
"Kak Raka." Panggil Rania saat melihat kakak nya sedang di dorong Aldi menuju ke arah nya.
Ia sedikit heran melihat kakak nya ikut kemari, karena biasa nya kakaknya ini memang tidak pernah keluar rumah. Tapi sekarang kak Raka ada di rumah sakit bersama Aldi.
"Kak Raka kenapa ada di sini?" Tanya Rania heran.
"Apa kakak tidak boleh menjenguk ayah?" Tanya kak Raka sedikit kecewa karena adik nya mengatakan seperti itu, sangat menunjukkan kalau kakak nya memang sangat tidak berguna bagi siapapun dan hanya merepotkan nya.
"Kakak ini bicara apa? Maafkan Rania jika perkataan Rania ini menyakiti kakak. Rania tidak bermaksud seperti itu." Sanggah Rania cepat. Ia tak ingin kakak nya salah paham dengan perkataan nya.
Memang semenjak Kak Raka mengalami kecacatan, dia menjadi orang yang lebih sensitif.
Akibat dari kecacatan yang di derita nya, ternyata memang benar-benar sangat mempengaruhi psikis nya.
Kak Raka menjadi orang yang lebih sensitif, selalu menyalahkan diri sendiri, merasa diri nya tak berguna dan merasa menjadi orang yang selalu merepotkan yang lain.
Itu lah sebab nya mengapa Kak Raka menjadi orang yang lebih sensitif dari yang lain.
Rania serta ayah Rudi hanya bisa bersabar, mereka memahami kekecewaan kak Raka pada diri nya sendiri. Rania dan ayah Rudi hanya bisa memberikan dorongan serta dukungan pada kak Raka agar tetap semangat menjalani kehidupan meski dengan fisik yang cacat.
Semua yang menimpa kak Raka adalah takdir, jadi sudah sepatutnya kak Raka menerima takdir yang di berikan Tuhan. Itulah kata-kata yang selalu di tanamkan ayah Rudi saat anak sulung nya merasa down dengan keadaan.
"Kak Raka mau bertemu ayah, ayo kita ke ruangan ayah." Aldi menyela pembicaraan Kakak dan adik itu, Aldi menyadari bahwa kak Raka memang sedikit sensitif di bandingkan orang lain.
Dan Aldi memaklumi nya karena ia juga paham tentang penyebab kak Raka menjadi sensitif seperti ini yang tidak lain dan tidak bukan karena rasa kecewa nya terhadap diri sendiri. Hal itu sangat wajar terjadi pada orang yang mengalami hal serupa seperti kak Raka.
Terlebih kak Raka adalah seorang laki-laki yang seharusnya melindungi serta menjaga adik dan ayah nya tapi justru dia yang harus di lindungi dan di jaga oleh adik perempuan nya.
"Biar aku yang dorong kak Raka." Rania merebut kursi roda yang akan di dorong Aldi.
Dia juga merasa bersalah karena selama beberapa hari ini tidak mengunjungi kakak nya.
__ADS_1
"Bagaimana kabar kak Raka? Maafkan Rania tidak bisa mengurus kakak selama beberapa hari ini." Kata Rania lembut. Ia merasa menyesal karena tidak ada waktu untuk pulang melihat keadaan kakak nya.
"Tidak perlu khawatir, Kakak baik-baik saja, Rania. Selama beberapa hari ini ada orang-orang yang membantu semua keperluan Kakak. Dan orang-orang itu adalah orang-orang yang di sewa Aldi." Kata kak Raka sembari menampilkan senyum.
Sekali lagi Kak Raka merasa bersyukur karena ada Aldi dalam hidup mereka yang sebentar lagi akan menjadi adik ipar nya.
"Apa itu benar?" Tanya Rania menelisik wajah Aldi. Meminta penjelasan karena sejak kemarin Aldi tidak mengatakan apapun pada nya.
"Ya, itu benar Rania. Tidak hanya itu, Aldi merenovasi rumah kita. Kaca jendela kita sudah di ganti, dinding nya di cat kembali. Aldi juga membelikan beberapa perabot rumah kita. Sekarang kita sudah memiliki mesin cuci dan AC. Di ruang depan juga sudah ada sofa. Dan di dapur ada meja makan." Kak Raka menjelaskan dengan penuh antusias.
