Hasrat Cinta Adrian (Balas Dendam Pria Patah Hati)

Hasrat Cinta Adrian (Balas Dendam Pria Patah Hati)
Menikah Sekarang


__ADS_3

"A_ku pergi dulu." Aldi tidak menanggapi semua pertanyaan Rania, dia lebih dulu pergi karena terlanjur malu.


Rania hanya bisa mengerutkan dahi pertanda tak mengerti. Namun ia juga tak terlalu memikirkan sikap aneh Aldi.


Dia kembali berjalan menuju ruangan ayah Rudi.


Saat sampai di depan ruangan ayah, ternyata dokter yang menangani ayah bersama dua orang perawat baru saja masuk ke dalam ruangan.


"Bagaimana dengan keadaan ayah saya, dok? Apakah ada perkembangan dengan kesehatan nya? Kenapa sudah dua hari belum siuman juga, dok?" Rania dengan tidak sabar.


Sedangkan Dokter itu terlihat mengulas senyum tipis.


"Pak Rudi baru saja sadarkan diri, dan sekarang para perawat sedang memindahkan ke ruang rawat biasa." Kata dokter Herman, Dokter yang menangani penyakit ayah Rudi.


"Alhamdulillah.." Seketika Rania mengucap syukur atas kesadaran ayah nya.


Begitu pula dengan kak Raka yang juga ikut mengucapkan hamdalah karena ayah Rudi akhir nya bisa tersadar kembali.


Ia tak menyangka sebentar lagi Keluarga nya akan kembali seperti semula. Ayah nya akan sehat kembali.


"Dok, boleh kah saya melihat ayah?" Tanya Rania penuh harap.


"Bisa mbak, sekarang pak Rudi sudah di pindahkan ke ruang anggrek no 1, tepat nya di lantai 1." Jelas dokter Herman.


"Baik, pak. Terima kasih." Kata Rania sebelum berlalu dari sana.


Sang dokter mengangguk kemudian ikut beranjak dari sana.


Akhirnya Rania bisa bernafas lega mendengar ayah nya sudah siuman.


Itu berarti ayah nya benar-benar sudah sembuh.


Lalu pikiran Rania teringat ucapan Aldi yang menginginkan pernikahan secepat nya setelah ayah nya siuman.


Walau bagaimana pun Rania harus mantap untuk menjadi seorang istri. Dia tidak boleh ragu atau pun bimbang.


Sudah sepantas nya seorang wanita menikah, jadi siap tidak siap Rania harus siap untuk menikah.


"Rania." Suara bariton itu berhasil mengalihkan pemikiran Rania yang sedang melanglang buana.

__ADS_1


"Aldi?" Tanya Rania saat melihat Aldi sudah ada di depan nya menggunakan baju yang terlihat masih baru. Rambut nya pun masih basah, seperti nya Aldi baru saja selesai mandi.


"Aku mendapat kabar kalau ayah sudah siuman, apa itu benar?" Tanya Aldi sembari mengatur nafas nya. Karena saat masuk gedung rumah sakit Aldi berlari agar segera sampai ke ruangan.


Ia ingin melihat keadaan ayah Rania, jika memang ayah Rania sudah siuman maka tidak akan lama lagi dia menikah.


Maka dari itu Aldi sangat bersemangat untuk memastikan keadaan ayah Aldi.


"Iya, benar. Ayah baru saja di pindahkan ke ruang perawatan. Sekarang kita mau kesana." Kata Rania sembari mendorong kursi roda kak Raka.


"Biar aku saja." Aldi segera mengambil alih pegangan kursi roda kak Raka untuk mendorong nya.


Rania menurut saja, mempersilahkan Aldi yang mendorong kak Raka.


"Syukur lah, aku ikut bahagia mendengar nya." Kata Aldi tersenyum bahagia.


"Mana mungkin aku tidak bahagia? karena setelah ini aku bisa menikahi kamu, Rania." Batin Aldi tersenyum-senyum sendiri sembari mendorong kursi roda kak Raka.


Mereka memasuki lift untuk ke lantai satu. Setelah sampai di lantai yang di tuju, tanpa banyak membuang waktu ketiga orang itu berjalan cepat menuju ruangan.


Cklek


"Rania, Raka, Aldi. Ayah rindu kalian." Kata ayah Rudi lemah sembari menampilkan senyum bahagia nya.


