
Doni memandangi wajah Mia dengan tatapan berharap. Doni ingin memulai kehidupan rumah tangga dengan wanita yang dari dulu dia cintai.
Sejak remaja Doni telah mencintai Mia. Namun, wanita itu tidak pernah menggubrisnya.
Bagi Mia hanya ada satu pria di dalam hidupnya, yaitu David. Dia hanya mau berteman dengan satu pria, David.
Saat orang tuanya mengatakan dia akan dinikahkan dengan Mia, Doni sangat bahagia. Akhirnya dia dapat memiliki wanita yang sangat dicintainya itu.
Awal pernikahan mereka, Doni merasa pria yang paling beruntung. Dia memperlakukan Mia bagai ratu. Namun semua berubah sejak Ibu Mia mulai mengungkit David.
Itu terjadi sejak Ibu Mia melihat perubahan dari kehidupan ibu David. Semua perabot rumah David dibeli yang baru saat David pulang ke kampung.
Saat itu David hanya pulang satu hari saja, untuk membelikan ibunya perabot rumah, dari televisi, kulkas dan mesin cuci. David ingin ibunya tidak capek lagi mencuci pakaian.
"Mia, aku mencintai kamu. Aku ingin hidup denganmu hingga akhir usia. Maafkan, jika aku pernah melakukan kesalahan. Aku janji nggak akan mengulang lagi. Aku ingin kita hidup bahagia bersama calon anak kita."
Doni melepaskan genggaman tangannya. Dia mengelus perut buncit Mia, yang sedang mengandung anak mereka.
"Jika kamu belum bisa sepenuhnya memaafkan aku, paling nggak lakukan demi anak kita. Dia membutuhkan kasih sayang yang lengkap dari kedua orang tuanya. Apa kamu nggak kasihan jika dari lahir, dia udah kehilangan kasih sayang dari ayahnya jika kita memutuskan berpisah."
"Baiklah, Mas.Aku akan biacrakan pada Ibu mengenai rencana kepindahan kita."
__ADS_1
"Seandainya ibu nggak setuju, apakah kamu juga nggak akan ikut denganku?" tanya Doni.
"Aku belum bisa menjawabnya, Mas."
"Kenapa belum bisa, Mia. Cobalah tegas mengatakan pada ibumu jika ini juga keinginan kamu, bukan hanya aku saja."
"Aku takut ...."
"Apa yang kamu takutkan?" tanya Doni.
"Aku takut, saat kita telah pindah rumah, Mas tidak juga berubah. Aku akan melahirkan, bagaimana nanti aku?"
"Mia, percayakah padaku. Aku nggak akan mengulangi kesalahanku. Jika setelah pindah kamu masih melihat sikapku tidak berubah, dan tetap seperti dulu, kamu bisa pergi dari kehidupanku. Aku nggak akan marah dan minta kembali lagi," ucap Doni. Diaenarik napas dalam dan panjang sebelum meneruskan lagi ucapannya.
"Jika kata-kata kasar membuatmu menjauh, aku harap permintaan maaf aku akan membawamu kembali lebih dekat denganku. Aku sangat menyesal telah menyakitimu. Tolong maafkan aku."
"Baiklah, Mas Doni. Aku akan mencoba memulai lembaran baru bersama Mas, dan akan pindah ke rumah yang dibeli."
Doni langsung memeluk Mia mendengar ucapan istrinya itu.
"Nanti kita temui ibu kamu berdua. Aku sangat berharap kamu bisa menjawab semua perkataan ibu jika dia melarang kamu ikut denganku."
__ADS_1
"Baiklah, Mas."
...----------------...
Di tempat lain, tampak David mulai membuka matanya. Di lihatnya Arash dan Luna sedang bicara.
Luna yang juga melihat ke arah David, tersenyum melihat suaminya telah bangun.
"Karena David telah bangun, kita makan siang sekarang aja ya," ucap Luna dengan Arash.
"Boleh, aku ikut aja," ujar Arash.
Luna mendekati David dan berkata,"Sayang, kita makan siang di restoran A bersama Arash,"ucap Luna.
Tanpa menjawab ucapan Luna, David menggendong Aisha. Mereka berjalan keluar bareng dari perusahaan.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung