Hasrat Cinta Adrian (Balas Dendam Pria Patah Hati)

Hasrat Cinta Adrian (Balas Dendam Pria Patah Hati)
Dasar Bocah Tengil


__ADS_3

"Bukan seperti itu, ayah. Rania pasti akan mengabulkan keinginan ayah selama Rania bisa. Tapi jangan menikah dengan laki-laki seperti dia." Tutur Rania seraya seraya mengacungkan jari nya ke depan Aldi.


"Tidak, nak. Dia itu laki-laki baik. Ayah percaya dia laki-laki yang bisa menjaga mu. Setidaknya ayah akan pergi dengan tenang jika sudah ada yang menjaga mu." Kata Ayah Rania.


Nafas nya mulai tidak beraturan saat merasakan seluruh tubuhnya nyeri dan dada nya sesak.


"Ayah kenapa harus bicara melantur seperti itu? Rania yakin ayah bisa sembuh, jadi jangan pernah berpikir untuk mencari seseorang menggantikan ayah untuk melindungi Rania." Kata Rania frustasi. Ia sangat tidak suka ayah nya mengatakan hal yang tidak-tidak apalagi menyangkut umur.


"Benar apa yang di katakan Rania, ayah. Seharusnya ayah jangan berbicara seperti itu. Ayah pasti bisa sembuh. Jangan khawatir, untuk biaya pengobatan ayah semuanya biar Aldi yang tanggung. Ayah akan menjalani operasi jantung. Aldi akan segera konsultasi pada dokter." Kata Aldi sungguh-sungguh.


"Ayah sudah le_lah nak, dada ayah sesak." Kata ayah Rudi putus-putus saat kembali merasakan dada nya sesak, sekujur tubuh nya terasa nyeri, perut nya merasa mual tapi tak memuntahkan apapun.


"Ya ampun, ayah! Kenapa ayah seperti ini lagi? Pasti karena banyak bicara. Sebentar, Rania panggil kan dokter." Rania sangat panik dan langsung memencet tombol yang ada di atas brangkar untuk memanggil dokter.


Tidak menunggu waktu lama, dokter yang menangani ayah Rani datang ke ruangan.


"Sebaiknya mas dan mbak tunggu di luar dulu." Rania dan Aldi mengangguk mengerti, lalu keluar dari ruangan.


Penyakit yang di derita ayah Rudi memang penyakit paling membunuh nomer satu di negara ini.


Banyak sekali di antara mereka yang berumur paruh baya mengalami jantung koroner. Seperti yang ayah Rania rasakan kali ini.


Sebenarnya ada cara alternatif untuk menyembuhkan jantung koroner tanpa operasi. Tapi jika hanya mengandalkan obat-obatan tidak akan sembuh total.


Mungkin ada, tetapi itu pun membutuhkan waktu lama dan menguras biaya karena harus rutin minum obat.


Seperti ayah Rania ini, dia sudah berulang kali bolak balik berobat mencari jalur alternatif untuk kesembuhan jantung nya, nyata nya itu tidak menyembuhkan total. Hanya bisa mencegah atau mereda saat sakit nya kambuh.


Dokter sudah sering menyarankan untuk bypass jantung atau pasang ring. Tapi jumlah uang yang di keluarkan tidak sedikit.


Sedangkan Rania hanya mampu membelikan obat-obatan untuk ayah nya.


Dokter sudah menjelaskan detail biaya yang harus di keluarkan untuk biaya bypass jantung atau pun pasang ring.


Jika bypass jantung memerlukan biaya hingga 130 juta, belum lagi ditambah dengan biaya perawatan nya selama berhari-hari. Jika di kurs kan maka mencapai 200 juta.


Karena itu lah Rania meminta uang 200 juta pada malam itu.

__ADS_1


Sedangkan untuk pasang ring sendiri membutuhkan biaya yang lebih murah di bandingkan bypass jantung. Tetapi yang paling baik adalah bypass jantung karena bisa sembuh total.


"Sebaiknya ayah kamu segera di operasi supaya bisa sembuh." Aldi membuka suara saat keduanya sama-sama berdiam diri depan ruangan.


"Itu bukan urusan mu. Jadi kamu tidak perlu mencampuri urusan kami." Sarkas Rania. Ia masih sangat muak mengingat Aldi yang berbohong dengan hebat.


"Jangan keras kepala, Rania. Ini demi keselamatan ayah mu." Tekan Aldi sedikit jengkel. Karena gadis itu terus saja menolak nya.


"Ayah ku akan segera di operasi, tapi tidak dengan bantuan mu."


"Lalu kau ingin mencari uang kemana?" Tanya Aldi penuh selidik. Aldi takut, Rania akan bekerja lagi di club malam tempat mereka bertemu.