Keadaan ayah Rudi memang belum sembuh total, apalagi mengingat operasi yang di lakukan ayah Rudi tergolong operasi besar.


Selang oksigen yang ada di hidung nya pun belum bisa di lepas, Ayah Rudi masih harus menjalani treatment yang di sarankan dokter seperti membantu ayah Rudi untuk batuk setiap satu jam sekali.


Meski awal nya terasa nyeri, tapi harus tetap di latih supaya tidak terjadi penumpukan dahak di paru-paru yang nanti nya akan menyebabkan penyakit pneumonia.


Setelah ayah Rudi bisa batuk, maka dokter baru berani melepas selang oksigen.


"Ayah, Rania sangat bahagia ayah kembali sadar." Kata Rania sembari mendekap tubuh ayah nya.


"Ayah juga bahagia nak, masih di beri kesempatan hidup. Akhirnya ayah bisa menyaksikan putri cantik ayah menikah." Kata ayah Rudi sembari mengelus surai rambut anak nya.


Rania hanya mengangguk tak menanggapi perkataan sang ayah, ia masih nyaman memeluk ayah nya yang selama dua hari ini tak sadarkan diri akibat anestesi.


"Raka." Kini perhatian ayah Rudi berganti ke anak sulung nya.

__ADS_1


"Ya ayah." Raka mencoba meraih tangan ayah nya namun tak bisa, Aldi sedikit mendorong kursi roda lebih maju agar memudahkan calon kakak ipar nya meraih tangan ayah nya.


Rania bergeser mundur memberi kesempatan kakak nya untuk mendekati ayah nya.


"Bagaimana keadaan ayah? Apa masih sakit?" Tanya kak Raka sembari mengelus tangan ayah nya yang berhasil ia raih.


"Alhamdulillah sudah lebih baik, nak." Kata ayah Rudi tersenyum.


"Syukur lah, Raka ikut bahagia mendengar nya ayah." Kata Raka.


"Aldi, terima kasih telah membantu keluarga kami." Ayah Rudi berganti menatap wajah Aldi dengan senyum tulus nya, yang saat ini ada di belakang kak Raka.


"Tidak perlu berterima kasih, Ayah. Sudah menjadi kewajiban Aldi untuk membantu kalian. Anggap saja Aldi latihan menafkahi Rania." Kata Aldi menatap teduh ayah Rudi.


"Tidak, nak. Ayah benar-benar berterima kasih pada mu. Karena bantuan mu, ayah bisa sehat seperti kembali." Kata Ayah Rudi lagi.


"Lalu, bagaimana rencana pernikahan kalian?" Tanya sang ayah lagi. Ia menatap bergantian calon menantu dan anak nya.


"Kalau ayah mengizinkan, Aldi ingin menikahi Rania saat ayah di izin kan pulang oleh Dokter." Aldi menatap calon mertua nya dengan tatapan dalam.


Ia sangat berharap ayah Rudi mengiyakan permintaan nya.


Sedangkan ayah Rudi masih diam sejenak, belum menanggapi permintaan Aldi. Terlihat seperti sedang berpikir.


"Tapi kalau memang ayah Rudi belum mengizinkan, Aldi akan siap menunggu. Aldi akan menunggu sampai ayah Rudi merestui kami." Kata Aldi, namun hati nya merasa sedikit kecewa karena belum mendapatkan izin untuk segera menikahi Rania.


"Apa benar kamu ingin menikahi Rania setelah ayah kembali dari rumah sakit?" Tanya ayah Rudi memastikan.


Ia menatap lekat wajah Aldi yang sedikit murung, tidak seantusias tadi.


"Jika ayah mengizinkan, tapi kalau memang ayah tidak mengizinkan maka Aldi akan menunggu." Kata Aldi lagi mantap, seraya menampilkan senyum yang sedikit di paksakan.


"Benarkah?" Tanya ayah Rudi lagi.


"Benarkah kau ingin menunggu sampai ayah pulang? Tapi yang ayah lihat, kamu sudah sangat ingin menikahi Rania."


"Maksud ayah?" Tanya Aldi, tidak mengerti maksud ayah.


"Apa kau tidak ingin menikahi Rania sekarang saja?".

__ADS_1


"APA??!"


__ADS_2