
Di dalam mobil Luna hanya diam saja. David menjadi heran. Pandangannya kosong ke depan. David menghentikan mobil di tepi jalan dekat persawahan.
"Sayang, kenapa diam aja. Kita jadi mampir ke klinik ya? Dari pagi kamu belum makan." David menyentuh lengan Luna. Membuat istrinya itu kaget dan tersentak dari lamunan.
"Apa ...?" tanya Luna.
"Kita mampir ke klinik dulu. Kepalanya masih pusing'kan?" tanya David lagi.
"Kita pulang aja. Aku mau tiduran. Badanku rasanya capek dan pegal. Mungkin ini masuk angin."
"Tapi kamu harus makan! Baru tidur,ya?"
"Apa aku ini jahat?" tanya Luna tiba-tiba.
"Kenapa kamu berpikir begitu? Siapa yang mengatakan kamu jahat?" tanya David heran. Dia jadi berpikir, apakah ini yang membuat Luna melamun.
"Aku melihat masih ada cinta di mata Mia untukmu. Dia nggak berani menatap kamu. Hanya kesedihan yang tampak dari pandangannya. Aku jahat karena merebut kamu darinya."
"Sayang, apakah ini yang kamu pikirkan dari tadi." David merubah posisi duduknya menghadap Luna. Di pegangnya kedua bahu Luna agar menghadap ke arah dirinya.
"Dengarkan, Sayang. Semua bukan salahmu. Aku yang memutuskan hubungan pertunangan kami. Kamu juga harus percaya takdir. Semua telah di atur. Kita hanya menjalankan apa yang telah di tetapkan Tuhan."
"Aku takut ...," ucap Luna mulai terisak.
"Hai, kenapa menangis. Apa yang kamu takutkan," ucap David membawa Luna ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Aku takut karma. Aku takut Aisha akan mengalami kisah seperti Mia. Aku akan merasa sangat bersalah sebagai ibu jika itu dialami Aisha."
David melonggarkan pelukan dan menangkup wajah Luna yang basah dengan air mata.
"Dengar,Sayang. Nggak ada yang namanya karma. Jika itupun akan dialami Aisha, mungkin itu emang menjadi takdirnya. Kita hanya bisa berdoa semoga semua itu dijauhkan. Jangan terlalu kamu pikirkan."
David kembali memeluk Luna. Ia mengecup pucuk kepala istrinya itu.
"Aku sudah sejak lama ingin putus dengan Mia. Ketika mengenal kamu, keputusan itu makin kuat. Jadi jangan menyalahkan diri sendiri. Jika ada yang salah, aku orang yang paling bersalah, dan bila saat ini Mia nggak bahagia itu bukan salahku, salahmu atau salah siapa pun. Itu semua takdir yang harus dia jalani."
Luna menjauhkan wajahnya dari dada David. Menengadahkan kepala memandangi wajah suaminya itu. David lalu mengecup bibir Luna.
"Kebahagiaan Luna bukan tanggung jawab kita. Jangan menangis lagi. Mana Luna-ku yang tegar. Luna-ku yang mandiri dan pintar. Aku banyak belajar dari kamu, tapi sekarang kamu sedikit berubah. Mudah sedih dan kurang percaya diri."
"Mungkin karena kamu lagi sakit. Makanya kita ke klinik ya."
Luna hanya mengangguk kepalanya tanda setuju. Tapi di dekat kampungku kliniknya hanya dipegang seorang bidan bukan dokter."
"Bidan ...?" tanya Luna.
"Iya, Bidan. Nggak mau ya. Kita pulang aja. Biar kamu diperiksa Dokter," ucap David lagi.
"Bukannya nggak mau. Kamu ngomong Bidan, aku jadi teringat sesuatu."
"Apa, Sayang?" tanya David penasaran.
__ADS_1
"Aku jadi teringat jika bulan ini belum mentruasi."
"Kamu nggak salah, Sayang."
"Nggak, seharusnya seminggu yang lalu aku udah datang bulan."
"Apa kamu hamil?" tanya David dengan antusias dan bahagia.
"Kalau iya, kasihan Aisha. Masih kecil," ucap Luna pelan.
David langsung memeluk erat Luna. Dia bahagia jika memang perkiraan Luna benar, di sedang hamil.
*
*
*
Bersambung
Selamat siang semuanya. Udah mampir ke novel terbaru mama. Jangan lupa mampir ya. Mama juga bawa rekomendasi novel-novel seru lainnya.
__ADS_1