
Aldi segera menjalankan mobil nya menuju rumah sakit medica.
Pikiran nya tak karuan, rasa bersalah itu terus mengganjal dalam relung hati nya.
Bayangan-bayangan wajah sendu Rania saat malam itu bahkan tidak bisa Aldi lupakan.
"Ternyata ini alasan nya kau meminta bayaran 200 juta. Maafkan aku Rania." Gumam Aldi lirih sembari fokus menyetir melihat jalanan.
Aldi kecewa pada dirinya sendiri, ia masih ingat bagaimana Rania mengeluarkan air mata saat di ambil keperawanaan nya.
Terlalu larut dalam pemikiran nya sendiri, hingga tanpa terasa mobil itu sudah sampai di area rumah sakit.
Aldi memarkirkan mobil nya dan mematikan mesin, lalu langsung bergegas masuk dan menunjuk ke bagian resepsionis.
"Permisi, mbak."
"Ya, mas. Ada yang bisa saya bantu?" Sapa petugas resepsionis ramah.
"Eum ... itu, saya mau mencari pasien yang bernama ... " Aldi menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal. Gara-gara panik ia jadi melupakan tidak bertanya siapa nama ayah Rania.
"Siapa, Mas?" Tanya wanita yang manjadi petugas resepsionis karena Aldi mengehentikan ucapan nya.
"Eh ... sebentar, mbak. Saya ingat-ingat nama nya dulu. Kebetulan eum ... saya kurang faham nama nya." Jelas Aldi kikuk.
Sebenarnya malu mengatakan nya, tapi mau bagaimana lagi karena memang ini lah kenyataan nya.
Sedangkan petugas resepsionis itu hanya menggelengkan kepala, membuat Aldi bertambah malu.
"Ogeb! kenapa gue lupa nggak tanya nama bokap Rania? Kalo gini kan gue malu sendiri." Aldi merutuki dirinya sendiri dalam hati.
Aldi mengingat-ingat ibu muda yang tidak mau di sebut ibu itu.
"Rania sedang menemani bapak nya yang di rawat di rumah sakit. Sudah setahun ini bapak nya sakit-sakitan, dan ternyata pak Rudi mengalami sakit jantung dan harus di operasi. Tapi untuk operasi sendiri memerlukan biaya 200 juta, Rania belum memiliki uang sebanyak itu."
Ya, sekarang Aldi mengingat nya, nama nya adalah pak Rudi. Aldi mengembangkan senyum, ternyata daya ingat nya begitu tajam. Seketika ia merasa bangga pada dirinya sendiri yang terlampau cerdas karena informasi sekecil ini pun bisa masuk ke dalam ingatan nya. Sombong amat!🤕
"Eum ... nama nya pak Rudi, mbak." Aldi mengatakan nya dengan bangga dan percaya diri.
"Baik, sebentar ya, mas. Silahkan duduk dulu sembari menunggu." Kata wanita ber setelan baju kerja berwarna putih di lapisi jas warna hitam.
"Tidak perlu, mbak. Saya harus segera kesana." Kata Aldi. Ia tidak sabaran ingin segera menemui Rania beserta ayah nya.
"Mohon maaf, mas. Nama lengkap pak Rudi yang mas maksud siapa? Kebetulan disini sedang ada beberapa pasien yang bernama Rudi." Jelas sang petugas resepsionis.
Ngeeek
Lemes sudah tulang lutut Aldi, padahal tadi ia sangat senang dan bangga karena ingat nama ayah Rania, dan ternyata nama Rudi saja belum cukup.
"Memang nya ada berapa Rudi di rumah sakit ini?!"
Aldi menjadi kesal sendiri karena terlalu lama berdiri disini. Padahal niat nya untuk cepat-cepat ke rumah sakit agar segera bertemu Rania. Ternyata mencari ruangan saja seperti ini susah nya.
__ADS_1
"Ada 67 orang yang bernama Rudi, mas."
"Rudi yang terkena penyakit jantung. Ada berapa?"
"Baik, mas. Kebetulan ada 6 pasien bernama Rudi mengalami penyakit jantung. Jika Anda ingin menjenguk, maka bisa di antar oleh salah satu tenaga kerja kami untuk menemui satu-persatu pasien. Tapi sebelum nya, harap tinggalkan KTP terlebih dahulu karena kami tidak ingin terjadi hal yang tidak diinginkan." Jelas sang resepsionis panjang lebar kemudian menunjuk salah satu office boy yang kebetulan ada di sana.
Aldi akhirnya mengangguk menyetujui nya, untung saja petugas resepsionis termasuk ramah. Jadi Aldi masih di tawarkan untuk menjenguk dengan ditemani pekerja di sana.
Bayangkan bagaimana kalau Aldi harus mencari satu-persatu ruangan di antara enam orang pasien, pasti akan membutuhkan waktu yang lama. Karena kebetulan rumah sakit ini tergolong rumah sakit besar, bahkan memiliki banyak lantai.
Aldi berjalan membuntuti seorang laki-laki muda berseragam office boy.
Tiba di ruangan pertama yang di tuju mereka, sang Office boy mempersilahkan Aldi untuk masuk dan mengecek sendiri.
