HASRAT TERLARANG GIGOLO

HASRAT TERLARANG GIGOLO
Bab Seratus Dua Belas. HTG.


__ADS_3

Luna langsung menuju dapur dan melihat mertuanya sibuk dengan peralatan dapur. Luna memeluk pinggang ibu dari belakang, dan mengecup pipi mertuanya itu.


"Sibuk banget, Bu," ucap Luna.


"Jangan peluk, Ibu bau. Belum mandi," ucap Ibu.


"Nggak peduli, aku mau meluk terus," ujar Luna.


"Duduk aja sana. Ibu mau selesaikan dikit lagi masakannya."


Luna melepaskan pelukan dan mendekati meja makan. Tampak berbagai menu makanan memenuhi meja.


"Banyak banget Ibu masak," ucap Luna melihat menu yang banyak memenuhi meja makan.


"Kemarin ibu tanya, suka menu apa, kamu jawab itu."


"Aku cuma menyebut menu-menu yang aku suka. Bukan meminta masakan semua."


"Kamu itu lagi hamil. Pasti yang kamu katakan itu menu yang kamu inginkan. Jadi ibu masak aja semua , dari pada nanti anakmu dan David ileran."


"Ibu ...," ucap Luna memeluk Ibu. Air mata keluar membasahi pipinya. Selama ini, hanya kasih seperti ini yang Luna butuhkan.


"Kenapa nangis. Cengeng kali, malu dengan umur," ujar Ibu mengejek Luna.


Di meja terdapat menu, sayur asam, ikan bakar, perkedel kentang, tahu tempe goreng, sambal terasi. Semua yang Luna sebut saat Ibu menelepon kemarin.


Masih ada menu rendang daging dan kerupuk emping, sesuai yang David minta.


"Apa lagi yang Ibu masak. Meja udah penuh dengan segala macam menu."


"Ini sop ayam untuk Aisha," ucap Ibu.


"Mandilah dulu. Setelah itu makan. Kalau lama keburu dingin."

__ADS_1


"Ya, Bu.".Luna berjalan menuju kamarnya yang baru. Perabot udah tersusun rapi di kamar.


Luna masuk ke kamar mandi, ketika sedang asyik menyabuni tubuhnya, Luna merasakan pelukan dari belakang. Luna membalikkan tubuhnya.


"Kebiasaan, kalau mandi jarang mengunci pintu. Seandainya yang masuk orang lain gimana?" tanya David.


"Aku lupa terus," jawab Luna.


David membungkuk dan menciumi perut buncit istrinya. Setiap saat dia selalu saja mengecup perut buncit istrinya itu.


"Aku lapar, nggak mau ya kalau diajak main kudaan," ucap Luna melihat David masih terus mengecup perutnya.


David berdiri dan tertawa mendengar ucapan Luna. Dia mengacak rambut istrinya. David hanya membantu Luna mandi. Setelah mandi, David mengeringkan rambut Luna.


"Mandilah, aku bisa keringkan sendiri. Makan kita lagi. Melihat lauk yang ibu masak, aku nggak sabaran ingin makan."


"Tunggu bentar, aku mandi kilat aja," ucap David. Sekitar 15 menit, David udah rapi berpakaian. Aisha di mandikan Imelda. Bibi ingin mandikan tapi dilarang Kak imelda. Kakaknya David itu sangat menyayangi Aisha.


"Cantiknya papi, udah wangi aja," ucap David mendekati Aisha dan mencium pipi anaknya itu.


"Ain, Pi. Neka ...."


"Main boneka, ya. Apa Aisha nggak lapar. Makan dulu ya, Sayang. Mainnya nanti."


"Ain ...," ucap Aisha.


"Mau main aja. Nanti sakit perut anak cantik Papi. Makan sambil main ya. Papi suapin."


"Biar saya aja yang suapin, Pak. Sambil Aisha main," ucap Bibi.


"Bibi juga belum makan, nanti lapar," ucap Luna.


"Kak Imelda aja yang suapin, semua makanlah. Ibu udah menunggu."

__ADS_1


Luna mengajak bibi dan dua supirnya ikutan makan. Namun, mereka memilih makan di depan warung Kak Imelda. Di bawah pohon yang rindang.


Luna tampak makan dengan lahap, ibu melihat dengan tersenyum.


"Besok mau ibu masakin lauk apa?"


"Apa ya? Terserah Ibu aja. Pasti enak aja semua yang ibu masak," ucap Luna.


"Sayang, coba rendang ini. Enak banget." David menyuapkan nasi dan rendang ke mulut Luna.


"Kamu pengin apa lagi? Biar ibu enak masaknya. Nggak mikir menu lagi."


"Aku pengin gado-gado,Bu," jawab Luna pelan.


"Kenapa ngomongnya ragu gitu. Takut ibu nggak bisa masakin ya," ucap David. Luna hanya tersenyum menanggapi ucapan David yang emang benar adanya.


"Jangan takut, Sayang. Adapun kamu minta, ibu pasti bisa buatkan. Ibu'kan emang jualan nasi dan lauk pauk dulunya," ucap David.


"Besok ibu buatkan gado-gado. Yang lainnya apa?"


"Itu aja, Bu. Yang lain terserah ibu aja."


"Baiklah. Makan yang banyak. Ingat anak dalam perutmu ada dua," ujar Ibu.


Luna hanya mengangguk menanggapi ucapan Ibu David. Dia berusaha menahan tangis. Luna bahagia karena ibu mertuanya saat ini sangat menyayangi dirinya.


*


*


*


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2