
David sampai dikampung saat hari menunjukkan pukul enam pagi. Saat akan masuk ke rumah ia berpapasan dengan Mia yang juga akan masuk ke rumah.
Tanpa menyapa Mia, David masuk langsung menuju kamarnya. Ia menutup pintu kamar tanpa menemui ibu terlebih dahulu.
"Mia, masuklah. Ibu pikir siapa tadi. Seperti ada yang masuk tadi," ucap Ibu.
Ibu duduk di sofa diikuti Mia. Ia meletakkan rantang berisi sarapan di atas meja. Mia menuju dapur mengambil piring.
"Kamu baik banget, padahal David telah melukai hatimu. Namun, tetap aja masih perhatian sama ibu."
"Ada David di kamar, Bu," ucap Mia.
"David nggak ada. Anak itu menyusul Luna."
"David baru pulang, Bu. Langsung masuk ke kamar."
"David ...?" tanya Ibu.
"Ya, sepertinya David lagi marah."
"Mungkin Luna nggak mau menemui dia lagi."
"Apa yang ibu katakan. Kenapa Mbak Luna pergi?" tanya Mia.
__ADS_1
"Ibu hanya mengatakan jika masih meragukan anak yang ia kandung. Apakah ibu salah? Bukankah ia masih berstatus istri orang, begitukan Mia?"
"Setauku begitu, Bu."
Tanpa Ibu dan Mia tahu, David berdiri dibelakang mereka. David langsung emosi mendengar ucapan Mia dan Ibunya.
"Yang dikandung Luna itu anakku, Bu. Itu anakku. Harus berapa kali aku mengatakan. Suami Luna itu mandul. Luna sudah enam bulan tidak berhubungan badan dengan suaminya," ucap David dengan suara tinggi.
Ibu dan Mia kaget mendengar suara David, mereka membalikkan badan dan melihat David yang berdiri dengan wajah memerah menahan amarah.
"Sekarang Luna telah pergi membawa anakku, kalian bisa puas, dan mengejekku," ucap David. Tubuhnya terasa lemah. Ia terduduk di lantai.
"Kami memang salah telah melakukan hubungan terlarang. Perlu ibu tau, semua biaya kuliah dan uang yang aku kirim itu dari Luna."
"Aku sudah berusaha mencari pekerjaan, tapi anak kuliahan seperti aku sulit mencari pekerjaan yang paruh waktu. Akhirnya teman menawarkan aku pekerjaan."
David kembali menghentikan ucapannya. Ibu dan Mia hanya diam. Mereka ingin mendengar kelanjutan dari ucapan David. David menarik rambutnya frustrasi.
Keadaan David saat ini, tampak sangat kacau. Tidak seperti David biasanya, yang selalu menjaga penampilan.
"Aku ditawari jadi gigolo," ucap David pelan. Namun, suaranya itu masih dapat di dengar ini dan Mia.
"Apa maksudmu?" tanya Ibu.
__ADS_1
"Ya, aku ditawari jadi gigolo. Pelanggan pertamaku Luna. Wanita itu pertama kali juga menyewa jasa seorang gigolo. Ia melakukan itu untuk membalas sakit hati atas pengkhianatan suaminya."
"Apa yang kamu katakan, David. Jangan berbohong."
Ibu tampak syok. Ia bersandar di sofa. Tubuhnya terasa lemah mendengar kenyataan yang David katakan.
"Buat apa aku berbohong, aku mengatakan yang sejujurnya." David menarik napasnya.
"Luna melarangku melakukan pekerjaan itu lagi. Ia yang akan membiayai kuliahku. Melihat ketulusan hatinya, aku mulai jatuh cinta. Luna udah mengingatkan jika aku nggak boleh menyukainya karena ia masih dalam proses perceraian."
David kembali terdiam. Ia teringat saat kebersamaan dengan Luna. Saat bahagia bersama wanita itu.
"Aku yang jatuh cinta pertama kali. Aku yang harus disalahkan di sini. Kenapa hanya Luna yang kalian salahkan? Pasti ia kecewa hingga pergi jauh membawa anakku, cucu ibu. Itu cucu Ibu," ucap David. Air matanya sudah tidak bisa di tahan lagi.
Mia tampak syok mendengar kenyataan ini. Tidak pernah terpikirkan jika David menjalani pekerjaan haram itu.
*
*
*
Bersambung
__ADS_1