HASRAT TERLARANG GIGOLO

HASRAT TERLARANG GIGOLO
Bab Sembilan Puluh Satu. HTG.


__ADS_3

Luna mendorong pelan wajah David agar menjauh dari pipinya.


"Malu, ah," bisik Luna.


"Kenapa malu, kita udah nikah. Doni dan Mia juga bukan anak kecil lagi. Jika mau, bisa lakukan dengan pasangannya."


Luna memandangi David dengan mata melotot agar suaminya itu tidak bicara sembarangan lagi.


"Aku boleh bicara dengan kalian," ucap Luna.


"Silakan,Mbak," ujar Mia pelan.


"Dari pembicaraan kita, aku menyimpulkan jika kalian berdua kurang komunikasi. Kalian nggak saling jujur. Cobalah bicara berdua dari hati." Luna tersenyum dengan Mia.


"Untukmu, Mia. Maaf,aku nggak bermaksud menggurui. Apa yang kamu lakukan itu salah. Kenapa masih menyimpan barang pemberian mantan. Aku saja, mantan suami bukan tunangan. Untuk menghargai David, aku nggak ada membawa barang pemberiannya." Luna menjeda ucapannya.


"Aku berkata begini bukan karena cemburu. Coba kamu menempati dirimu sebagai Doni. Apakah kamu nggak akan sakit hati jika suamimu masih menyimpan foto kenangan saat berdua mantan kekasihnya," ucap Luna.


"Aku udah minta maaf, jika membuat Mas marah. Namun, kenapa mas membalas dengan pengkhianatan."

__ADS_1


"Karena aku pikir kamu juga mengkhianati aku selama ini. Apa lagi Ibu selalu saja membandingkan antara aku dengan David. Selalu membanggakan David ...."


"HHmmmm ...," dehem David. Doni menghentikan ucapannya.


"Aku rasa masalah antara aku dan Mia telah selesai. Kamu udah dengar pengakuan dari Mia atau aku. Kalian berdua bisa selesaikan lagi di rumah. Mengenai Ibunya Mia. Coba juga kamu dan Mia bicara."


"Mia hanya diam aja saat ibunya menghina dan membandingkan aku."


"Aku harus bagaimana, Mas."


"Maaf, Mia. Sebaiknya kamu membela Doni jika ibumu membandingkan dengan David. Aku nggak mau jika nama suamiku selalu dibawa-bawa."


"Nggak ada seorangpun yang suka jika dibandingkan dengan orang lain. Begitu juga aku. Saat ibu David membandingkan aku denganmu. Apa kamu lupa aku pernah pergi menjauh, saat itu aku juga sama seperti Doni. Aku menyerah dan pergi," ucap Luna. Dia menarik napasnya.


David menggenggam tangan Luna dan mengecupnya. Tampak dia merasa sangat bersalah karena kepergian Luna disebabkan ibunya.


"Namun berbeda saat ini, aku nggak akan menyerah walau apapun yang terjadi, karena aku berpikir cinta itu butuh perjuangan. Apa lagi aku tau, David begitu mencintaiku. Selam dua tahun dia menunggu dan memperjuangkan cinta kami. Aku juga nggak boleh lemah."


David memeluk pundak istrinya dan merapatkan tubuh mereka.

__ADS_1


"Aku harap Mas Doni juga begitu. Jika Mas emang mencintai Mia, perjuangkan. Jangan jadi pecundang,membalas Mia dengan berselingkuh. Apa Mas nggak ingat, ada anak kalian di rahim Mia." Kembali Lunaenarik napas untuk menjeda ucapannya.


"Mia, jadi ibu tunggal itu nggak gampang. Kecapean dikit, mood langsung berubah. Ada masalah kita langsung Down. Aku telah merasakan itu. Berjuanglah demi anakmu. Anak itu berhak mendapatkan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya."


Semua terdiam mendengar ucapan Luna. David mengecup rambut Luna. Sampai saat ini Luna tidak pernah mengatakan apa pun mengenai dirinya dan Aisha saat mereka belum bersama.


"Baiklah, aku nggak akan menyerah. Namun, bagaimana jika Mia yang nggak mau berjuang denganku. Mana bisa aku berjuang sendirian," ucap Doni.


"Apakah kamu mau kita memulainya dari awal. Uang tabunganku masih cukup membeli rumah, walau hanya mungil. Ikutlah denganku, walau ibu kamu nggak mengizinkan kamu pindah."


"Aku rasa, cukup obrolan kita. Aku dan Luna pamit. Bicarakan berdua masalah kalian. Kami nggak akan ikut campur. Apa pun nanti yang menjadi keputusan kamu dan Mia, semoga itu yang terbaik."


David dan Luna berdiri, pamit pergi. Memberi waktu buat Doni dan Mia bicara berdua dari hati ke hati.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2