Saat masuk ke ruangan, Aldi mengamati seorang bapak-bapak yang terbaring lemah di atas brangkar tanpa di dampingi siapa pun.
Dengan ragu Aldi mendekati nya. Tapi di lihat dari wajah orang itu, tidak ada kemiripan sama sekali dengan wajah Rania.
"Permisi, pak. Apa Bapak bernama pak Rudi?"
"Iya benar, saya Rudi." Ucap nya lemah.
"Bapak sakit apa?" Tanya Aldi lagi.
"Saya sakit jantung. Mas ini siapa?" Tanya bapak pasien dengan suara rendah dan terdengar lemah.
"Perkenalkan saya Aldi, pak."
"Mohon maaf, pak. Saya ingin bertanya, apa bapak memiliki anak gadis?" Tanya Aldi lagi. Meski sempat ragu, tapi ia tetap bertanya.
Mata Aldi seketika berbinar-binar mendengar nya.
"Oh ya?? Sekarang anak Bapak ada di mana?" Tanya Aldi antusias. Seketika bapak itu mengerutkan dahi.
"Anak saya sedang membeli es krim bersama ibu nya, Sejak tadi dia menangis meminta di belikan es krim." Jelas bapak itu.
Aldi mendadak cengo, Rania menangis meminta di belikan es krim??
"Memang nya anak Bapak umur berapa tahun?" Tanya Aldi karena merasa itu bukan lah Rania nya.
"Umur anak saya masih sembilan tahun, mas."
Jawaban sang bapak membuat Aldi kembali lesu. "Oh, saya kira anak bapak sudah dewasa karena saya sedang mencari teman saya yang orang tuanya di rawat di sini. Kalau begitu saya permisi, pak."
Tidak ingin berlama-lama di ruangan orang itu, Aldi langsung keluar tanpa menunggu jawaban sang bapak.
Akhirnya Aldi dan seorang office boy itu melanjutkan langkah menelusuri ruangan yang sudah ia catat.
Tiba di ruangan kedua, pasien di sana masih terlihat muda jadi tidak mungkin kalau itu adalah Bapak Rania.
Sampai di ruangan ketiga, juga bukan tempat ayah nya rania. Karena saat di tanyai, Bapak itu menjawab dirinya tidak memiliki anak perempuan.
__ADS_1
Saat menuju ruangan ke empat juga bukan ayah Rania, badan Aldi sudah sangat lemas karena sejak pagi belum sarapan dan sekarang ia bolak-balik berjalan menyusuri ruangan demi ruangan membuat tenaga nya terkuras habis.
"Mas OB." Sapa Aldi pada laki-laki yang sejak tadi menemani nya. Aldi sudah terlihat sangat lesu dan wajah nya terlihat kusut.
"Ya, ada apa, pak?" Sahut sang OB.
"Bisa kamu bantu, saya? Tenang aja, nanti saya bakal kasih uang banyak."
"Bantu apa, pak?" Tanya OB itu mengerutkan dahi. Karena sejak tadi sang OB memang sudah membantu nya mengelilingi rumah sakit.
"Kamu dorong saya menggunakan kursi roda ke ruangan yang kita tuju." Kata Aldi.
"Hah?" Sang OB terbengong-bengong menatap heran dengan perintah orang di samping nya.
"Tenang aja, nanti saya kasih bonus 2 juta karena masih dua ruangan lagi." Kata Aldi lagi.
Sang OB berpikir sejenak, kemudian menganggukkan kepala.
OB itu mengambil kursi roda yang kebetulan ada di depan salah satu ruangan yang dekat dengan nya.
Sedangkan Aldi tersenyum lebar, akhirnya penderitaan nya untuk berjalan kesana-kemari segera berakhir. Ia jadi berpikir kenapa tidak dari tadi saja melakukan hal ini.
"Ayo, pak." OB itu sudah siap mendorong Aldi menggunakan kursi roda, sedangkan Aldi memposisikan dirinya dengan sangat nyaman.
Ia bahkan beberapa kali menguap karena merasa nyaman di dorong menggunakan kursi roda.
"Sudah sampai di ruangan ke lima, pak."
"Apa?" Aldi melebarkan mata nya sembari menoleh ke belakang menatap sang OB.
Bahkan belum ada 5 meter jaraknya dari ruangan itu ternyata sudah sampai. Lalu kenapa si OB tidak memberi tahu nya kalau ruangan nya sedekat ini? Batin Aldi menggerutu.
Tapi ia segera bangkit, dan masuk ke dalam ruangan.
Saat membuka pintu, Aldi langsung melihat wajah wanita yang sejak tadi ia cari.
Wanita itu sedang menggenggam tangan seorang laki-laki paruh baya yang terbaring lemah di atas brangkar.
Dengan perlahan Aldi mendekati wanita itu, perasaan Aldi campur aduk melihat pemandangan itu.
Tapi ia harus menguatkan hati nya untuk ke sana.
"Rania." Aldi menyentuh bahu Rania yang sejak tadi menunduk.
Deg.
"Kamu?!"
Novel ini belum tamat, tapi sengaja ku kasih tanda end padahal aslinya masih lama.😩 Karena biar anu.🤭😌😂😂
...💙💙💙...
__ADS_1
...TBC...
See you next chapter 👋🙂