HASRAT TERLARANG GIGOLO

HASRAT TERLARANG GIGOLO
Bab Tiga puluh Delapan.HTG


__ADS_3

David naik ke ranjang dan ikut berbaring bersama Luna. Di peluknya tubuh wanita itu.


"Kita ke rumah sakit sekarang. Aku mandi dulu,ya?" ucap David pelan.


"Nggak usah. Aku sering begini. Istirahat aja. Nanti pulih lagi."


"Jangan remehkan sakit itu, Luna. Siang kita harus periksa."


"Lihat dulu, David. Kalau hingga besok aku masih lemas begini, baru kita ke rumah sakit untuk periksa."


"Janji ...!"


"Iya," jawab Luna.


"Kamu pergilah kuliah. Atau ke tempat kost Mia, bicarakan semua dengan Mia. Aku nggak mau saat Mia tau kamu memutuskan hubungan karena aku, ia menjadi benci dan dendam."


"Aku mengerti bagaimana perasaan Mia saat ini. Aku juga korban pengkhianatan. Seharusnya aku nggak melakukan ini. Kita seharusnya nggak menjalin hubungan terlarang ini."


"Aku besok akan pulang ke kampung. Aku akan bicarakan ini semua pada orang tuaku dan orang tau Mia. Akan aku akhiri hubungan kami."


"Apakah nanti orang tuamu akan merestui hubungan kita."


"Aku akan berusaha meyakinkan ibu. Aku hanya butuh dukungan darimu."

__ADS_1


"Aku takut. Akankah kita dapat bersatu, sementara perbedaan antara kita sangat banyak."


"Nggak ada yang mustahil jika Tuhan menghendaki."


"Berbaringlah, aku masak buat makan siang. Minum obat dulu."


David memberikan obat demam buat Luna. Setelah itu, ia menuju dapur untuk memasak makan siang.


Di dapur, David menghubungi Mia. Ia ingin mengajak Mia pulang ke kampung mereka. David menekan nomor ponsel gadis itu. Tidak berapa lama terdengar jawaban.


"Ada apa, Dav."


"Lusa kita pulang ke kampung."


"Aku ingin kita selesaikan hubungan ini. dihadapan kedua orang tua kita."


"Apa nggak ada kesempatan buatku lagi,Dav? Apakah nggak ada sisa cintamu untukku. Seberapa hebatnya wanita itu hingga mampu membuat kamu berpaling dariku secepat ini."


"Mia, ini persoalan hati.*Tidak peduli sebentar atau lama.Walau baru kenal jika sudah nyaman, bisa saja. Maaf, Mia. Kita bicara langsung saja dan ada kedua orang tua kita. Aku ingin mengakhiri semuanya secara baik-baik saja. Agar kita nggak saling sakit hati."


"Pasti akan ada hati yang sakit dan terluka dalam setiap perpisahan, David."


"Sekali lagi, maafkan aku Mia. Lusa aku jemput kamu. Kita gunakan bis nanti pulangnya. Udah ya, aku mau masak*."

__ADS_1


David memutuskan sambungan ponselnya tanpa menunggu jawaban dari Mia.


Di kostnya Mia menangis tersedu setelah David memutuskan sambungan ponselnya.


Ini nggak adil bagiku. Kami telah lama menjalin hubungan, mengapa wanita itu yang akan menjadi pendampingnya David, seharusnya aku. Yang paling mengenal David adalah aku.


Mia menyusun pakaiannya. Ia memutuskan hari ini langsung pulang ke kampung. Mia ingin mengatakan semua pada ibu David jika putranya akan memutuskan hubungan mereka.


Satu jam kemudian, Mia telah berada di terminal menuju kampung halamannya. Sebenarnya Mia takut pulang sendiri. Ia takut berada di bis jika tidak ada yang dikenalnya.


Di apartemen, David yang telah selesai memasak menyiapkan hidangan untuk makan siang mereka di meja.


Setelah menata makanan di meja, David masuk ke kamar. Dilihatnya Luna yang masih terlelap. Efek dari minum obat tadi.


David naik ke ranjang dan memegang dahi Luna. Ia sedikit lega karena suhu tubuh Luna sudah tidak panas lagi. David mengecup dahi wanitanya itu.


Akan aku katakan pada ibu tentang hubungan kita. Semoga semua keluarga merestuinya. Jika mereka mengenalmu, pasti akan setuju. Kamu wanita yang baik. Nggak ada alasan untuk nggak menyukaimu.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2