Hasrat Cinta Adrian (Balas Dendam Pria Patah Hati)

Hasrat Cinta Adrian (Balas Dendam Pria Patah Hati)
Pergi Bersama Kak Raka


__ADS_3

Dua hari berlalu, selama dua hari itu pula Aldi bolak-balik ke rumah sakit serta mengunjungi rumah Rania untuk melihat keadaan kakak Rania.


Ternyata keadaan kakak Rania lebih mengenaskan, tidak bisa melihat dan tidak bisa berjalan sejak berumur 9 tahun karena menjadi korban tabrak lari.


Kala itu, kak Raka sedang berjualan kue basah membantu perekonomian ayahnya. Dia berjalan berkeliling kompleks, menuju satu tempat ke tempat yang lain.


Rencananya ingin menyeberang jalan, dia menengok ke arah kanan dan kiri tidak ada kendaraan, kemudian memutuskan untuk menyeberang jalan.


Namun saat dipertengahan jalan, tiba-tiba ada mobil truk dari arah kanan yang melaju sangat cepat. Kak Raka tidak sempat menghindari karena mobil truk lebih dulu menabraknya.


Tubuh kak Raka terpental jauh hingga membentur bangunan kaca, lalu serpihan kaca itu mengenai bagian tubuhnya termasuk mata kak Raka.


Dan semenjak itu, Kak Raka kehilangan penglihatan serta kelumpuhan.


Ayah Rudi hanya bisa menangis meratapi nasib putra satu-satunya. Niat hati ingin membantu ayahnya yang miskin, tetapi nasib buruk menimpanya.


Sungguh Tuhan begitu baik menguji hamba-Nya sampai se tragis ini.


Tepat di detik ini, Aldi sudah sampai di kediaman Rania. Rumah yang sama seperti saat dia menginjakkan kaki pertama kali mencari Rania, hanya saja beberapa bagian rumah itu sudah di renovasi oleh orang-orang suruhan Aldi.


Kaca jendela itu tak lagi bolong, atap rumahnya tak lagi bocor. Sudah ada sofa serta meja makan di rumahnya. Karena sebelumnya rumah Rania tidak ada perabot apapun selain alat memasak dan kulkas.


Bahkan alat pendingin ruangan pun masih menggunakan kipas angin, tapi sekarang sudah di ganti Aldi menggunakan AC.


Ada mesin cuci untuk membantu pekerjaan Rania, sebelumnya mereka mencuci pakaian secara manual, lebih tepatnya Rania yang mencuci baju milik ayah serta kakak nya.


Tentang renovasi rumah serta beberapa perabotan yang dibawa Aldi, belum diketahui Rania.


Selama dua hari ini Rania belum pulang ke rumah karena masih setia menunggu ayahnya yang belum sadar.


Aldi memang sudah menawarkan diri untuk membantu mengurus kakak nya, serta melarang Rania untuk pulang, cukup menemani ayahnya yang belum sadar.


Ranua hanya mengangguk menuruti kemauan Aldi, ia sudah percaya dengan laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu tak mungkin menyakiti kakak nya.


Sedangkan Aldi sengaja membawa beberapa orang yang sudah dibayar nya untuk mengurusi semua keperluan kak Raka serta membantu nya selama 24 jam.


"Selamat pagi, kak Raka." Sapa Aldi yang baru saja datang.


"Pagi, Aldi. Bagaimana perkembangan kesehatan ayah? Apa ayah sudah siuman?" Tanya kak Raka antusias saat mendengar suara Aldi menyapanya.


Kak Raka memang sudah tahu Aldi dan statusnya yang sebentar lagi akan menjadi adik iparnya. Bahkan kak Raka sudah paham dengan suara khas Aldi.

__ADS_1


Aldi sudah menjelaskan kalau dia yang akan menjadi suami adiknya.


Kak Raka sangat bahagia mendengar adiknya akan menikah, terlebih dia menikah dengan pemuda sebaik Aldi.


Mau merawat dan mengunjunginya, dan yang lebih utama, Aldi tidak malu meski kak Raka laki-laki cacat.


Kak Raka bersyukur akhirnya ada orang baik yang hadir diantara keluarganya.


"Apa kak Raka sangat merindukan ayah Rudi?" Tanya Aldi menelisik wajah calon kakak iparnya yang saat ini sedang duduk di kursi roda di ruang depan.


"Aku sangat merindukan ayah. Bukan hanya merindukan, tapi aku sangat ingin melihat keadaannya. Meski aku pria buta, tapi aku bisa merasakan keadaan ayah jika ada didekatnya lalu meraba tubuhnya.


Andai aku bukan pria buta yang hanya merepotkan orang lain, aku ingin sekali ke sana untuk melihat keadaan ayah. Aku merindukannya." Terlihat guratan kesedihan dari sorot matanya. Bahkan mata itu sudah sedikit berair saat mengatakan nya.


Aldi bisa merasakan bagaimana kecewa nya kak Raka pada diri sendiri karena menjadi pria buta serta lumpuh. Bahkan tak ada orang yang mengatakan nya pun, kak Raka sudah sadar diri.


