HASRAT TERLARANG GIGOLO

HASRAT TERLARANG GIGOLO
Bab Seratus Sembilan Belas. HTG.


__ADS_3

Rumah kediaman orang tua David tampak ramai dengan para tamu undangan yang mulai berdatangan.


Pada pagi hari, acara akan dimulai dengan pengajian, sebagai syukuran empat bulan kehamilan Luna.


Tamu undangan di pagi hari ibu-ibu pengajian mesjid sekitar rumah David. Ditambah dengan anak dari panti asuhan.


Luna dan David telah duduk rapi menyambut para tamu. Mereka telah siap menunggu acara di mulai.


Acara dimulai dengan pengajian, kata sambutan dari Tuan Rumah, pengajian dan tausyiah.


David maju untuk memberikan kata sambutan.


"Selamat pagi, Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih banyak kepada Para tamu yang sudah menyempatkan waktunya untuk hadir memenuhi undangan kami.


Tujuan kami mengundang Bapak /Ibu dan adik-adik semuanya adalah berhubungan dengan Istri saya yang InsyaAllah pada hari ini sedang mengandung anak kami yang ke dua serta ketiga, karena istri saya diberi kepercayaan langsung hamil dua anak, yang sudah memasuki usia kehamilan yang ke empat bulan.


Dengan segala kerendahan hati, saya sekeluarga memohon doa restu pada semua tamu undangan, untuk calon bayi dan ibunya. Semoga Tuhan memberikan kesehatan kepada bayi kami, memudahkan kelahirannya kelak, selamat bayi & ibunya tidak kekurangan apapun. Semoga kelak tumbuh menjadi anak yang sholeh/sholehah, pintar, sehat jasmani-rohannya, berguna bagi agama, orang tua, dan masyarakat. Amin…


Selanjutnya saya sebagai tuan rumah juga meminta maaf apabila dalam memberi sambutan tempat dan jamuan terdapat kekurangan."


Kiranya cukup dari saya, apabila ada tutur kata yang kurang berkenan, saya mohon maaf yang sebesar - besarnya. Selanjutnya untuk memimpin Do'a saya serahkan kepada Bapak Ustad. Terima kasih."


Acara dilanjutkan hingga tiba waktunya makan bagi seluruh tamu undangan.


Untuk suvenir bagi anak yatim, Luna memberikan mukena bagi cewek dan sarung buat anak cowok.


__ADS_1



Ketika antri makanan para tetangga pada berbisik jika menu makanannya sangat mewah.


Ibu Mia yang juga ada di antara ibu-ibu tetangga hanya diam saja tidak menanggapi.


"Ibu Mia, mau makan apa kita. Menu nya banyak banget."


"Aku makan dikit aja. Tadi juga udah sarapan," jawab Ibu Mia.


Ibu-ibu yang lain berbisik mendengar jawaban Ibu Mia.


"Paling Ibu Mia malu, karena pesta anaknya tidak semewah ini."


"Bu Joko, kata Ibu Ani suvenir yang akan diberikan besar, dan mewah. Makanya aku nggak sabaran datang pagi aja. Nanti kalau nggak malu datang siang lagi. Biar dapatnya dua," ucap Ibu itu tertawa.


Kak Imelda memberikan dua bingkisan buat masing-masing.


"Ini apa, Imel? Dua kotak untuk kami," tanya ibu yang paling julid.


"Satu nasi kotak dan satu lagi bingkisan ucapan terima kasih dari Luna atas kehadiran ibu-ibu yang telah memberikannya doa."



"Alhamdulillah, semoga rezeki David dan Mbak Luna makin lancar. Biar sering-sering buat hajatan di desa," ucap Ibu yang satunya.


"Aamiin. Terima kasih ibu-ibu atas kehadiran dan doanya," ucap David dan Luna.

__ADS_1



Tiba giliran ibu Mia mengucapkan salam, ibu-ibu tetangga pada berbisik.


"Selamat ya atas kehamilannya. Semoga sehat dan lancar hingga persalinan," ucap Ibu Mia saat menyalami Luna.


"Terima kasih, Bu. Atas doanya."


Ibu Mia juga menyalami Imel dan Ibu David. Ibu David meminta agar Ibu Mia duduk dulu sebagai tuan rumah.


"Kenapa cepat pulangnya. Di sini aja dulu. Kamu udah seperti keluarga. Anggap aja kamu juga tuan rumah," ucap Ibu David.


"Kepalaku sedikit pusing, Kak. Aku istirahat dulu. Nanti kaalu pusingnya udah hilang, aku datang lagi."


"Betul, ya. Anggap aja rumah sendiri. Dari kemarin aku udah menunggu kamu datang buat bantu-bantu," ucap Ibu David.


"Sejak kemarin kepalaku udah pusing. Makanya di rumah aja."


"Kalau gitu, istirahatlah. Jangan lupa minum obatnya."


Ibu Mia pamit pulang, dengan tergesa dia berjalan meninggalkan rumah Ibu David yang suasananya makin ramai.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2