"Itu bukan urusan mu!" Kata Rania ketus tanpa menoleh ke arah Aldi.


"Jangan bilang kau ingin bekerja di club itu lagi?" Tanya Aldi sembari memicingkan mata.


"Sudah ku bilang itu bukan urusan mu! Kenapa kau terus mencampuri urusan ku dan keluarga ku?!" Sentak Rania. Ia merasa sangat geram dengan Aldi yang terus-terusan mencampuri urusan nya.


"Karena aku berhak ikut campur! Semua yang menjadi permasalahan mu, maka aku berhak mengetahui. Karena kau adalah calon istri ku!" Tekan Aldi penuh ketegasan.


Bola mata nya menatap tajam Rania saat ini ada di depan nya.


Sorot mata nya menatap tajam gadis di depan nya yang saat ini sedang menundukkan kepala. Takut menatap manik mata tajam laki-laki di depan nya.


"Dan ingat satu hal lagi, jangan salahkan aku jika ayah mu tahu kalau kita sudah tidur bersama."


Deg.


Rania melupakan hal yang paling penting, bisa saja Aldi sewaktu-waktu memberitahu kejadian malam itu pada ayah nya. Dan itu sangat tidak baik bagi kesehatan nya.


"Bukan hanya itu, benih yang ku siramkan pada rahim mu sewaktu-waktu bisa saja tumbuh menjadi sesosok malaikat. Jadi pikirkan baik-baik tawaran ku, jadilah istri ku." Kata Aldi bersungguh-sungguh. Manik mata nya berubah menatap dalam wanita nya.


Rania tidak menyahuti sedikitpun perkataan Aldi. Ia masih butuh waktu untuk mencerna semua nya. Ia hanya diam menatap kosong ke sembarang arah.


"Sudahlah, aku beri waktu kamu untuk memikirkan nya sampai besok pagi. Sekarang aku pergi dulu, salam untuk ayah Rudi. Tidak perlu khawatir, setelah ini aku akan ke bagian administrasi untuk biaya operasi ayah." Aldi pamit pulang. Dia akan memberi waktu pada Rania untuk memikirkan lebih dulu.


"Aku pergi dulu, jaga dirimu baik-baik." Aldi memberanikan diri untuk mencium kening wanita nya, kemudian mendekap tubuh nya sebentar untuk mengobati rasa rindu nya.

__ADS_1


Tak ada perlawanan apapun, Rania masih mematung di tempat nya memikirkan langkah selanjutnya yang akan ia ambil. Tak tahu harus melakukan apa hingga ia tak menghiraukan perlakuan Aldi padanya.


"Oh iya, kamu pegang kartu ini. Gunakan untuk kebutuhan mu, Aku pergi." Aldi meletakkan kartu berwarna hitam ke telapak tangan Rania. Setelah itu ia benar-benar berlalu dari sana.


Rania tersentak kaget saat menyadari tangan nya menggenggam black cart.


Ia tahu kalau Aldi yang memberikan kartu limited ini. Tapi saat melihat ke depan, laki-laki itu sudah jauh dari jangkauan nya.


Sedangkan Aldi bersiap masuk lift menuju lantai satu. Saat di depan meja resepsionis ia ingat kartu KTP nya ditahan di sana.


"Permisi, mbak. Saya ingin mengambil kartu KTP saya."


"Baik, mas. Harap tunggu sebentar, ya."


Aldi hanya mengangguk kemudian duduk di salah satu bangku yang ada di sana.


Baru saja Aldi mendudukkan bokong nya, bahunya lebih dulu di sentuh oleh seseorang.


"Pak, bayaran saya mana?" OB yang tadi sudah dijanjikan diberi uang 2 juta itu menengadahkan telapak tangan.


Aldi menatap sengit sang OB karena sudah dengan berani menipunya.


"Dasar kancil! Seharusnya kau mengatakan kalau ruangan selanjutnya itu ada di sebelahnya." Aldi menatap jengkel pada OB itu.


Bukan masalah uang 2 juta yang melayang, tapi ini menyangkut harga dirinya yang sudah di bohongi oleh seorang OB.


"Kan bapak tidak bertanya, jadi saya tidak mengatakan." Jawabnya santai.


"Bapak! Bapak! Gue bukan bapak lu! Dasar bocah tengil."


"Nih, ambil!" Aldi memberikan uang sejumlah 2 juta pada OB itu dengan hati dongkol. Kalau saja bukan larangan, Aldi ingin sekali meminjam jarum suntik di rumah sakit itu untuk menyuntik ginjal OB itu.


Makasih udah dikasih sesajen kopi sama mawar. Kalo mau ditambah lagi juga nggak nolak, ntar anu nya juga nambah.🤣🤣


...💙💙💙...


...TBC...

__ADS_1


See you next chapter 👋🙂


__ADS_2