HASRAT TERLARANG GIGOLO

HASRAT TERLARANG GIGOLO
Bab Lima Puluh. HTG


__ADS_3

David langsung berlari masuk ke kafe. Ia menuju ruang kerja Chandra, tampak pria itu sedang asyik dengan laptopnya.


"Katakan di mana Luna, Bang." David mengguncang tubuh Chandra membuat pria itu kaget.


"Kamu ...?"


"Di mana Luna? Aku harus bertemu dan bicara. Luna nggak boleh pergi."


"Duduklah dulu, Dav! Kita bicarapun akan lebih enak."


"Aku harus bertemu, Luna," ucap David lagi.


Chandra tersenyum miring melihat David yang kacau. Ia tau bagaimana perasaan Luna atau David saat ini. Pasti keduanya sama-sama terluka dengan keadaan ini.


"Aku nggak akan bicara jika kamu nggak duduk," ucap Chandra.


Dengan terpaksa David berjalan menuju kursi yang berada dihadapan Candra. Ia duduk dengan malasnya.


"Kemana Luna, Bang? tanya David untuk kesekian kalinya.


"Udah pergi jauh. Jadi nggak ada gunanya kamu mencarinya."


"Apa maksudnya, Bang? Luna nggak boleh pergi. Ada anakku di rahim Luna."


David berdiri dan berlutut dihadapan Chandra. Ia tampak sangat kacau. David memegang tangan Candra.


"Jangan pisahkan aku dan Luna, Bang," ucap David dengan memohon.


"Berdirilah, David. Kenapa kamu berlutut?" Candra membantu David berdiri.

__ADS_1


"Nggak ada yang memisahkan kamu dengan Luna. Semua itu udah menjadi keputusan dari dirinya sendiri. Mungkin ini yang terbaik bagi kalian berdua."


"Di rahim Luna ada anakku, Bang."


"Aku tau, Luna sudah mengatakan semuanya."


"Kenapa ia tetap pergi?" tanya David dengan suara serak. Tampaknya ia menahan tangis.


"Luna berkata, ini yang terbaik buat kamu dan dirinya."


David menundukkan kepala, ia meletakan dahinya di atas meja.


"Jika benar dialah cinta sejatimu, sejauh apapun jarak memisahkan kalian, akan selalu ada jalan terbaik dari-Nya yang ‘kan mempertemukan kalian berdua.Cinta itu selalu tahu siapa pemiliknya, sejauh apapun ia pergi bila memang sudah jodohnya pasti akan kembali," ucap Candra.


"Aku ingin Luna, Bang," ucap David. Akhirnya tangis David pecah. Ia sudah tidak bisa menahannya lagi.


Candra melihat David dengan perasaan iba. Namun, tidak ada yang bisa ia lakukan. Luna telah memohon pada Candra untuk tidak mengatakan ke mana ia pergi.


David menghapus air matanya yang tumpah,ia tampak menarik napas dalam.


"Bang, jika ada kabar dari Luna, katakan padaku. Aku pamit," ujar David.


"Tunggu dulu, David. Kamu mau kemana? Kita belum bicara. Ada yang harus aku katakan.Ini pesan dari Luna."


"Luna berpesan apa dengan Abang."


"Luna menitipkan kafe ini untukmu, seperti janjinya, ia akan menyerahkan kepengurusan kafe di tangan kamu."


"Aku nggak bisa mengurus kafe saat ini, Bang."

__ADS_1


"Kenapa? Kafe ini sudah diserahkan buatmu."


"Bagaimana aku bisa mengurus kafe. Menata hatiku saja, aku belum tentu bisa."


"Jangan cengeng, David. Ini saatnya kamu buktikan pada Luna jika kamu pantas bersanding dengannya."


"Aku belum bisa, Bang."


"Baiklah, aku beri kamu waktu seminggu untuk beristirahat.. Setelah itu kembali ke sini. Aku juga harus pergi, secepatnya. Kafe ini milikmu."


David tidak menjawab apa pun atas ucapan Candra.Di pikirannya hanya ada Luna. Setelah beberapa saat David pamit. Tidak ada lagi yang bisa ia tanyakan tentang keberadaan Luna.


Sebelum David melangkahkan kakinya meninggalkan kafe, Candra kembali mengingatkan.


"David, aku hanya ingin mengingatkan, waktumu untuk bersedih hanya satu minggu. Setelah itu kamu harus kembali. Aku akan memberikan kuasa sepenuhnya. Kamu pasti bisa."


David menghentikan langkahnya dan memandangi Candra dengan seksama.


"Jangan sia-siakan amanat yang Luna berikan," ucap Candra lagi.


"Akan aku pikirkan. Aku pamit. Terima kasih,Bang."


David kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Candra sendirian di ruang kerjanya. David akan pulang ke kampungnya selama satu minggu.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2