laki-laki berseragam putih abu-abu yang sepertinya baru saja pulang dari tongkrongan lalu sengaja memberhentikan motor nya melihat aksi Aldi dan Rania. Meski mengatakan demikian, dia tetap memperhatikan dua manusia yang sedang berciuman bahkan mengabadikan dalam ponselnya.


"Halah..! Bilang begituan tapi tetep aja ditonton..!" Sahut laki-laki satunya yang dipastikan adalah teman dari laki-laki yang merekam video kejadian langka ini.


"Nggak ditonton mubadzir, kalau ada yang gratis kenapa nggak dimanfaatin coba?" Kata laki-laki itu sembari menaik-turunkan alisnya. Namun pandangannya masih tertuju pada ponselnya.


"ASTAGHFIRULLAH...! TERNYATA LO BUAT VIDEO JUGA?!" Pekik salah satu laki-laki remaja itu.


Teriakan yang begitu menggema itu berhasil menyadarkan kelakuan sepasang suami istri yang tak memiliki akhlak.


Dengan cepat Rania mendorong tubuh suaminya hingga tersungkur ke belakang.


"Shitt!" Aldi mengumpat saat tiba-tiba tubuhnya didorong istrinya.


Dia ingin marah-marah tetapi langsung tersadar dia masih di jalanan.


Aldi menatap orang-orang yang sedang menyalakan ponsel dan diarahkan kepadanya. Dengan cepat dia berdiri tegak lalu memasang wajah sedatar mungkin. Dia tak ingin orang-orang melihatnya malu.


Ehem!


Aldi berdehem keras untuk menetralkan rasa canggungnya.


"Sorry ... Istri saya sedang mengidam ingin berciuuman ala-ala Korea. Jadi saya terpaksa melakukannya disini seperti drama yang ditonton istri saya." Jelas Aldi penuh kebohongan dengan wajah tak berdosa.

__ADS_1


Rania bertambah geram pada suaminya, kemarahannya sudah berada di ubun-ubun. Dia malu bukan main, bila bisa dia ingin sekali menggantung suaminya di atas menara Eiffel. Tapi sayang seribu sayang, keinginannya itu harus dia urungkan karena belum ingin kehilangan suaminya dan menjadi janda.


__ADS_2