
David menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Mia. Kebetulan saat itu Doni keluar rumah dengan ember ditangan. Ternyata Doni ingin menjemur baju anaknya.
"Selamat Siang, Mas Doni," ucap Luna.
"Selamat Siang mbak Luna, David," ucap Doni melihat David yang membawa kado untuk anaknya.
"Mianya ada di sini'kan?" tanya Luna.
"Iya,Mbak. Silakan masuk. Maaf, aku selesaikan dulu menjemur pakaian anakku."
"Iya, Mas. Nggak apa, kami masuk dulu ya."
"Silakan Mbak, Mia ada sedang tidurkan si kecil."
Luna dan David masuk setelah memberikan salam. Mia tersenyum melihat keduanya.
"Silakan duduk,Mbak. Maaf duduknya di lantai aja. Nggak ada sofa," ucap Mia.
Rumah yang ditempati Mia hanya sederhana. Sofa hanya ada satu di sudut ruangan.
David memberikan semua kado yang dibeli Luna. Doni yang masuk langsung bergabung, duduk bersama.
"Banyak banget kadonya," ucap Doni.
"Buat si kecil. Siapa namanya?" tanya Luna sambil memegang tangan anak Mia yang ada dalam gendongannya.
"Azka ...."
__ADS_1
"Ini ada kue, buat cemilan." Luna menyodorkan kue yang ia beli.
"Terima kasih, Mbak. Merepotkan aja. Udah bawa kado banyak banget, bawa kue lagi."
"Nggak merepotkan kok, Mas."
"Maaf, Mbak, David. Aku tinggal sebentar," pamit Doni. Tampaknya ia menuju dapur, membuat teh hangat untuk David dan Luna.
Saat Luna, Mia dan David sedang asyik mengobrol, terdengar suara sapaan dari luar.
Doni yang membawa nampan berisi di gelas teh hangat, menyajikan dulu kehadapan Luna dan David.
"Silakan minum. Aku mau lihat siapa yang datang dulu."
Doni berjalan menuju pintu rumahnya. Tampak Ibu Mia datang dengan membawa rantang berisi makanan.
"Siapa yang datang? Mobilnya bagus banget," ucap Ibu sambil berjalan masuk.
"David dan Mbak Luna," jawab Doni.
Langkah Ibu terhenti. Dia melihat Luna dan David yang duduk berdampingan. Dipangkuan Luna ada bayi Mia.
"Mobil baru lagi keliatannya," gumam ibu Mia, namun masih dapat di dengar Doni.
Doni hanya diam tanpa menjawab. Dia tidak ingin mencari masalah dengan mertuanya itu. Sejak dia dan Mia memutuskan pindah, rumah tangga mereka udah mulai membaik.
Tiga bulan sejak tinggal di rumah ini, Mia dan Doni berusaha memperbaiki hubungan mereka. Walau terkadang ibu mertuanya masih menyindir jika sedang berkunjung.
Doni sebenarnya bisa saja meminta pada orang tuanya untuk membelikan perabot rumah tangga. Kedua orang tuanya juga pernah menawari. Namun, Doni nggak mau karena dia ingin semua perabot dari uang hasil kerjanya sendiri.
__ADS_1
"Pasti nanti kamu diomongkan setelah melihat rumah hanya kayak gini," lirih ibu Mia.
Doni hanya bisa menarik napas mendengar ucapan Ibu Mia. Jika tidak mengingat Mia, sudah pasti dijawabnya kata-kata Ibu Mia.
"Eh, ada tamu jauh rupanya," ucap Ibu Mia.
"Selamat siang, Bu," ucap Mia dan menyalami ibu Mia. David juga menyalaminya.
Ibu Mia melihat kado yang di bawa Luna dan David. Dia tersenyum miring.
Apa kamu sengaja membelikan anakku kado yang banyak untuk membuktikan kalau kamu kaya dan mampu, Luna.
"Banyak banget kadonya. Seharusnya nggak usah repot. Rencana neneknya mau membelikan ayunan juga."
"Nggak apa, Bu. Ini rezeki Azka. Neneknya bisa beli yang lain'kan?" ucap Luna masih dengan sopan.
David yang tampak mulai tidak suka dengan ucapan Ibu Mia. Namun genggaman tangan Luna mengisyaratkan jika dia meminta David jangan terpancing emosi.
*
*
*
Bersambung
Mampir juga ke novel teman mama dibawah ini.
__ADS_1