HASRAT TERLARANG GIGOLO

HASRAT TERLARANG GIGOLO
Bab Sembilan Puluh Sembilan. HTG.


__ADS_3

David menyusul Luna masuk ke kamarnya. Tampak Luna sedang menidurkan Aisha di ranjang. David naik dan memeluk Luna dari belakang.


"Maafkan, Ibuku," ucap David mengecup kepala Luna. Dia sadar, istrinya pasti kecewa dengan ucapan ibunya.


Luna tidak menjawab ucapan David, hanya terdengar isak tangisnya. David mempererat pelukannya.


"Mi, mi ... angis," tanya Aisha melihat Luna menangis.


"Pi, aat," ucap Aisha lagi. Gadis cilik itu menghapus air mata yang mengalir di pipi maminya itu.


"Maafkan,Papi nggak akan jahat lagi dengan mami," ucap David.


"Kita jalan ya. Ke taman bunga. Sambil beli ole-ole. Lusa kita udah harus kembali. Sepuluh hari sudah aku tinggalin kafe," ujar David.


David mengusap perut Luna. Dia meletakkan tangan Aisha di atas perut Luna.


"Di dalam perut mami, ada adik Aisha. Sebentar lagi Aisha udah jadi Kakak."


"Tatak ...," ucap Aisha.


"Iya, Sayang. Aisha akan jadi Kakak. Jangan cengeng lagi. Sekarang Aisha bobok ya."

__ADS_1


"Iya, Pi."


Di luar, masih ada Mia dan ibunya. Imelda berpindah duduk di dekat ibunya dan Ibu Mia.


"Sekarang aku boleh bicara. Sebagai anak tertua. Aku juga ingin berpendapat," ucap Imelda.


"Maaf Ibu, dan Mia. Aku bukan membela Luna karena dia kaya, seperti yang aku dengar dari mulut tetangga. Aku tau saat ini David sedang kais bahan gunjingan tetangga. Mereka membicarakan David dan Mia." Imelda menghentikan ucapannya.


"Mungkin tetangga simpati melihat nasib rumah tangga Mia yang berbanding terbalik dengan David. Dia tampak bahagia dan makin sukses." Kembali Imelda menjeda ucapannya.


"Para tetangga pada berasumsi, coba David yang menikah dengan Mia, pasti hidup Mia saat ini akan bahagia seperti David dan Luna. Mungkin ibu dan Mia juga berpikir begitu." Imelda tersenyum setelah mengatakan itu.


"Namun semua lupa ... maut, jodoh dan rezeki itu telah diatur Tuhan. Jika Mia menikah dengan David belum tentu bahagia. Jadi aku harap Ibu dan Mia, ikhlas melepaskan semua. Ini sudah takdir. Sudah di atur."


"Jika kamu ikhlas, nggak mungkin masih menyimpan foto David. Bukan Kakak membela Doni, tapi apa yang Doni lakukan padamu pasti karena rasa kecewa dan cemburu."


"Apa kamu juga menuduh Mia masih mengharapkan David?" ucap Ibu Mia.


"Kamu jangan memojokan Mia begitu, Mel. Doni aja yang kurang ajar. Nggak menghargai pernikahan. Jika dia marah dan cemburu melihat Mia masih menyimpan foto David, bisa bicara baik-baik. Bukan malah selingkuh," ucap Ibu David.


"Aku tidak membenarkan apa yang Doni lakukan, aku cuma mengingatkan Mia, jika ia juga bersalah."

__ADS_1


"Kenapa Mia yang salah. Dia hanya menyimpan barang pemberian David, bukan berhubungan dengannya lagi. Ibu heran, sekarang kenapa kamu menyalahkan Mia dan membela Luna. Apa kamu lupa jika Mia di sini korban? Nggak mudah melupakan hubungan yang telah terjalin lama. Seharusnya juga Doni bersabar, bukan malah selingkuh," ucap Ibu Mia.


"Sudah, kita stop pembahasan ini, karena nggak akan ada habisnya. Jika selalu merasa sebagai korban. Aku mau bahas mengenai balas budi yang selalu ibu dan Ibu Mia ungkit."


"Kenapa lagi?" ucap Ibu David.


"Apa yang Luna lakukan itu hanya sebagai balas budi juga. Luna ingin membalas kebaikan Ibu Mia pada ibuku dengan memberikan modal. Luna itu hanya nggak mau nanti ibu masih terus membahas ini."


"Ibu berarti dia menghargai ginjal pemberianku dengan uang karena dia pikir segala sesuatu itu bisa diganti dengan uang," ucap Ibu Mia.


"Itu karena ibuku selalu berkata, jika David dijodohkan dengan Mia sebagai balas budi. Jadi mungkin Luna memberikan uang itu agar tidak ada lagi pembahasan mengenai David dan Luna." Imelda tampak sedikit meninggikan suaranya. Kelihatan ia sedikit kesal.


"Sekarang pembahasan ini aku anggap selesai. Jika emang ibu Mia ikhlas, aku harap Ibu juga jangan pernah membahas ini di depan Luna lagi. Semua telah memiliki kehidupan masing-masing. Jalani saja takdir hidup kita. Baik dan buruknya itu adalah cobaan bagi kita. Jangan ada kata saling salah menyalahkan, apa lagi merasa sebagai korban." Imelda kembali menjeda ucapannya dan menarik napas panjang.


"Pembahasan aku anggap selesai. Jangan diungkit lagi. Berakhir di sini. Maafkan jika aku lancang," ucap Imelda. Dia mengulurkan tangannya meminta maaf pada ibu Mia.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2