HASRAT TERLARANG GIGOLO

HASRAT TERLARANG GIGOLO
Bab Sembilan puluh Delapan. HTG.


__ADS_3

Luna tampak menarik napas dan bersandar di bahu David. Dia berusaha menenangkan hatinya agar tidak terbawa emosi.


"Boleh aku bicara?" ucap Luna akhirnya.


"Aku bukan nggak mau menolong Mia. Mungkin semua ini menganggap akulah yang paling bersalah dalam kandasnya hubungan Mia dan David. Untuk kesekian kalinya, akan aku jelaskan lagi. Kali ini yang terakhir. Aku nggak mau kesalah pahaman ini berlarut terus," ucap Luna.


"Sayang, udah. Nggak perlu dijelaskan lagi," ucap David.


"Semua harus tau kebenarannya."


"Tidak perlu menjelaskan tentang dirimu kepada siapa pun, karena yang menyukaimu tidak butuh itu. Dan yang membencimu tidak akan percaya itu," ucap David.


"Aku nggak peduli jika semua yang di sini nggak percaya. Dengar, Mia. Ibu dan Ibu Mia. Awal aku dekat dengan David, nggak tau dia telah bertunangan. Setelah tau, aku meminta David memilih. Aku nggak pernah memaksa David untuk memilihku dan memutuskan Mia. Jadi jika hubungan Mia dan David berakhir, apakah itu masih salahku?" tanya Luna.


"Sudah, Sayang. Jaga emosi. Kamu sedang hamil," ucap David.

__ADS_1


"Sudah aku katakan semua salahku. Jangan salahkan Luna. Aku yang jatuh cinta pertama kali dengan Luna."


"Satu lagi, aku bukan nggak mau menolong Mia. Aku hanya berusaha menjaga keutuhan rumah tanggaku. Apakah aku takut Mia dan David kembali? Jawabannya, Ya. Karena semua itu mungkin aja terjadi jika sering bersama. Apa lagi melihat kenyataan jika Mia masih menyimpan semua kenangan David."


"Sudahlah, biar aku yang bicara lagi. Untuk membantu Mia kerja di perusahaan, Luna emang nggak bisa. Alasannya pertama, emang Luna merasa nggak nyaman jika selalu berdekatan Mia. Kedua karena ilmu yang Mia dapat tidak sesuai dengan perusahaan Luna."


"Udah, nggak apa. Mia bisa tetap jadi guru di desa ini. Apa ibu bisa kembali?" ucap Ibu Mia.


"Tunggu dulu, Bu. Jangan terburu-buru," ucap David.


"Aku dan Luna tetap membantu Mia, dan ibu. Kami akan memberikan modal untuk ibu dan Mia membuka usaha. Ibu bisa mengatakan berapa yang ibu butuhkan. Hanya ini yang aku dan Luna dapat lakukan sebagai ucapan terima kasih karena ibu pernah menolong ibuku."


"Ibu Mia benar. Dia menolong ibu tulus. Kenapa kalian menghargai dengan uang. Bantuan yang pernah diberikan nggak dapat di nilai dengan uang berapapun. Jika ibu nggak mendapatkan bantuan ginjal itu, mungkin ibu sudah tiada," ucap Ibu David.


"Maafkan jika ibu tersinggung. Jika emang tulus, aku harap ibu jangan pernah mengungkit bantuan itu lagi." Luna berdiri dari duduknya.

__ADS_1


"Aku pamit,nggak ada yang perlu diomongkan lagi. Jika ibu dan Mia berubah pikiran, hubungi aku. Nggak akan ada selesainya jika merasa paling benar semuanya. Aku akan memberikan berapa yang ibu butuhkan. Jika ibu memang ikhlas, jangan pernah mengungkit lagi." Luna berjalan mendekati Aisha dan menggendong anaknya itu, membawa masuk ke kamar.


Melihat Luna dan Aisha masuk ke kamar. David ikutan berdiri, ingin menyusul .


"Sombong sekali istrimu, David. Hanya karena dia kaya, dianggap semuanya bisa digantikan. dengan uang."


David yang baru berjalan beberapa langkah, langsung berhenti mendengar ucapan Ibu Mia.


"Ibu, Luna itu nggak sombong. Dia hanya nggak ingin ibu mengungkit lagi bantuan yang telah diberikan. Maksudnya juga baik, agar nggak ada lagi yang mengganjal di hati."


*


*


*

__ADS_1


Bersambung


.


__ADS_2