
"Saat itu Aldi ikut tinggal di mansion Adrian. Aku pikir tinggal di sana adalah pilihan yang tepat dar pada tinggal sendiri disini dan merasa kesepian. Tapi..."
Aldi tak jadi meneruskan perkataannya karena sedang menimbang-nimbang apakah hal ini pantas untuk dibicarakan atau tidak.
"Tapi kenapa?" Tanya mama Kania cepat begitu penasaran dengan kalimat yang dipotong anaknya.
Aldi menghembuskan nafas panjang, mau tak mau dia harus mengatakannya meski dengan sedikit kebohongan.
"Ternyata aku tinggal di mansion Adrian adalah keputusan yang sangat salah. Karena setiap saat aku terus-terusan mendengarkan suara desaahan dan erangan mereka. Membuat telinga ku geli tapi juga ingin merasakannya." Ceplos Aldi.
"What??!" Semua orang kaget mendengar penuturan Aldi. Bahkan Rania pun ikut melebarkan matanya saat mendengarkan kata-kata frontal dari suaminya.
"Astaga, Abang..! Buahahaha...!" Adrian tak bisa menahan tawanya mendengar penuturan kakak gesrek nya itu.
"Diam Adrian! Aldi masih belum selesai bicara!" Tegas papa Justin menatap dingin putra terakhirnya. Alexa mencubit pinggang suaminya agar mengehentikan tawanya.
Sebenarnya Alexa sangat malu mendengar perkataan kakak iparnya. Karena itu berarti kakak iparnya mendengar suara-suara mereka saat bercinta. Oh astagaaaa ...bila boleh memilih, Alexa seperti ingin menceburkan wajahnya ke laut merah saja.
"Lanjutkan!" Perintah papa Justin kepada Aldi. Dia tidak sabar ingin mendengarkan inti dari cerita anak nya, terapi Aldi justru seperti sedang mengulur waktu dan terlalu berbelit-belit dalam berbicara.
"Saat itu aku memutuskan untuk keluar mencari tempat hiburan supaya terhindar dari suara-suara aneh orang bercinta, huh!" Aldi menghembuskan nafasnya lagi karena merasa masih kesal terhadap adiknya bila mengingat waktu itu.
"Aku memutuskan pergi ke night club dengan tujuan sekedar minum untuk menghilangkan penat." Aldi tampak berpikir sejenak untuk melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
Sedangkan Rania sudah menunduk takut, tak berani sedikitpun mengangkat kepalanya. Dia khawatir Aldi akan menceritakan yang sebenarnya kalau dia adalah seorang wanita pekerja di club.
Orang tua mana yang akan mengizinkan anak nya menikah dengan seorang pekerja malam. Meski faktanya dia masih suci, tapi tak ada orang yang percaya bila dia masih bisa menjaga kesuciannya setelah berbulan-bulan menjadi pekerja di tempat hiburan malam.
Orang-orang pasti akan berpikir dia sudah di jamaah banyak wanita seperti pemikiran Aldi saat pertama kali melihat.
"Setelah beberapa saat, aku memutuskan pergi karena terlalu banyak minum. Saat aku ingin pergi dari sana, tanpa sengaja aku menabrak seorang perempuan yang bekerja di sana. Dia bekerja hanya sebagai pengantar minuman pada pelanggan di sana."
"Tapi pemikiran ku terlalu picik, aku tidak mempercayai ada gadis masih suci di sana. Lalu dengan kesadaran penuh, aku memaksanya untuk melayaniku hingga akhirnya aku meniduri nya." Aldi menghentikan perkataannya, sedikit merasa sesak mengingat hal itu.
Meski sebagian yang dia ceritakan adalah kebohongan. Karena yang sebenarnya rania sepakat menemaninya minum dengan tarif harga 200 juta rupiah. Tapi tak mungkin Aldi mengatakan hal itu karena bisa jadi orang tuanya akan salah paham dan menuduh Rania wanita murahan.
"Dan ternyata, apa yang dikatakan wanita itu adalah kejujuran. Dia masih perawan, dan aku merenggut keperawanan nya."
