
Candra melihat perubahan wajah David saat ia mengatakan mencintai Luna. Candra mengajak David duduk di sudut yang agak jauh dari keramaian suasana kafe.
"Kenapa kamu kaget? Apa aku nggak pantas mencintai Luna?"
"Bukan nggak pantas, Bang. Cuma heran aja. Kenapa Abang nggak terus terang aja dengan Luna?"
"Apa kamu siap bersaing denganku?"
"Apa ...?" ucap David kaget.
"Jangan pura-pura kaget. Aku nggak akan jadi sainganmu. Namun aku orang pertama dan terdepan yang akan menuntut kamu jika menyakiti Luna."
"Aku udah pernah menyatakan perasaan ini. Namun Luna menolaknya. Ia nggak mencintaiku. Luna hanya menganggap aku saudara. Luna nggak mau jika kami menikah, dan akhirnya berpisah, aku dan Luna musuhan."
"Apa Abang menyukai Luna semenjak gadis?"
"Begitulah. Saat Luna akan menikah dengan Alex, aku udah mengingatkan jika Alex bukan pria yang baik. Namun cinta membutakan segalanya. Luna tetap menikah."
Candra menarik nafas panjang sebelum melanjutkan omongannya. Tampak ia berpikir keras untuk melanjutkan obrolan.
Candra mengatakan semua ini, agar David tidak mempermainkan Luna suatu saat nanti seperti Alex.
Candra mengatakan pada David bagaimana Luna yang mulai curiga suaminya mendua hingga Alex yang berubah.
__ADS_1
Setiap malam datang ke Kafe hanya untuk berbagi cerita jika ia sangat kesepian dan sedih karena Alex jarang di rumah dan pastinya jarang menyentuh dirinya.
Candra juga mengatakan, sebenarnya Arumi sudah tahu jika Alex berselingkuh sejak setahun lalu. Namun ia masih menunggu Alex sadar dan berubah.
Luna tetap berpikir baik. Ia bahkan menyalahkan dirinya. Alex berubah karena ia yang terlalu sibuk, itu yang selalu Luna katakan.
Sejak hari itu, Luna menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab kafe pada Candra. Setiap sore Luna berusaha pulang dan menunggu kepulangan suaminya.
Namun semua udah terlanjur, Alex makin asyik dengan permainannya. Bukannya berubah, sikap Alex makin menjadi.
"Aku harap kamu nggak melakukan kesalahan yang sama dengan Alex. Luna juga sangat percaya kamu seperti dulu ia percaya Alex."
"Aku mendukung Luna memberikan kepercayaan denganmu, karena aku lihat kamu berbeda dari Alex. Kamu berprinsip."
"Aku sudah janji dengan Abang, jika aku nggak akan meninggalkan Luna jika bukan ia sendiri -yang meninggalkan aku," ucap David.
"Udah bangun, tadi aku lihat kamu tidur. Makanya aku dan Candra duduk di sini dulu."
Luna duduk di samping David. Cowok itu memeluk bahu Luna dan mengecup pipinya.
"Aku dengar proses perceraian kamu berjalan lancar. Hanya tinggal menunggu keputusan pengadilan."
"Alhamdulilah, Alex nggak mempersulit semuanya."
__ADS_1
"Kamu mengancam Alex?"
"Menurut kamu?"
"Hati-hati, Luna. Bisa jadi Alex nggak mempersulit proses perceraian, tapi setelah ini ia akan balas dendam. Aku kurang yakin dengan Alex."
"Aku memberikan usaha yang ia kelola sepenuhnya buat Alex. Aku juga memberikan rumah yang pernah kami tempati. Rumah buat orang tuanya juga aku berikan. Apa lagi yang membuat Alex dendam dan sakit hati."
"Mungkin karena kamu yang meminta cerai dengan mengancamnya, Alex merasa harga dirinya diinjak."
"Satu lagi, ia pasti akan dendam dan marah jika nanti semua rekan kerja meninggalkannya. Saat ini ia belum merasakan dampak dari perceraian. Berbeda
saat semua orang tau jika kalian berpisah."
"Aku nggak meminta mereka membatalkan kerja sama."
"Kamu emang nggak meminta. Namun saat mereka sadar jika kamu udah nggak terlibat, pasti satu persatu mereka akan memutuskan kerjasamanya."
Luna dan David mencerna ucapan Candra. Semua ada benarnya. Namun Luna masih berpikir baik, jika Alex nggak akan membalas dendam. Bukankah semua juga karena salahnya?.
*
*
__ADS_1
*
Bersambung.