
Luna membawa dua gelas jus jeruk dan sepiring bolu yang dibuatkan bibi buat cemilan. Luna mengambil Aysha dan meletakan di pangkuan pahanya.
"Mi, au," ucap Aisha menunjuk kue bolu.
"Aisha mau kue. Sini Om suapin. Duduk dekat Om aja ya?" ucap Arash merayu anak Luna.
"Au, Om. Ekat, Om." Aisha mulai mengucapkan kata-kata dengan jelas. Aisha termasuk anak yang pesat perkembangannya.
"Aisha mau dekat, Om. Nanti Om capek. Aisha badannya berat," ucap Luna sengaja untuk membuat Aisha marah dan menangis.
Aisha mulai merengek karena kemauannya tidak dituruti. Aisha memang cukup dekat dengan Arash.
Selain Luna dan Arash, Aisha cuma mau digendong sama anaknya pembantu Luna. Aisha tidak mudah dekat dengan orang, karena Luna yang selalu menjaga jarak. Ia tidak membiarkan sembarang orang menggendong anaknya.
Aisha berpindah ke pangakuan Arash. Dengan telaten pria itu menyuapi kue ke mulut bocah cilik yang sangat cantik itu.
"Apakah minggu depan kita jadi ke Jakarta untuk rapat dengan karyawan kamu."
"Tentu saja. Mungkin aku akan lama di Jakarta. Aku ingin memeriksa beberapa dokumen serta berkas perusahaan. Aku akan memimpin kembali bulan depan."
"Apakah itu berarti kamu akan pindah ke Jakarta dan menetap di sana."
__ADS_1
"Belum aku pikirkan hingga ke sana.Kemungkinan besar, aku emang akan tinggal dan menetap di Jakarta. Kasihan Aisha jika harus bolak balik Jakarta Bali."
"Berarti aku aja yang datangi Aisha ke Jakarta. Aku harap kamu nggak akan bosan menerima tamu sepertiku."
"Pertanyaan kamu ada-ada aja," ucap Luna.
"Siapa tau selama ini kamu keberatan atas kedatangan aku, cuma segan mengusirku."
Luna tersenyum menanggapi ucapan dari Arash. Candra sebenarnya sudah mengingatkan Luna, jangan memberikan harapan pada Arash.
Luna yang tidak ingin Arash tersinggung, memutuskan kembali ke Jakarta. Sudah cukup waktu dua tahun ia bersembunyi.
Selama ini Luna menetap di Bali. Ia hanya keluar negeri empat bulan pertama. Saat kandungannya mulai memasuki usia enam bulan Luna memutuskan kembali ke Indonesia.
Pada saat Luna telah melahirkan, ia semakin bekerja keras untuk perkembangan resort. Saat pelelangan saham perusahaan sebesar lima puluh persen, Arash membelinya sebesar iga puluh persen.
Sejak saat itu Arash dan Luna bertemu. Dari awal bertemu Arash udah tampak mengagumi wanita cantik itu.
Arash makin mendekati Luna setelah mengetahui jika wanita itu berstatus janda.
Setelah satu jam lebih bertemu, Arash pamit. Ia mengecup pipi Aisha.
__ADS_1
"Om, pulang. Besok om belikan boneka lagi Tadi om nggak sempat mampir ke toko," ucap Arash ambil mengisap rambut Aisha.
"Jangan belikan boneka lagi untuk Aisha,bonekanya telah banyak. Setiap bertemu Aisha kamu selalu belikan boneka. Satu kamar di sini penuh dengan boneka Aisha pemberian kamu."
"Aku senang membelikan Aisha."
"Jangan setiap datang, sesekali saja. Aku harap kali tidak tersinggung. Ini karena udah terlalu banyak boneka milik Aisha. Mubazir jika masih membelikan Aisha boneka."
"Baiklah, Luna. Aku mengerti. Aku pamit."
Luna mengantar hingga Arash masuk ke mobil, ia masuk setelah memastikan mobil Arash telah pergi meninggalkan halaman rumahnya.
Luna meletakkan Aisha di tempat tidur. Ia ikut berbaring disamping putri cantiknya itu. Luna berbaring dengan memiringkan tubuhnya menghadap Aisha.
"Sayang, mami kangen banget dengan papi kamu. Apakah ia juga kangen dengan mami dan kamu? Apakah papi kamu masih ingat jika dulu mami pergi membawa kamu di rahim ini," gumam Luna memandangi Aisha yang asyik bermain boneka.
Setiap memandang wajah Aisha, wanita itu pasti akan teringat David. Wajah anaknya yang mirip David, membuat ia tidak bisa melupakan pria itu.
*
*
__ADS_1
*
Bersambung