"Lalu dimana wanita itu? Apa kau lari dari tanggung jawab?" Tanya papa Justin dengan suara begitu dingin. Mata tajamnya terus menatap nyalang anaknya seakan-akan tersangka narapidana yang mendapatkan hukuman mati.
"Wanita itu saat ini ada di sampingku, dan sekarang sudah menjadi istri ku." Kata Aldi tegas. Tanpa keraguan ataupun ketakutan sedikit pun meski keluarga nya seakan sedang menghakiminya.
Sedangkan Rania sudah takut setengah mati, wajah nya pucat pasi. Dia masih tak berani mengangkat kepalanya. Yang di lakukan nya hanya meremat-remat tangan kuat-kuat yang sudah berkeringat dingin.
"Jadi wanita ini yang sudah kau renggut kesuciannya?" Tanya papa Justin sembari menelisik wajah Rania yang masih menunduk.
"Hem ..." Aldi hanya berdehem sebagai jawaban. Dia tidak ingin mengulang-ulang perkataan yang sudah dia lontarkan.
__ADS_1
"Oh my god!" Pekik mama Kania setelah melihat anggukan kepala Aldi, sembari memijat pelipisnya yang terasa begitu pusing melihat kelakuan anak-anak nya karena dua-dua nya tidak ada yang normal.
"Mama tidak habis pikir padamu, Aldi. Mama pikir kau berbeda dari Adrian yang suka celap celup lubang, ternyata sama saja!" Sungut mama Kania karena kesal.
"Mana ada aku seperti dia?!" Sahut Aldi cepat karena tak terima dengan tuduhan mamanya. "Aku tidak pernah celap celup lubang, karena lubang yang ku masuki hanya satu yaitu lubang istri ku yang paling cantik, Rania. Bukan seperti dia! Yang sukanya celap celup lubang yang sama-sama sudah bekas. Hiiii..." Aldi berlagak ngeri sembari menatap jijik adiknya yang memang dulu sering memasuki lubang wanita manapun yang bias di ajak naik ke atas ranjangnya.
"Sialan kau, bang! Ak-awwwssshh ... sakit, sayang ...," Adrian merintih sakit dan tak jadi meneruskan perkataannya karena pinggang nya lebih dulu di cubit istrinya.
"Diam kalian! Kenapa selalu bertengkar sih?! Tidak bisakah kalian serius sebentar saja?!" Pap Justin meninggikan intonasi suara nya karena merasa sudah kehilangan kesabaran dengan tingkah anak-anaknya yang sama-sama sudah tua tapi tingkah nya masih seperti bayi dugong.
"Jadi kau menikah dengannya sebagai wujud tanggung jawab karena telah merenggut kesucian gadis ini?" Tanya papa Justin menatap lekat Aldi.
"Sudah ku katakan sejak awal, pa. Aku mencintainya. Terlepas dari tanggung jawab ku karena telah merenggut keperawanan nya, aku juga mencintai nya. .Dia berbeda dari gadis-gadis lain yang sering mendekati ku dan menyodorkan tubuhnya untuk bisa ku nikmati." Jelas Aldi. Dia tak ingin Rania di cap buruk oleh orang tuanya.
Sebelumnya dia butuh waktu serta sedikit perjuangan untuk membuat Rania luluh padanya, jadi dia tidak ingin sampai kehilangan Rania, takut orang tuanya yang menolak kehadiran nya karena mereka bertemu di tempat yang buruk.
"Apa kamu yakin dia berbeda dari wanita yang lain? Mama sedikit meragukan nya kalau dia masih suci. Terlebih dia bekerja di tempat hiburan. Atau jangan-jangan dia sengaja menjebak dan hanya ingin memanfaatkan harta mu saja?" Tanya mama Kania seraya menatap sinis Rania yang sejak tadi menunduk.
"Cukup, ma! Mama keterlaluan sekali mengatakan hal itu pada istri ku! Dia wanita baik-baik. Ran-"
"Oh ya??! Mama tidak percaya di gadis baik-baik. Mana mungkin seorang gadis baik-baik bekerja di tempat hiburan malam?"
"Stop, ma!! Jangan menghina istri ku seperti itu! Jika mama tidak ingin menerima Rania sebagai menantu mama, tidak masalah! Aku akan pergi dari mansion ini kalau begitu." Putus Aldi.
__ADS_1