
Luna dan David menunggu kedatangan Mia dan suaminya Doni. David memesan makanan buat Luna.
"Makanlah, dari pagi kamu nggak ada makan. Nanti perutnya sakit," ucap David.
"Aku nggak selera."
"Habis dari sini kita ke klinik ya. Periksa. Aku takut kamu sakit."
"Aku nggak apa-apa. Cuma lagi nggak selera makan aja."
"Kalau aku makan mau?" ucap David sambil mengecup pipi Luna.
"Kamu pikirannya mesum aja," ucap Luna dan memeluk lengan David. Ia menyandarkan kepalanya di bahu David.
David memukul pelan pipi Luna dan kembali mengecupnya. Pengunjung lain melirik ke arah mereka. David tidak peduli jika pengunjung lain menatapnya. Bukankah Luna istrinya, itu yang ada di pikiran David.
Saat sedang bermesraan, Doni dan Mia muncul. David dan Luna tidak menyadari kedatangan mereka.
"Hhhhmmmmm ...." dehem Doni.
David dan Luna serempak Memandang. Mia hanya diam berdiri di samping Doni.
"Maaf, aku nggak tau kalian udah datang. Duduklah ...," ucap David
"Gimana mau sadar, kalian asyik bermesraan aja," ucap Doni.
__ADS_1
"Kemesraan itu harus, agar pasangan kita bahagia dan merasa dicintai," ujar David.
Doni dan Mia duduk berhadapan dengan David serta Luna. David memesan makanan buat mereka berempat.
Berempat mereka hanya saling berpandangan. Belum ada yang memulai percakapan.
"Apa kabar kamu,Mia?" tanya David akhirnya membuka suara.
"Baik," jawab Mia singkat.
"Aku sengaja meminta Doni untuk mengajak kamu, bertemu aku dan Luna." David menarik napasnya sebelum melanjutkan ucapannya.
"Aku ingin Doni nggak salah paham lagi denganku. Sebelumnya aku ingin bertanya denganmu,Mia. Maaf jika pertanyaan aku ini agak mengganggu kamu."
"Apa benar yang Doni katakan, jika kamu masih menyimpan semua barang pemberian aku dulu. Bukan itu saja, kamu juga masih menyimpan fito-foto kita dulu. Apa itu benar,Mia?" tanya David.
"Betul. Namun itu nggak seperti kamu pikirkan," ucap Mia.
"Emang kamu tau apa yang aku pikirkan?" tanya David. Dia memandangi Luna dan tersenyum.
"Aku menyimpannya juga nggak sengaja. Dari dulu, saat kita masih berhubungan itu juga udah ditempat yang sama. Aku hanya lupa membuangnya."
"Seharusnya kamu membuang semua itu saat kita memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita."
"Aku masih menyimpannya karena nggak ingin mubazir. Baju serta buku yang kamu beri itu masih bisa digunakan."
__ADS_1
"Bagaimana dengan foto.Untuk apa kamu masih menyimpannya?" ucap Doni.
"Mas Doni, kita udah berulang kali bahas ini. Aku dan David sudah nggak ada hubungan. Mas bisa tanyakan sendiri dengan David saat ini."
"Doni benar, Mia. Untuk apa kamu masih menyimpan foto-foto kita berdua. Jika aku yang berada di posisi Doni, aku juga akan cemburu dan salah paham jika Luna masih menyimpan barang pemberian mantannya dan juga foto-foto mereka. Aku mungkin akan lebih cemburu dari Doni. Melihat pria lain melirik Luna aja, aku cemburu," ucap David. Dia menggenggam tangan Luna.
"Aku udah membakarnya,Mas."
"Aku yang memaksa. Awalnya kamu juga nggak mau. Kamu menuduh aku cemburu buta."
"Emang Mas itu cemburu buta. Aku dan David nggak ada hubungan apa-apa. David sangat mencintai Mbak Luna. Dia nggak mungkin berhubungan denganku lagi," ucap Mia dengan terbata. Tampak air sudah menganak sungai di sudut matanya.
"Apa yang dikatakan Mia itu benar, Doni. Sejak aku memutuskan pertunangan dengan Mia, aku nggak ada bertemu ataupun berkomunikasi lagi dengannya. Jika aku mau menjalin hubungan dengan Mia, itu bisa saja aku lakukan." David menjeda ucapannya.
"Aku dan Luna sempat terpisah. Namun aku tetap setia menantinya. Jika aku mau, bisa saja aku kembali berhubungan dengan Mia saat Luna jauh. Tapi itu nggak aku lakukan, karena aku sangat mencintai Luna. Nggak terpikir mencari ganti lagi," Ucap David, ia memandangi Luna dengan tersenyum manis.
Setelah mengucapkan itu, David mengecup pipi Luna. Wanita itu tampak malu. Wajahnya memerah. David terkadang memang tidak tahu tempat. Jika ingin mengecupnya.
*
*
*
Bersambung
__ADS_1