
Luna dan David sampai di rumah ketika jam menunjukan pukul delapan malam. Seharian sudah mereka berkeliling.
Luna menidurkan Aisha di atas ranjang. Ia juga ikut berbaring di samping putrinya itu.
David masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Ia mengambil baju di lemari dan memakainya.
David mengecup dahi Aisha dan Luna. Ia membangunkan Luna dengan memukul pipi Luna pelan.
"Capek banget? Baru baring udah terlelap," ucap David.
Luna membuka matanya dan melihat David yang telah rapi. Wanita itu langsung bangun.
"Ganteng banget, mau kelana?" tanya Luna.
David mendekati istrinya itu dan memeluknya serta mengecup kedua pipi istrinya.
"Kerja dong, Sayang. Nggak mungkin kafe aku tinggalin terus. Aku juga mau titip kafe selama seminggu kita di kampung. Biar Doni yang mengelola seminggu."
"Kenapa harus ganteng pergi ke kafe?"
David nggak bisa menahan tawanya, mendengar ucapan Luna. Sejak kapan istrinya itu posesif dan cemburu.
"Aku itu emang udah ganteng. Baju apapun tetap ganteng."
"Narsis!"
__ADS_1
"Pasti mau tebar pesona dengan cewek-cewek yang ketemu di restoran tadi."
"Mereka itu emang tiap malam sabtu dan minggu pasti ke kafe."
"Aku ikut," gumam Luna, namun suaranya masih dapat di dengar David. Ia mengacak rambut Luna gemas.
"Kalau kamu ikut, gimana dengan Aisha?"
"Di bawa juga."
"Kasihan, Sayang. Aisha baru aja tidur."
"Tapi aku udah pengin lihat Kafe dan perkembangannya. Sejak kamu pegang aku belum melihatnya."
"Baiklah, kamu bawa aja Aisha. Nanti bisa ditidurkan di ruang kerja aku. Bawa aja kasur lantainya."
"Aisha nggak usah dibawa ke kafe, Sayang. Kita titip dengan bibi di apartemen aku kemarin. Bukankah itu dekat dengan kafe?" tanya Luna.
"Ide bagus. Kamu bersiaplah. Aku tunggu."
Luna masuk ke kamar mandi dan membasuh wajahnya. Setelah itu merias wajahnya. David menunggu sambil memeluk Aisha.
"Sayang, ayo. Aku udah siap," ucap Luna. David melihat penampilan Luna dengan mata melotot.
"Kamu nggak salah, Sayang. Kamu mau pergi seperti ini?" tanya David.
__ADS_1
"Emang Kenapa? Jelek ya?" tanya Luna.
"Bukan jelek, tapi kamu terlalu seksi dan cantik. Aku nggak mau mata pria melihat nakal ke arah kamu."
"Di kafe aku lihat lebih banyak cewek-cewek yang berpakaian lebih seksi. "
David turun dari tempat tidur dan memeluk Luna. Ia mengecup pipi istrinya itu. David baru menyadari jika Luna ternyata pencemburu. Namun, ia senang melihatnya. Biasanya yang posesif dan cemburu hanya dirinya.
David merasa kurang percaya diri selama ini. Luna memiliki segalanya. Wajah cantik, baik dan kaya. Pria mana yang tidak ingin merebut cintanya. Jika saat ini Luna cemburu, David merasa dirinya sangat dicintai Luna.
"Sekali ini aku biarkan kamu berpakaian seksi begini. Lain kali nggak aku izinkan."
Luna tersenyum mendengar ucapan David, ia memeluk David erat.
"Kita berangkat sekarang. Aku mau siapkan pekerjaan, hingga seminggu ke depan aku nggak bisa awasi."
David menggendong Aisha menuju mobil, dan saat Luna telah duduk, barulah ia pindahkan Aisha ke pangkuan Luna. Ia mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.
Sampai di apartemen yang Luna tempati kemarin, Aisha di tidurkan Luna. Setelah yakin Aisha telah nyenyak barulah ia dan David pamit dengan bibi, menuju ke kafe.
*
*
*
Bersambung
__ADS_1