HASRAT TERLARANG GIGOLO

HASRAT TERLARANG GIGOLO
Bab Empat Puluh Empat. HTG


__ADS_3

David membalikkan badannya dan kaget melihat Mia yang masih berdiri di belakangnya.


"Kamu masih di sini?"


"Dengan siapa kamu tadi menelepon?"


"Apa kamu tadi menguping pembicaraanku?"


"Siapa yang hamil? Mbak Luna?"


"Jadi benar kamu menguping tadi? Mia, Mia, ternyata selama ini aku belum mengenalmu. Kamu nggak sebaik yang aku pikir. Aku tertipu dengan penampilan kamu selama ini."


"Aku atau kamu yang tertipu. Aku pikir selama ini kamu cowok yang bisa dibanggakan, ternyata sama saja dengan yang lain. Tergoda dengan uang dan paha mulus."


"Pergilah, Mia. Jangan membuat aku melakukan sesuatu yang nggak diinginkan."


Tanpa berkata apa-apa Mia pergi dari hadapan David. Air matanya tumpah saat diperjalanan menuju rumahnya.


Mia berhenti di ladang seseorang yang ia lewati. Ia menumpahkan tangisnya di bawah sebuah pohon.


Kamu jahat,David.Kamu tega melakukan ini padaku. Apa kurangnya aku, selama ini aku telah melakukan semua yang terbaik. Aku pikir kamu mencintaiku, seperti aku mencintaimu. Apa aku harus menyerah saja? Ada anak diantara mereka. Apakah itu benar anaknya David?


Satu jam lebih Mia menangis di bawah pohon, setelah langit tampak gelap, ia beranjak pergi. Mia kembali mengayuh sepedanya pulang.

__ADS_1


David menemui ibunya kembali. Ia melihat ibunya yang sedang termenung. David mendekati.


"Bu, ada yang ingin aku sampaikan."


"Apa ...? Jika itu mengenai putusnya hubungan kamu Dan Mia, ibu nggak mau dengar."


"Bu, aku dan Mia itu sudah nggak ada kecocokan. Jika dipertahankan juga nggak akan baik. Kami pasti akan saling menyakiti dan terluka."


"Apa yang membuat kamu nggak cocok dengan Mia? Dia gadis yang baik, pintar dan cantik. Banyak pria di kampung ini yang menyukai Mia. Seharusnya kamu bersyukur, Mia memilih kamu diantara banyak pria yang mengejar cintanya."


"Bu, Mia emang cantik. Namun, bukan berarti semua pria akan tertarik. Selama ini aku mencoba bertahan demi ibu. Aku berusaha menumbuhkan cinta dengan setiap saat bertemu." David menarik napasnya sebelum melanjutkan ucapannya.


Ia kesulitan mencari rangkaian kata yang nggak membuat ibunya jadi marah. David ingin Ibunya bisa menerima keputusannya saat ini.


"Cinta itu dari hati bukan mata. Cantik bukan berarti semua orang bisa menyukai atau mencintainya. Cinta yang dipaksakan nggak akan baik."


"Ibu, Cinta sejati akan selalu temukan jalan.


Tak perlu berusaha keras untuk mendapatkan cinta karena percuma berusaha jika ia tidak memiliki perasaan yang sama. Cinta yang baik itu saling memiliki perasaan bukan hanya salah satunya saja."


"Sudah, cukup!! Ibu nggak mau dengar lagi."


"Baiklah, Bu. Tapi besok kita harus bicara lagi. Dengan Mia sekalian."

__ADS_1


David meninggalkan kamar Ibu. Ia tidak ingin membuat ibu marah dan akan menambah penyakit bagi ibunya.


David masuk ke kamar dan kembali menghubungi Luna. Wanitanya itu tadi mengirim pesan akan menyusul David ke kampungnya.


Perjalanan dari Jakarta menuju kampungnya memakan waktu delapan jam. David minta Luna langsung mencari penginapan yang terdekat jika telah sampai.


Kembali David mencoba menghubungi ponsel Luna, wanitanya itu. Setelah beberapa saat terdengar suara Luna menyahut.


"Sayang, udah berangkat."


"Sudah, ini lagi diperjalanan."


"Katakan sama supir, hati-hati,jangan ngebut. Setelah sampai tujuan jangan lupa beri kabar."


"Iya, nanti pasti aku kabari."


David menutup sambungan ponselnya. Ia berbaring dengan pandangan tidak lepas dari langit kamar.


Rasanya nggak percaya jika aku akan menjadi seorang ayah. Aku harap ibu bisa menerima Luna dan calon bayiku.


*


*

__ADS_1


*


Bersambung


__ADS_2