Hal itu membuat dada Aldi terasa berdenyut, andai Aldi yang ada diposisi kak Raka mungkin dia sudah tidak sanggup menjalani hidup.


Sungguh malang nasib kak Raka, menjadi laki-laki tak berguna karena kecacatan nya. Tentu pikiran itu sangat mengganggu psikis nya.


"Kalau begitu, mari kita ke rumah sakit untuk melihat keadaan ayah." Tawar Aldi seraya menampilkan senyum seakan orang didepannya ini dapat melihat senyum tulusnya.


"Tidak perlu, aku tidak ingin semakin menyusahkan orang. Di sana aku semakin menyusahkan kalian karena harus menyusuri rumah sakit dengan mendorong tubuhku." Tolak kak Raka.


Kak Raka tidak ingin semakin menyusahkan orang lain kalau dia pergi keluar rumah.


Selama ini kak Raka memang hanya berdiam di rumah. Padahal meski dia buta tapi kadang ingin sekali melihat dunia luar meski tak bisa menikmati keindahannya.


Ingin sekali pergi ke taman bunga yang seakan dia bisa melihatnya. Tapi semua itu hanya menjadi keinginan, tak pernah sekalipun kak Raka mengungkapkan pada orang lain karena tak ingin merepotkan.


"Kakak ini bicara apa? Aldi tidak pernah merasa direpotkan. Aldi justru sangat senang jika kak Raka mau pergi dengan ku. Itu artinya kak Raka percaya padaku." Jelas Aldi sedikit membujuk kak Raka.


"Apa benar tidak merepotkan mu?" Tanyanya lagi untuk memastikan.


"Tentu tidak, kak. Aku senang kalau kak Raka pergi bersamaku dan kita semakin dekat." Jelas Raka.


"Baiklah, jika memang aku tidak merepotkan. Maka aku akan ikut ke sana." Kata kak Raka antusias.


Aldi mengangguk dan tersenyum seakan kak Raka melihatnya. "Kalau begitu kita pergi sekarang." Sahut Aldi seraya mendorong kursi roda hingga ke mobil.


Untungnya saat ini Aldi tidak sendiri, di mobil ada pak supir yang sengaja menemani Aldi pergi.

__ADS_1


Sejak kemarin Aldi bolak-balik kesana-kemari membuat tubuhnya lelah. Dan hari ini ia sengaja membawa supir yang ada di mansion utama untuk mengantarnya.


Setelah mendudukkan kak Raka di kursi belakang, Aldi melipat kursi roda itu lalu dimasukkan ke dalam bagasi mobil.


Setelah itu ia ikut duduk di samping kak Raka.


Aldi memperhatikan secara intens wajah kak Raka. Sebenarnya dua tergolong tampan, kulitnya putih dengan mata sipit, bibir tipis serta alis tebal dan hidung mancung seperti Rania.


Kalau diperhatikan secara detail, ternyata wajah kak Raka mirip sekali dengan artis Korea. Sayangnya tubuhnya sedikit kurus serta memiliki kecacatan fisik.


Andai kak Raka tidak cacat pasti akan banyak wanita yang menyukainya.


"Kak Raka."


Aldi membuka suara setelah beberapa saat mereka saling terdiam. Padahal mobil yang mereka tumpangi hampir setengah jalan menuju rumah sakit.


"Iya." Sahutnya singkat.


"Kak, apa sakit di kaki kakak ini permanen?" Tanya Aldi hati-hati takut menyinggung perasaan calon kakak iparnya.


Ditanya seperti itu, kak Raka hanya bisa menghela nafasnya panjang.


"Sebenarnya kaki ku tidak lumpuh permanen. Tapi ..."


"Ayah tidak memiliki uang untuk mengobati ku. Jadi aku hanya bisa pasrah menjalani hari-hariku dengan tubuh cacat ku ini." Jelas kak Raka. Manik matanya terlihat nanar. Guratan kesedihan itu terpampang jelas di wajahnya.


"Dan untuk mata, sebenarnya dulu pernah ada keluarga yang mau mendonorkan matanya untukku. Tapi lagi-lagi karena masalah biaya, kami tidak bisa melakukan operasi. Meski ada pendonor yang dengan sukarela memberikannya kepada ku, tapi biaya operasi tidak sedikit. Jadi aku hanya bisa menelan kekecewaan dan harus terima dengan keadaanku yang cacat seumur hidup." Jelas kak Raka.


Hati Aldi semakin berdenyut mendengarnya.


Selama ini Aldi hidup dalam lingkup keluarga yang bergelimang harta, tak pernah melihat orang susah di hadapannya.


Dan sekarang ia baru menyadari, ternyata Aldi termasuk orang beruntung karena mendapatkan semua yang orang lain inginkan.


Kekayaan, kehormatan, kesehatan, dan yang paling utama adalah kesempurnaan fisik.


Dalam hati Aldi berjanji akan membantu kak Raka untuk bisa berjalan serta melihat kembali. Ia akan berusaha untuk mencari pendonor mata yang cocok untuk kak Raka.


...💙💙💙...


...TBC...

__ADS_1


See you next chapter 👋🙂


__ADS_2