Walau kak Raka tidak dapat melihat keadaan rumah nya, tapi kak Raka bisa membayangkan kalau rumah nya sudah lebih baik dari sebelumnya.
Para tetangga berdatangan menanyakan pada kak Raka tentang renovasi rumah nya. Mereka bertanya dapat uang dari mana hingga bisa mengganti kaca jendela serta cat nya? Bagaimana bisa mengganti genteng?
Bagaimana mereka mampu membeli mesin cuci serta AC?
Kak Raka yang di berondong pertanyaan oleh warga merasa tidak bisa menjawab karena waktu itu Aldi belum menjelaskan status nya.
Apalagi saat para ibu-ibu mengintip ruang tamu rumah nya sudah ada sofa empuk. Membuat para ibu-ibu kepo bertanya-tanya dan berargumen sendiri.
Tentu kak Raka sangat tidak terima dengan tuduhan itu, kak Raka ingin melawan tapi dia kalah karena orang-orang yang datang tidak hanya dua atau tiga orang. Tetapi banyak orang.
Untung lah Aldi datang tepat waktu, saat ibu-ibu yang datang semakin banyak, saat itu pula Aldi datang bersama beberapa orang wanita yang di sewa Aldi untuk menemani kak Raka selama sendiri.
Aldi menjelaskan dengan gamblang tentang status nya sebagai calon istri Rania.
Bahkan Aldi sampai mengancam para ibu-ibu jika sekali lagi Aldi mendengar mereka menghina Rania dan keluarga nya, maka Aldi tidak akan segan-segan untuk meratakan tempat kumuh itu.
Para ibu-ibu menjadi ketakutan, mereka tak lagi berani mengeluarkan suara. Dan akhirnya mereka bubar setelah di perintah Aldi dan tidak boleh menemui keluarga Rania kalau hanya ingin menghina.
Semenjak itu, kak Raka sangat bangga serta kagum pada Aldi.
__ADS_1
"Kamu sangat beruntung memiliki calon suami seperti Aldi, Rania." Kata kak Raka kembali membuka suara setelah beberapa menit mereka saling terdiam.
Aldi menampilkan senyum bangga pada Rania mendengar pujian itu.
Sedangkan Rania mendengus kesal melihat senyum bangga Aldi, padahal tadi dia sempat terharu dengan semua perlakuan Aldi pada keluarga nya.
Tapi seketika rasa haru itu dihancurkan oleh wajah songong Aldi yang memasang wajah congkak nya.
Aldi tersenyum menggoda sembari menaik-turunkan kedua alisnya lalu mendekat ke arah Rania.
"Dengar apa yang kak Raka bilang, kamu itu sangat beruntung memiliki calon suami seperti ku. Tampan, kaya, baik hati, dan tidak sombong." Bisik Aldi tepat di depan telinga Rania agar Kak Raka tidak mendengarkan ucapan nya.
Rania langsung menatap jengkel wajah Aldi seraya menyipitkan mata, ia sangat tidak suka dengan Aldi yang membanggakan diri.
"Tidak sombong kamu bilang?" Bisik Rania sedikit berjinjit agar bisa berkata tepat di telinga Aldi.
"Ya, aku tidak sombong." Kata Aldi dengan wajah cool nya.
"Cih! Kau bilang tidak sombong tapi berbangga diri. Lalu apa namanya kalau tidak sombong?!" Tanya Rania lagi dengan suara pelan.
"Aku tidak membanggakan diri, tapi hanya mengingatkan calon istri ku seharusnya bangga memiliki calon suami seperti ku. Sudah kaya, Tampan, baik hati, dermawan. Apalagi coba kekurangan ku?" Kata Aldi lagi dengan senyum pongah nya.
Membuat Rania semakin merasa kesal, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa selain memberengut kesal dan memanyunkan bibir.
Cupp
Mata Rania melotot sempurna saat tiba-tiba bibir nya di kecup oleh Aldi. Bukan hanya kecupan biasa, Aldi juga sedikit memberi lummatan pada bibir ranum Rania yang begitu menggoda.
"Hukuman untuk mu karena sudah berani menggoda ku dengan bibir mu." Bisik Aldi tepat di telinga Rania.
...💙💙💙...
__ADS_1
...TBC...
See you next chapter 👋🙂